Mesi Tri Jayanti Mahasiswi Universitas Bengkulu

Tanggal 17 Agustus baru saja berlalu. Tercatat dalam sejarah bahwa sudah 74 tahun lamanya Indonesia merdeka sejak tahun 1945 lalu. Berbagai perayaan dalam menyambut kemerdeaan yang begitu meriah telah dilakukan diberbagai pelosok negeri ini. Bahkan, Indonesia menjadi saah satu negara dengan perayaan selebrasi hari kemerdekaan termeriah di dunia. (www.kompas.com)

Perlombaan khas dan unik yang kerap diadakan ternyata menjadi daya terik tersendiri bukan hanya bagi masyarakat lokal bahkan juga bagi pendatang. Terutama permainan yang tak pernah ketinggalan yaitu Panjat Pinang, yang membuat peserta harus memanjat tiang tinggi yang diibaratkan pohon untuk mendapatkan hadiah di atas puncaknya. Perlombaan ini secara tradisi dinilai sebagai representasi dari kerja sama dan perlawanan terhadap pemerintah Belanda pada masa penjajahan dulu. Sebab, tidak semudah itu untuk memanjat pohon dan mendapatkan hadiah. Pohon akan dilumuri oli sehingga membuat batang pohon menjadi licin dan sulit untuk dipanjat.

Hampir setiap rumah warga tidak ada satu pun yang terlewati tanpa bendera merah putih di halaman rumahnya, sebagai symbol kebanggaan atas kemerdekaan yang telah diraih. Indonesia memang sudah lama terbebas dari penjajahan secara fisik oleh negara lain dan tidak lagi mengalami peperangan dengan cara angkat senjata. Namun demikian, apakah sungguh bumi pertiwi ini sejatinya bisa dikatakan sudah merdeka?

Indonesia tersohor sebagai negara yang mempunyai sumber daya alam melimpah, kaya akan tanah yang subur dan makmur, serta terletak di garis khatulistiwa yang membuat Indonesia bahkan dikatakan seupama tanah surga.

Namun herannya kemiskinan masih melilit rakyat yang hidup di dalamnya. Bak penyakit yang tidak ditemukan ada obatnya. Banyak anak-anak negeri yang tidak bisa mengenyam pendidikan berkualitas, mahalnya biaya hidup dan biaya kesehatan, maraknya kebijakan impor yang merugikan rakyat, ditambah lagi negeri yang kaya ini terus dililit hutang yang secara tidak langsung hutang merupakan bentuk penjajahan ekonomi yang membuat negeri ini terperosok pada berbagai polemik pelik dalam bidang ekonomi.

Disamping itu, jika kita melirik satupersatu dalam bidang politik, sosial budaya, hukum, dan hankam, semua masih berada di bawah pengaruh asing sehingga membuat negeri ini dalam posisi negara pengekor.

Termasuk penjajahan secara pemikiran yang sedang melanda umat saat ini, justru lebih berbahaya daripada penjajahan fisik. Penjajahan secara pemikiran yang menyebarkan paham sekularisme dengan mudah terjangkit melalui media informasi dan telah berhasil merusak banyak generasi.

Adanya konsep nation state, nasionalisme dan penerapan sistem sekuler demokrasi adalah jalan neokolonialisme dan neoimprealisme yang sengaja dibuat oleh penjajah untuk melanggengkan penjajahan secara nonmiliteristik.

Oleh karena itu, sepatutnya kita tidak hanya diam sekedar menerima hasil perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan Indonesia dimasa lampau. Sangat penting untuk kita memahami makna kemerdekaan dan mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi negeri ini. sebab kemerdekaan bukan hanya menyangkut hal fisik semata.

Dalam Islam, kemerdekaan hakiki merupakan keadaan disaat kita terbebas dari segala bentuk penghambaan terhadap makhluk menuju penghabaan secara totalitas hanya kepada Allah SWT. Sebagaimana Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT, memberantas kezaliman, dan menegakkan keadilan berdasarkan aturan yang bersumber dari wahyuNya.

Kecintaan dan kebanggan terhadap negeri ini tidak cukup dengan hanya sebatas kecintaan simbolik dan ceremonial belaka, melainkan harus benar-benar diwujudkan berupa perjuangan untuk membuat Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Terus memerdekakan diri hingga tercapai kemerdekaan hakiki dan kembali menjadi umat terbaik merupakan suatu kewajiban. Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki kecuali kembali kepada Islam. Mengambil Islam sebagai jalan hidup dan solusi atas setiap problem kehidupan yang dihadapi, serta hidup dalam naungan syariatNya. Wallahu a’alam.

Mesi Tri Jayanti Mahasiswi Universitas Bengkulu