PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (BPPN) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Basarnas menjadi pemateri dalam salah satu rangkaian kegiatan ISC yaitu pelatihan tanggap bencana.

Bertempat di aula Fakultas Syariah IAIN Bengkulu, Tim Basarnas diwakili oleh Yudi Patria, yang menjabat sebagai staf potensi Search and Rescue (SAR) Bengkulu, diawal sambutannya, Yudi Patria memotivasi peserta ISC agar tetap semangat dan bangga menjadi anggota pramuka, karena awal karir seorang staf Potensi SAR ini juga berasal dari kegiatan pramuka.

“Saya saat ini bekerja sebagai Staf Potensi SAR Bengkulu, saya juga pernah di Palang Merah Indonesia (PMI), menjadi Koordinator Pos SAR di Mukomuko, aktif juga di kegiatan Pecinta Alam dan Pramuka jadi kalian harus bangga menjadi anak pramuka, saya juga anak pramuka,” tutur Yudi Patria selaku pemateri, Sabtu (7/9).

Lebih lanjut Yudi menjelaskan bahwa kunci dari penyampaian materi pada kegiatan Tanggap Bencana ini adalah peserta tidak hanya menjadi tahu apa itu tanggap bencana, tetapi nantinya juga mengerti, memahami, dan pada akhirnya dapat melaksanakan atau mempraktikkannya dalam kegiatan-kegiatan saat dibutuhkan.

“Saya tidak mau hanya memberikan materi, karena kunci dari kegiatan hari ini, yaitu kalian tahu, mengerti, memahami dan melaksanakan, karena kalau hanya sekedar tahu maka belum tentu dapat melaksanakan, jadi saya minta agar semua ikut berpartisipasi, bertanya dan menaggapi apa yang saja sampaikan,” imbuhnya.

Yudi Patria memulai penjelasannya dengan menjelaskan apa itu tanggap dan apa itu bencana, apa bedanya dengan musibah. Para peserta tampak aktif menjawab dan menaggapi pertanyaan-pertanyaan dengan bersemangat, kemudian barulah pemateri mengevaluasi dan memperbaiki jawaban-jawaban tersebut diselingi oleh candaan dan gelak tawa.

Kegiatan pelatihan tanggap bencana diikuti oleh peserta ISC tingkat SMA dan SMP saja, peserta tingkat SD tidak diikut sertakan karena kekhawatiran untuk dapat memahami isi materi yang disampaiakan karena tujuan dari pelatihan ini adalah agar peserta ISC dapat tanggap dan sigap apabila menhadapi bencana dalam kegiatan dan memahami langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan bila berhadapan dengan bencana.

“Alhamdulillah selama kegiatan acara ini lancar, hanya saja sedikit terkendala waktu karena jadwal yang bertabrakan, tujuan pelatihan ini yaitu agar peserta dari ISC ini dapat tanggap, sigap dalam bencana, dan harapannya para peserta tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan menghadapi bencana itu.” kata Vivi Pratiwi sebagai panitia.

Dan sebagai peserta Dinda dan Afifah pun memberikan tanggapan positif atas diselenggarakannya kegiatan oleh Basarnas ini.

“Materinya tentang bencana alam, jadi dijelaskan apa itu bencana alam, musibah dan cara menjelaskannya asik dan seru.” ujar Dinda Handayani, dari SMPIT Khoiru Ummah.

“Manfaatnya kita jadi tahu apa itu bencana alam, bedanya dengan musibah, kapan dinyatakan sebagai bencana, siapa saja yang bertanggungjawab, dan apa peran kita sebagai anak pramuka menghadapi bencana dan tahu cara mencegahnya.” tutur Afifah Miftahul Rizka Marwan, dari SMPIT Khoiru Ummah.

Materi Pelatihan Tanggap Bencana didasarkan pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, dimana materinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan dari para peserta yang merupakan siswa tingkat SMP dan SMA.

Basarnas sebagai lemabaga yang bertanggungjawab atas pencarian dan pertolongan (SAR), melalui kegiatan pelatihan tanggap Bencana ini, berarti telah melaksanakan salah satu dari tiga rangkaian acuan kerja Basarnas, yaitu proses prabencana, dimana basarnas melakukan penyuluhan-penyuluhan seperti pelatihan tanggap bencana ini.

Selanjutnya dijelaskan mengenai tahap pada saat terjadi bencana atau tanggap darurat yang terjadi apabila suatu keadaan tersebut telah merugikan harta benda, membahayakan jiwa manusia, termasuk menggangung perekonomian suatu wilayah tertentu maka Basarnas dapat melaksanakan 3 tahapan tanggap darurat.

Terdapat lima komponen SAR yang harus dibangun kemampuannya, agar pelayanan jasa SAR dapat dilakukan dengan baik, yaitu meliputi: Organisasi, Fasilitas, Komunikasi, Penanganan medis, dan dokumentasi.

Selanjutnya pada Tahap Emergency Phases atau keadaan yang benar-benar darurat, yang dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu siaga 4 sampai siaga 1, terakhir SAR Stages yaitu tahapan penyelenggaraan operasi yang dimulai dengan tahap menyadari, tindakan awal, perencanaan, operasi, hingga pengakhiran yang ditandai dengan penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko, evalusi, mengadakan pemberitaan dan menyerahkan korban kepada keluarga. [Yayak]