Rapat TPID

PedomanBengkulu.com, Rejang Lebong РTingginya harga cabai beberapa bulan belakangan ini menjadi salah satu penyumbang angka inflasi di tingkat Provinsi Bengkulu maupun nasional. Untuk tingkat nasional pada bulan Agustus, cabai menyumbang angka inflasi 0,20 persen, secara tahunan menyumbang angka inflasi sebesar 3,25 persen. Berdasarkan hasil survei pemantauan harga yang dilakukan Bank Indonesia (BI), penyumbang inflasi terbesar adalah cabai merah 0,15 persen, cabai rawit 0,05 persen. Diperkirakan  inflasi akibat harga cabai masih akan tejadi karena kondisi kemarau yang terjadi saat ini akan berdampak terhadap menurunnya angka produksi.

Dikonfirmasi Wakil ketua TPID Kabupaten Rejang Lebong Rif’at Pasha yang juga Asisten Direktur Bank Indonesia Bengkulu usai rapat TPID, Senin (16/9/2019) mengatakan rapat yang digelar guna membahas potensi inflasi ke depannya dan solusi yang akan diambil, di antaranya faktor berpotensi memicu inflasi adalah kemarau panjang sehingga bisa menurunnya produktifitas holtikultura di Kabupaten Rejang Lebong.

“Sepanjang Juli-Agustus, cabai merah keriting mempengaruhi inflasi namun tidak begitu dirasakan kabupaten Rejang Lebong karena seperti yang kita ketahui daerah kita penghasil holtikultura dan solusinya mendorong masyarakat melalui dinas terkait untuk bercocok tanam di lahan pekarangan ataupun di polibag” terang Rif’at.

Dijelaskan Rif’at, potensi sebagi pemicu inflasi ke depannya ialah kemarau panjang yang masih kita rasakan hingga pertengahan September ini.

“Nah dari sini Bulog juga diminta untuk bisa menyerap produksi beras petani sebanyak-banyaknya dalam pengadaan stok beras di Kabupaten Rejang Lebong serta sembako lainnya,” papar Rif’at.

Selain itu, permasalahan inflasi juga datang dari sistem distribusi dan manajemen stok yang harus segera dibenahi. Karena itu, perlu dibuat sistem yang bisa memantau ketersedian pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sehingga tidak terjadi penyelewengan dan penimbunan yang dapat mempengaruhi harga pasar. Di samping itu, dengan sistem yang terpadu ini kekurangan stok pangan di daerah dapat segera didistribusikan, agar tidak ada penumpukan di gudang.

“Market center itu nantinya juga akan memangkas panjangnya rantai distribusi yang selama ini masih panjang, memberikan jaminan pasar bagi petani dan penggilingan, dan data stok valid untuk pengambilan kebijakan, serta memutuskan mata rantai petani ke tengkulak (Toke), dimana petani banyak berhutang modal pertanian,” singkat Rif’at.[Julkifli Sembiring]