PedomanBengkulu.com, Jakarta – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar upacara peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia, Sabtu (17/8).

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) bertindak langsung sebagai Pembina Upacara. Upacara dimulai pukul 07.30 di Lapangan Kantor BKKBN Pusat, Jakarta, yang diikuti oleh Pejabat Tinggi Madya, Pratama, Administrator BKKBN, Dharma Wanita Persatuan BKKBN, dan seluruh pegawai di Lingkungan BKKBN.

Dalam sambutannya Kepala BKKBN mengatakan, pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI bukan hanya dimaknai sebagai lepasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, bukan pula akhir dari perjuangan, tetapi harus meneruskan cita cita bangsa membangun Negara yang berdikari dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Perjalanan panjang ini harus tetap kita isi dengan berkarya, berinvoasi dan bekerja keras. Kita harus berkarya dan berkerja yang melahirkan inovasi dan kreasi baru, salah satunya melakukan rebranding BKKBN terhadap generasi millennial”, jelas Hasto.

Selain itu, peringatan HUT ke-74 RI ini mengusung tema ‘SDM Unggul Indonesia Maju’. Tema tersebut mengandung makna bahwa pembangunan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan unggul akan ikut mendukung kemajuan Indonesia. Pembangunan Sumber Daya Manusia sebagai kunci keberhasilan dan kesuksesan Indonesia di masa depan. Dan presiden jokowi menyatakan bahwa kita tidak hanya harus lebih baik dari kemarin, tapi harus lebih baik dari yang lain, sehingga kita harus bisa bersaing ketat dengan negara lain agar lebih maju”, tambah Kepala BKKBN.

Menurutnya, sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat, Aparatur Sipil Negara (ASN) harus meningkatkan hardskill, softskill, membangun visi bersama, menjalin komunikasi yang baik dan mengesampingkan egoisme pribadi & egoisme sektoral. “Oleh karena itu, kita harus punya musuh bersama, dan musuh itu adalah kemiskinan, penderitaan, dan hal-hal yang pelayanan yang belum bisa kita berikan belum baik kepada rakyat.

Hasto mengajak seluruh ASN BKKBN pada Upacara tersebut untuk memikirkan rakyat miskin dalam setiap menjalankan pekerjaan. “Pikirkan selalu dihati kita bahwa ada orang miskin yang tidak ingin punya anak tetapi belum dapat informasi mengenai kontrasepsi, ada keluarga miskin yang punya anak stunting tetapi dia juga bagian dari Pasangan Usia Subur (PUS) tetapi dia juga belum didatangi, ada orang miskin yang punya risiko tinggi untuk hamil dan dia tinggal di pelosok dan belum kita datangi, sehingga unmetneed masih di angka 10,5%. Pikirkanlah selalu dibenak hati kita bahwa masih banyak rakyat miskin yang harus kita pikirkan dan kita layani, dalam setiap membuat program kerja dan rencana kegiatan. Kalau kita laksanakan maka kita akan menkhitmad kepada rakyat dengan sempurna dan program-program akan langsung sampai menyentuh masyarakat yang membutuhkan”, tambahnya.

Oleh karenanya, lebih lanjut Kepala BKKBN berharap segenap ASN BKKBN dalam memasuki era industri 4.0 harus bisa menyesuaikan dan terus belajar melatih kemampuan untuk meningkatkan kualitas diri.

“Saya harap setiap masing-masing unit kerja membuat quickwin dari program masing-masing supaya kita dapat menciptakan kegiatan-kegiatan yang smart dan dijadikan satu kesatuan yang bisa diakses secara bersama-sama, satu data, one single website/ identity tanpa perlu menonjolkan aplikasi masing-masing unit kerja”, harap Hasto.

Di akhir upacara, Kepala BKKBN juga memberikan Penganugerahan Tanda Penghormatan Satya Lencana Karya Satya (SLKS) kepada 24 ASN BKKBN yang telah mengabdi secara terus menerus selama 10 Tahun, 20 Tahun dan 30 Tahun. Penganugerahan ini merupakan penghargaan dalam kedisiplinan, kejujuran dan kinerja kepada ASN.[Nurhas/Rls]