PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Siapa yang tak kenal dengan Penyair Wahyu Sulaiman Rendra atau WS. Rendra di Bidang Seni dan Budaya. Sosok WS. Rendra tak pernah luput dari ingatan Sastrawan dan Masyrakat Indonesia umumnya.

Puluhan Sastrawan dan Pelaku Budaya maupun partisipan di Bengkulu menggelar Malam Puisi “Tribut untuk WS Rendra” di Taman Budaya Bengkulu, Minggu (11/8/2019).

Divisi Kedai Sastra Jayu Marsuis menyampaikan kegiatan malam puisi ini sebagai bentuk penghormatan dan menggenang jasa-jasa WS Rendra yang telah banyak memberikan ilmu dan keberanian kepada sastrawan.

“Acara ini dipersembahkan untuk menggenang jasa-jasa dan memberikan penghormatan kepada alamarhum WS Rendra yang telah memberikan banyak sekali ilmu dan keberanian kepada sastrawan Indonesia, khususnya sastrawan muda dalam berkarya,” kata Jayu Marsuis.

Jayu Marsuis juga mengatakan kegiatan ini juga dalam rangka mempererat persatuan para seniman dan budayawan di bengkulu agar segala kegiatan kesenian, sastra dan kegiatan budaya lainnya tumbuh berkembang di Bengkulu.

“Kegiatan kebudayaan di Bengkulu hampir nyaris tidak tampak, ini sangat berbeda dengan Daerah lain yang kegiatan seni budayanya hidup. Untuk itu, kita ingin seluruh kelompok-kelompok seni budaya di Bengkulu bersatu agar mampu menghidupkan dan meramaikan kegiatan seni dan kebudayaan di Bengkulu,” tutup Jayu Marsuis.

Kegiatan Malam Puisi ‘Tribut Untuk WS Rendra’ ini dikemas sederhana dan santai dengan duduk lesehan di pelataran Taman Budaya Bengkulu dengan  dihadiri Puluhan Sastrawan maupun penggemar sastra di Bengkulu, baik dari kalangan generasi muda maupun generasi tua seangkatan Rendra.

Diketahui, mereka yang hadir secara bergiliran membacakan puisi atau sajak karya Rendra maupun karya mereka sendiri.

Para sastrawan-sastrawan yang hadir tidak mau ketinggalan unjuk kebolehan membaca puisi diantaranya Edi Ahmad, Jayu Marsuis, Nadi Hariansyah, Dwi utari, Indriansyah, Edi prayekno, Indah cempaka, Sucenk bae, Denis kurniawan, Ipul Pekal, Andes beta, Buya Endar, UKM Seni Unihaz dan Swend dewa. [Yusuf]

Adapun Puisi yang dibacakan adalah:

SAJAK SEBATANG LISONG
(Karya WS. Rendra)

Menghisap sebatang lisong melihat
Indonesia Raya mendengar 130 
juta rakyat dan di langit 
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit fajar tiba
dan aku melihat delapan juta
Kanak – kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya
Tetapi pertanyaan – pertanyaanku membentur meja
kekuasaan yang macet 
Dan papantulis – papantulis
para pendidik yang terlepas 
dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak – kanak
Menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan
Tanpa pepohonan
Tanpa dangau persinggahan
Tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara
yang disemprot deodorant
Aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
Aku melihat wanita bunting 
antri uang pensiunan

Dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung – gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
Protes – protes yang terpendam 
Terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya
Tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidak adilan 
terjadi disampingnya dan delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan termangu – mangu di kaki dewi kesenian 

Bunga – bunga bangsa tahun depan berkunang – kunang
Pandang matanya di bawah iklan berlampu neon
Berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samudra

Kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
Diktat – diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Keluar ke desa – desa mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan.