PedomanBengkulu.com Bengkulu — Hiruk pikuk perayaan kemerdekan Republik Indonesia ke 74 di Bengkulu khususnya dimeriahkan dengan berbagai kegiatan perlombaan dan kegiatan unik lainnya dalam rangka memeriahkan acara tahunan yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus tepat saat Indonesia memproklamirkan diri menjadi sebagai sebuah bangsa yang berdiri diatas kemerdekaan dalam menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan kolonialisme.

Perayaan kemerdekaan tidak terlepas dari ungkapan rasa Nasionalisme Masyarakat Indonesia untuk menghargai dan mengenang para pahlawan pejuang bangsa yang rela menumpahkan setiap tetes darah, keringat dan air mata untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka atas segala penjajahan kolonial.

Namun dibalik perayaan kemerdekaan ada hal-hal kebudayaan yang sering kita lupakan, perayaan kemerdekaan yang harusnya menjadi momentum evaluasi capaian pasca Indonesia merdeka namun sering kita warnai dengan kegiatan seremonial warisan Kolonial Belanda.

Kemerdekaan harusnya menjadi momentum merefleksi rasa persatuan yang semakin memudar, kemiskinan yang semakin akut, pendidikan yang masih sulit diakses, jaminan kesehatan yang timpang dan kedaulatan bangsa yang terancam.

Kegiatan dalam perayaan kemerdekaan sejatinya harus mengedukasi masyarakat Indonesia tentang spirit kemerdekaan yang sesungguhnya yang sudah tercantum dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Kita contohkan di Meksiko ketika perayaan kemerdekaan masyarakatnya turun ke jalan sambil meneriakkan “Grito De Doloers”, teriakan ini yang dipakai pada saat melawan jajahan Spanyol oleh tentara Meksiko. Sedangkan di Afrika merayakan kemerdekaan dengan mengundang teman atau keluarga untuk bersama-sama menyantap daging panggang.

Melihat perayaan kemerdekaan ala Afrika saya teringat perayaan beberapa perayaan kemerdekan di Bengkulu, ada yang merayakan dengan makan bersama dan ada yang merayakan dengan lomba panjat pinang. Mari kita bedah satu-persatu secara historis akar kebudayaan dari dua macam perayaan kemerdekaan tersebut.

Makan Bersama

Makan bersama telah menjadi tradisi asli  masyarakat Indonesia sejak dulu. Di setiap daerah, tradisi ini punya ciri khasnya sendiri. Kalau untuk di Bengkulu sering disebut makan besamo.

Biasanya tradisi makan bersama dihadirkan untuk memperat rasa persatuan dan jalinan kebersamaan dari keluarga, maupun kelompok masyarakat. Beberapa daerah di Indonesia, punya tradisi makan bersama dengan latar budaya dan alasan yang berbeda.Tradisi makan bersama sudah dilakukan turun temurun di berbagai wilayah Indonesia.

Dari Jawa Barat ada Tradisi makan bersama namanya Bancakan. Tradisi ini dilakukan untuk menjalin keakraban satu sama lain. Biasanya bancakan dilakukan secara lesehan, dengan makan beralaskan daun pisang yang panjang secara bersama-sama.

Menurut filosofinya, bancakan sering digambarkan sebagai wujud ucapan rasa syukur terutama ketika memperingati kelahiran Anak. Atau bisa dijadikan sebagai momen syukuran.

Di Luwu Utara, Sulawesi Selatan ada tradisi makan bersama yang unik dan belum dikenal banyak orang. Tradisi makan ini disebut ‘Manre Sappera’, yang digelar untuk membacakan doa syukur atas keberhasilan panen hasil bumi. Uniknya, setiap orang membawa makanan masing-masing dari rumah, dan saling bertukar lauk pauk ketika makan bersama.

Makannya menggunakan alas daun pisang atau kertas nasi. Manre sappera biasanya dibarengi dengan tradisi ‘Tudang Sipulung‘, yang memiliki artian kumpul bersama. Sementara Manre Sappera memiliki artian makan bersama.

Perayaan kemerdekaan dengan makan bersama tentu senafas dengan cita-cita kemerdekaan, dimana kemerdekaan adalah untuk mempererat rasa persatuan sesama anak bangsa yang dipecah belah oleh kolonial.

Bangsa kita saat ini sedang dirundung masalah, perpecahan antar anak bangsa dari berbagai suku dan agama mulai terjadi. Adu domba semacam ini yang saat ini terjadi tentu bukan diciptakan oleh kolonialisme namun diciptakan oleh jajahan gaya baru yaitu imperialisme yang menjajah secara sistem.

Penting untuk kembali menghidupkan persatuan rakyat indonesia dengan merawat kebudayan yang ada, setelah bersatu kemudian kita bangun kesadaran bersama melawan jajahan gaya baru imperialisme yang sudah merenggut cita-cita mulia Indonesia merdeka yang didalamnya masyarakat hidup adil, makmur dan sejahtera.

Lomba Panjat Pinang

Salah satu lomba yang kerap muncul saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia adalah Panjat Pinang. Lomba ini mengharuskan setiap tim untuk bekerja sama memanjat tiang agar dapat mengambil hadiah yang digantung di ujung atas tiang.

Namun, yang membuatnya menarik adalah adanya minyak atau lumpur yang melumuri seluruh bagian tiang. Sehingga membuatnya menjadi licin untuk dipanjat.

Tak jarang kejadian-kejadian lucu sering terjadi dan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menonton. Saking seringnya ada di lomba 17 Agustus-an, lomba ini dianggap asli Indonesia.

Tapi jika Anda pernah menonton serial Para Pencari Tuhan yang diproduksi Deddy Mizwar, ada satu adegan ketika usulan memasukkan panjat pinang dalam daftar lomba 17 Agustus-an ditolak.

Ternyata, lomba yang sudah turun temurun itu bukan asli Indonesia, justru ada sejarah menyedihkan dibaliknya. Lomba panjat pinang sebenarnya mulai masuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Orang Belanda menyebutnya dengan De Klimmast yang berarti panjat tiang.

Jika sekarang di Indonesia lomba itu dilakukan pada 17 Agustus, bangsa Belanda biasanya melakukan itu tanggal 31 Agustus. Tanggal 31 Agustus pada masa itu bertepatan dengan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Namun dalam praktiknya, lomba ini tak hanya digelar tanggal 31 Agustus saja, melainkan pada hari-hari besar lainnya atau bahkan setiap pesta pernikahan.

Pada masa penjajahan, lomba ini diselenggarakan oleh Belanda untuk pribumi. Orang-orang Belanda akan menggantungkan berbagai benda di pohon pinang.

Hadiah yang digantung di cabang-cabang pohon pinang biasanya makanan, gula, pakaian, dan tepung. Sedangkan batang pinang akan dilumuri dengan minyak sebagai pelumas.

Barang-barang seperti itu menjadi suatu hal yang mewah bagi orang-orang Indonesia pada saat itu. Tentu saja, pasalnya ketika masa penjajahan, rakyat Indonesia kekurangan bahan makanan dan bahan pokok lainnya.

Maka tak heran jika pribumi berusaha mendapatkan hadiah-hadiah yang digantung itu. Upaya yang berat untuk mengambil hadiah itu lah yang kemudian dinikmati oleh Belanda.

Melihat pribumi bersusah payah mendapatkan barang yang murah bagi mereka itu adalah sebuah hiburan. Tak jarang mereka akan tertawa saat melihatnya.

Sejarah kelam panjat pinang inilah yang menimbulkan pro dan kontra untuk menjadikannya sebagai lomba 17 Agustus-an. Masyarakat yang kontra menilai panjat pinang melukai nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia.

Mengingat ini tradisi dari Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Apalagi pada saat itu kesusahan pribumi dijadikan alat untuk menghibur kaum elit Belanda.

Meski begitu, masyarakat yang pro mengambil sisi positifnya. Lomba panjat pinang mampu mengukuhkan rasa gotong royong yang merupakan salah satu hal yang melekat pada bangsa Indonesia.

Dari sekian banyak gelaran lomba dan kegiatan lainnya dalam memeriahkan kemerdekaan Indonesia, hal pokok yang perlu kita sadari bersama saat ini adalah cita-cita besar Indonesia merdeka hingga saat ini belum tercapai sepenuhnya. Artinya kita baru merdeka menjadi sebuah negara namun belum mampu memerdekakan rakyat dan belum merdeka dari intervensi negara lain. Kesepakatan-kesepaktan global yang mengikat membuat bangsa indonesia tidak mampu berdaulat dan mandiri mengurus negara sendiri. Dalam perayaan kemerdekan di tahun berikutnya sudah seharusnya kita gelorakan kembali semangat perjuangan melawan segala bentuk jajahan gaya baru yang terus mengerogoti bangsa ini.

Yusuf Sugiatno, Pemerhati Sejarah