PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu sedang megusut kasus jual beli tanah hibah Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu yang terletak di kawasan RT 13 Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu dan saat ini dalam proses penyelidikan.

Diduga tanah dengan luas sekitar 62 hektar lebih tersebut dijualbelikan oleh salah satu oknum tidak bertanggung jawab.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu Emilwan Ridwan SH MH, saat diwawancarai di Kantor Kejari Bengkulu, Senin (5/8/2019) membenarkan bahwa pihaknya tengah mengusut kasus tersebut dan masih dalam proses penyelidikan.

“Kita memanggil tiga orang, namun yang bisa datang untuk kita mintai keterangan dua orang yaitu pak Farizal yang dulunya Ketua RT 13, Bentiring, kemudian bapak Saifudin yang dulunya juru bayar di pemerintahan,” terang Emilwan.

Dijelaskan Emilwan Ridwan, ini terkait penjualan aset yang saat ini dalam penyelidikan. Berdasarkan catatan yang didapat Kejari luas tanah sekitar 62 hektar. Dan sementara ini tim penyelidik Kejari masih mengumpulkan alat bukti dalam kasus tersebut. Kejari akan terus memanggil pihak yang berkaitan dengan perihal ini.

“Kalau kita lihat luas tanah kita bisa menghitung kerugian negara. Tapi paling tidak kita bisa memberikan gambaran. Kalau aset dikuasai secara tidak benar mungkin kita akan minta bantuan pihak pemeriksa BPK atau BPKP,” ungkap Emilwan.

Sementara itu, Farizal mantan Ketua RT 13 Kelurahan Bentiring usai dimintai keterangan mengatakan sekitar 20 pertanyaan yang disampaikan pihak Kejari. Inti dari pertanyaan itu terkait aset tanah Korpri yang berada di Kelurahan Bentiring seluas 62 hektar

“Termasuk yang terletak di perumahan guru RT 13 itu ada tanah Fasilitas umum yang kami minta sekarang dikembalikan fungsi awal yaitu pembangunan Masjid dan Tempat Pemakaman Umum,” kata Farizal.

Diterangkan Farizal, berdasarkan pembukuan dari BPN tanah tersebut dihibahkan pada tahun 1995 silam.

“Indikasi penjalannya tadi sekitar 2016. Yang terindikasi oknum-oknum tidak bertanggung jawab itu lah. Dari kwitansi ada namanya DA selaku pengembang,” beber Farizal.

Farizal berharap untuk tanah pasung di RT 13 dapat dikembalikan ke fungsi awal yaitu Masjid dan Tempat Pemakaman Umum. Dia juga berharap agar aset Kota Bengkulu kembali ke fungsi awal sebagai aset Kota.

“Kami sangat mendukung Kejari bagi siapa saja yang melanggar hukum saya harap pemerintah menindak secara hukum,” tegas Fariza. [ Anto ]