PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu menggelar seminar Kependudukan dalam rangka memperingati Hari Kependudukan Dunia, Kamis (15/8) di Kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Seminar dengan tema “Mengurangi Unmet Need KB, Angka Kematian Ibu, Menurunkan TFR serta Memanfaatkan Bonus Demografi di Provinsi Bengkulu” ini menghadirkan Deputi Bidang KBKR BKKBN RI, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.sc, Dip.Com dan Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Prof. Sri Moertiningsih Adioetomo, SE, MA, PhD sebagai Narasumber.

Dalam arahannya, Deputi Bidang KBKR BKKBN RI mengatakan bahwa pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di Provinsi Bengkulu dinilai terbaik nomor dua secara nasional dari segi angka kelahiran total (total fertility rate – TFR) maupun tingkat kepesertaan KB.

“Pelaksanaan program KB di Provinsi Bengkulu dilihat dari hasil survei demografi kesehatan ibu (SDKI) tahun 2017 patut diacungi jempol dengan TFR 2,3 di bawah TFR nasional 2,4,” ujar Dwi Listyawardani yang langsung disambut dengan tepuk tangan dari seluruh tamu undangan.

Serta yang paling menggembirakan, angka penggunaan alat kontrasepsi di Provinsi Bengkulu sudah mencapai 71,6% dan Unmet Need atau angka kebutuhan KB yang belum terpenuhi di posisi 7 %.

Deputi Bidang KBKR BKKBN RI, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.sc, Dip.Com

“Angka tersebut menempatkan Provinsi Bengkulu sebagai Provinsi terbaik kedua secara Nasional,” sampainya.

Lebih lanjut Wanita kelahiran Bogor 4 September 1961 ini meminta pencapaian tersebut lebih meningkat pada masa mendatang, sebagai wujud kontribusi nyata Provinsi Bengkulu dalam menunjang pelaksanaan Program KB Nasional, hingga pertumbuhan penduduk dapat ditekan melalui pemahaman tentang program KB di tengah masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Busmar Edisyaf, SP, MM, menyampaikan bahwa pihaknya akan mengintegrasikan program pembangunan kependudukan dengan mengacu beberapa strategi. Di antaranya meningkatkan dan memeratakan akses pelayanan KB yang lebih merata dan berkualitas, menyasar daerah terpencil dan melakukan pelayanan KB MKJP bergerak dengan target pasangan usia subur. [Nurhas]