PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu mengadakan kontes Batu Akik atau Batu Mulia di Bencoolen Indah Mall (BIM) Kamis (4/7/2019). Kontes tersebut dalam rangka memeriahkan Haru Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara yang ke 73 tahun 2019.

Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Supratman mengatakan dipilihnya kontes batu mulia ini karena seperti diketahui bersama Provinsi Bengkulu untuk kualitas batu akik tidak kalah dengan batu-batu daerah lainnya, bahkan Batu Bengkulu pernah booming dengan batu Rafflessianya beberapa tahun lalu dan sekarang sudah mulai mundur dan sepi.

“Nah kondisi sepi ini kita galakkan lagi, kita coba event-event seperti ini, kebetulan dalam rangka hari Bhayangkara ke 73,” ujar Kapolda.

Dengan adanya Event ini, kata Kapolda, ternyata animo masyarakat cukup banyak bahkan dari luar Kota. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini akan muncul kembali eksistensi batu mulia yang dimiliki Bengkulu, dan Bengkulu menjadi perhatian salah satunya Batu Akik.

Menurut Kapolda kegiatan ini juga akan berpengaruh dengan meningkatnya perekonomian di Bengkulu sekaligus memperkenalkan destinasi wisata Bengkulu, karena peserta yang ikut dalam turnamen batu akik tersebut banyak dari luar daerah seperti Bandung, Tulung Agung, Jogja, Pekan Baru dan daerah lainnya.

“Otomatis dengan begitu perekonomian akan meningkat, pariwisata juga akan meningkat,” kata Kapolda.

Pada turnamen Kapolda Cup ini juga diadakan lelang batu akik dan Kapolda mengungkapkan uang hasil dari lelang tersebut akan disumbangkan.

“Uangnya kita sumbangkan nanti, ada beberapa mungkin Masjid, bisa juga yayasan dan segala macam,” jelas Kapolda.

Sementara salah satu juri asal Yogyakarta, Raden Tumenggung Budi Adipuro, mengatakan untuk teknis perlombaan setiap batu berbeda-beda secara garis besar di bagi dua yaitu batu beningan sama batu bergambar. Batu Beningan tetap mengadopsi sistem penilaian yang internasional, seperti warna, kebersihannya, dan potongannya asli atau tidak karena biasanya ada bikinan dan lain-lain.

Sedangkan untuk batu gambar penilaiannya cukup banyak seperi penilaian gambarnya yang harus membentuk objek tujuannya misalnya gambar binatang maka ganbarnya harus mendekati menyerupai dengan visual tampak batu gambar.

“Kita juga bedakan karena sekarang banyak beredar dan bumingnya batu gambar jadi orang banyak yang bikin. Jadi kami bertugas dibantu lab untuk mengecek itu, karena ini pertandingan besar batu yang bertanding ini ada yang harganya Rp200 juta, Rp300 juta bahkan 1 miliar. Biasanya itu batu bening dan batu gambar,” ucap Raden Tumenggung.

Ia mengungkapkan Batu Akik asal Bengkulu yakni Rafflessia merupakan batu mahal karena dari warnanya dan harga Bengkulu batu Rafflessia sangat bergengsi karena warnanya lebih bagus.

“Jadi batu Bengkulu yang pernah saya dengar ada yang sampai ratusan juga kalau warnanya bagus dia mahal sekali. Batu Bengkulu ini bersaing dia lawannya hanya ada satu batu dari pacitan, tapi kalau warna menang Bengkulu makanya harga batu Rafflessia lebih tinggi,” ungkap Raden Tumenggung.

Sementara, sambung Raden Tumenggung, untuk peserta belum diketahui totalnya tetapi yang turun saat ini adalah petarung-petarung dan petanding besar dari seluruh Indonesia, ini merupakan event terbesar. Diprekdisikan ribuan batu yang akan dipertandingkan.

“Karena pemain-pemain besar se Indonesia turun semua jadi kolektor-kolektor raksasa itu turun, dia per Provinsi-provinsi,” terang Raden Tumenggung.

Juri dalam turnamen ini, lanjut Raden Tumenggung, ada 6 orang yang berasal dari luar daerah dan satu asli dari Bengkulu. Dalam penilaian setiap juri ada bidang bidangnya.

“Memang basicnya semua bisa tapi untuk pemain yang ini di skup lagi di bedakan lagi ada tiga juri gambar dan tiga juri beningan, jadi tidak boleh di gabung karena untuk penglihatannya berbeda kalau saya juri batu gambar,” jelas Raden Tumenggung.

Ditambahkan Raden Tumenggung, dalam turnamen ini hadiah umumnya 80 juta rupiah dan ada untuk kelas anggota 6 juta dan dorprizenya sepeda motor. [Anto]