Ratna Sari (Mahasiswi Jurusan Jurnalistik, Universitas Bengkulu)

Lagi-lagi pernyataan mengejutkan datang dari Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko saat dimintai tanggapan terhadap hasil ijtima ulama IV yang dilakukan pada tanggal 5 Agustus lalu.

Dalam salah satu poin hasil ijtima ulama IV menyatakan bahwa “ulama sepakat atas penerapan syariah dan penegakan khilafah, serta amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban agama islam.”

Mengutip dari news.detik.com, saatsdimintai tanggapan terhadap hasil ijtima ulama IV, Moeldoko memberikan pernyataan bahwa ”negara kita ini bukan negara islam, negara kita ini negara, sudah jelas ideologi nya, ideologi lain gak biasa di kembangkan disini, sepanjang itu berlawanan dengan pancasila, ya harus dilawan,”

Tidak dipungkiri lagi bahwa telah banyak stigma negatif yang dipropagandakan terhadap umat agar alergi terhadap kata syariah Islam dan membenci penerapan syariat secara kaaffah (menyeluruh). Bukan hanya itu, masyarakat pun sering kali dipersekusi ketika berbicara tentang penerapan syariat secara kaffah, bahkan juga diintimidasi ketika ingin menerapkannya dalam lingkungan masyarakat dan bernegara.

Umat mestinya sadar akan keberadaan pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan, yang tidak menyukai bersatunya umat islam dan tidak menyukai kebangkitan islam. Karna itu stetmen-stetmen negatif pun dikeluarkan para propaganda tersebut untuk mempengaruhi umat islam, agar umat islam membenci dan menolak penerapan syariat islam secara kaffah.

Mereka yang menolak penerapan syariat Islam sesungguhnya mereka telah menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Padahal seorang muslim harus taat ketika syariat islam ingin diterapkan, menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya, dan bukan nya justru membenci, menolak apalagi menebar virus alergi terhadap agamanya sendiri.

Termasuk menghadang-hadangi umat dan menebarkan isu negatif terhadap orang atau ormas yang memperjuangkan dan yang ingin menerapkan syariah islam dimuka bumi ini.

Kita tentu seharusnya paham dan mengerti bahwa Islam merupakan agama yang sempurna dan paripurna. Islam memiliki aturan yang menyeluruh dalam mengatur kehidupan, baik aspek kehidupan individu, masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara. Bahkan sejak bangun tidur hingga membangun Negara, Islam memiliki pengaturan dalam hal itu. Islam mengatur hubungan diri manusia dengan Penciptanya, mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya.

Dalam pengaturan hubungan antara manusia dengan sesama manusia lainnya (mu’amallah), Islam mengatur urusan politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan, politik luar negri, serta-sanksi hukum, dan masih ada lagi.

Disitulah letak kesempuraan Islam. Islam bukan hanya agama ritual tapi juga merupakan pandangan hidup yang melahirkan peraturan bagi kehidupan. Itulah mengapa islam merupakan agama yang sangat sempurna dan paripurna. Sesuai dengan firman Allah SWT “Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untuk mu”. (QS. Al-Ma’idah:3)

Sebagai agama yang sempurna, maka segala peraturannya sudah lengkap dan tidak perlu di tambah dengan membuat peraturan itu sendiri, dan juga tidak perlu dikurangi, dengan cara tidak mengakui atau menjalankan syariatnya sesuai dengan apa yang perintah dan larangan Allah SWT.

Islam membawa rahmat bagi seluruh alam, kesempurnaan syariat islam adalah suatu kenikmatan yang agung. Bukan hanya untuk manusia tapi juga seluruh makhluk hidup, serta membawa kebahagian dunia dan akhirat. Pandangan bahwa Islam tidak mengedepankan toleransi dalam perbedaan suku, agama, ras dan budaya jelas merupakan suatu tuduhan yang salah. Islam telah terbukti mampu mengatur dan menjangkau hingga dua per tiga dunia selama hampir tiga belas abad berturut-turut.

Aturan yang ada dalam islam, tidak hanya dipahami dan dipelajari saja, tapi juga harus dan wajib untuk diterapkan dalam semua aspek kehidupan baik individu, keluarga, masyarakat dan Negara. Agar mampu mendatangkan kesejahteraan dan keberkahan dari sang pencipta yaitu Allah SWT.

Seluruh syariat Islam yang mengatur berbagai aspek kehidupan itu hanya dapat diterapkan dengan adanya suatu institusi yang menerapkannya yaitu Khilafah. Khilafah merupakan bentuk pemerintahan yang menjadikan Al-quran dan As-sunnah sebagai landasan Negara dalam menjalankan seluruh hukum syara’.

Dengan diterapkan syariat Islam oleh Khilafah maka agama, akal, kehormatan, keturunan, keamanan, pendidikan, kesehatan, darah dan harta manusia senantiasa terjaga dan terpelihara dengan baik. Namun sebaliknya, tanpa adanya Khilafah semua itu tidak akan bisa kita rasakan dan justru akan mendapatkan penghidupan yang sempit sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Thaha : 124. Karena syariat Islam tidak dapat diterapkan secara kaaffah (menyeluruh), serta problematika umat tidak akan mampu terselesaikan. Wallau a’lam.

Oleh: Ratna Sari (Mahasiswi Jurusan Jurnalistik, Universitas Bengkulu)