Tari Gandai merupakan tarian bartautan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Suku Pekal asli dan berpasangan yang berasal dari Suku Pekal asli itu disebut tari Gandai Ambat.

Tari Gandai dilakukan secara bergantian dengan menunjukan aksi dan kehebatan mereka dan biasanya tari ini di iringi oleh Redap, Rerunai, Gong yang merupakan alat musik tradisional dari Suku Pekal.

Terdapat tiga jenis Tari Gandai yaitu Leluen, Nenet, dan Sementaro. Tarian Gandai ini biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, namun bisa juga ditampilkan pada saat upacara penyambutan tamu dari pejabat-pejabat atau orang penting yang datang. Lagu daerahnya yaitu Berpantun ( Gamat)

Tradisi Gandai merupakan tradisi masyarakat Pekal yang sudah menjadi adat istiadat. Tradisi Gandai yang menjadi topik penulisan ini mengalami perubahan. Diduga hal ini berdampak dari berkembangnya teknologi pada masyarakat Pekal dan transmigrasi penduduk pulau Jawa ke Kecamatan Ketahun.

Pada zaman dahulu masyarakat Pekal berkumpul di balai desa setiap malam Jumat, biasanya dimulai dari pukul 7 malam hingga pukul 6 pagi. Mereka berkumpul untuk menyabut pembukaan lahan baru atau merayakan hasil panen yang hampir seminggu mereka kerjakan di sawah atau ladang tanpa ada waktu untuk bersantai. Dengan berkumpul mereka dapat berbagi suka cita dan menghilangkan rasa lelah. Mereka yang berkumpul tidak hanya sekedar
bercerita namun mereka juga menari dan berbalas pantun. Tidak hanya para pemuda-pemudi yang hadir, para orang tua pun turut serta. Semua yang hadir harus mengenakan sarung.

Masyarakat Mukomuko meyakini bahwa Tari Gandai bersumber dari kisah Malim Deman. Kisah ini sangat dikenal masyarakat Melayu Mukomuko dan masyarakat Pekal. Kisah Malim Deman dikenal berkembang pada hampir setiap wilayah masyarakat Melayu Mukomuko dan mayarakat Pekal. Meskipun ada perbedaan diantara kisah Malim Deman pada masyarakat Melayu Mukomuko dan masyarakat Pekal, namun kisah itu pada hakikatnya mengandung isi dan makna yang sama.

Malim Deman mengisahkan riwayat pernikahan Malin Deman dengan Putri Muhammad Duyah (Garan nan si Bungsu), menurut versi Melayu Mukomuko atau Malin Deman dengan Puti Bungsu menurut versi Pekal.

Malim Deman adalah manusia bumi, sedangkan Putri Muhammad Duyah merupakan manusia langit, anak bungsu dari 7 (tujuh) bidadari bersaudara. Pernikahan Malin Deman dengan Puti Bungsu terjadi karena Malim Deman mencuri atau menyembunyikan pakaian Puti Busu yang sedang mandi, sehingga ia tidak dapat kembali bersama keenam saudaranya ke asalnya semula. Perkawinan mereka dikaruniai anak laki – laki bernama Malim Dewa. Perkawinan Malin Deman dan Putri Bungsu berakhir dengan perpisahan karena Malin Deman tidak dapat meninggalkan kebiasaannya menyabung ayam. Setelah Puti Bungsu menemukan kembali bajunya ia pun bisa terbang dan kembali ke langit.[Sugeng]