Zulfanisa

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Hari terakhir pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi untuk Sekolah Menengah ke Atas (SMA) membuat calon peserta didik baru bingung. Hal tersebut, dialami oleh Zulfanisa salah satu peserta didik baru, Kamis (11/7/2019).

Zulfanisa merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Kota Bengkulu.

Ia mengatakan bahwa pendaftaran hari terakhir dengan sistem zonasi sangat ribet, apalagi Zulfanisa mendaftar lewat jalur prestasi.

“Sistemnya agak ribet, karena semuanya harus dilegalisir ke Capil,” kata Zulfanisa.

Lanjut Zulfanisa, bahwa sistem zonasi ini merugikannya, Sebab, setelah mendaftar ke sekolah yang dituju, ia akhirnya terbuang.

“Setelah daftar ke sekolah, akhirnya kecempak (terbuang, red),” kata Zulfanisa dalam bahasa Bengkulu.

Zulfanisa merupakan lulusan SMPN 7 Kota Bengkulu, yang kemudian ingin mendaftar ke SMAN 9 Kota Bengkulu. Diketahui, PPDB jalur sistem zonasi akan ditutup pukul 16.00 WIB nanti.

Sedangkan menurut Bidang Sekolah Menengah Atas, Zahirman Aidi mengatakan bahwa sistem zonasi ini, nanti pihak sekolah harus melaporkan daya tampung sekolah, sudah terpenuhi atau belum. Nantinya diharapkan, sekolah yang masih mempunyai daya tampung kurang akan menampung calon siswa yang tidak lolos jalur PPDB sebelumnya.

“Nanti pihak Sekolah melaporkan besaran daya tampung sekolah, gunanya untuk calon siswa yang tidak lolos jalur PPDB sebelumnya akan di masukkan ke sekolah yang daya tampungnya kurang,” kata Zahirman.

Selain itu, Zahirman juga mengatakan pihaknya akan membuat posko penanganan calon siswa yang belum tertampung di Kantor Disdikbud Provinsi.

“Kita akan buat Posko buat penanganan calon siswa yang belum tertampung,” tutup Zahirman.

Dikutip dari akun resmi Kemendikbud, pelaksanaan PPDB 2019 ini masih mengacu pada peraturan tentang PPDB Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai sistem zonasi ini, diantaranya:

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

2. Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan padaalamat pada kartu keluarga (KK) yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

3. Radius zona terdekat dalam sistem zonasi ditetapkan oleh pemda sesuai dengan kondisi di daerah tersebut dengan memperhatikan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut; dan jumlah ketersediaan daya tampung sekolah.

4. Penetapan radius zona pada sistem zonasi ditentukan oleh pemda dengan melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala sekolah.

5. Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase penerimaan siswa dan radius zona terdekat dapat ditetapkan melalui kesepakatan tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.

6. Calon siswa di luar zonasi dapat diterima melalui beberapa cara yakni:
a. Melalui jalur prestasi dengan kuota paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
b. Alasan perpindahan domisili orangtua/wali atau alasan terjadi bencana alam/sosial dengan paling banyak 5% (lima persen) dari total keseluruhan siswa yang diterima.

7. Sistem zonasi menjadi prioritas utama atau terpenting dalam PPDB jenjang SMP dan SMA. Setelah seleksi zonasi baru kemudian dipertimbangkan hasil seleksi ujian tingkat SD atau hasil ujian nasional SMP untuk tingkat SMA.

8. Untuk jenjang SD, sistem zonasi menjadi pertimbangan seleksi tahap kedua setelah faktor minimum usia masuk sekolah sudah terpenuhi. Sedangkan bagi SMK sama sekali tidak terikat mengikuti sistem zonasi. [Medi Muamar]