“Utamakan Bahasa Indonesia Lestarikan Bahasa Daerah Kuasai Bahasa Asing” bukanlah hanya sekedar kalimat belaka, ini mengandung makna yang mendalam tentang pentingnya kita sebagai bangsa Indonesia walaupun harus mempelajari bahasa asing yang sekarang sedang menjadi salah satu ajang bergengsi, kita juga harus mengutamakan bahasa Indonesia yang menjadi salah satu identitas nasional kita, pun kita juga tak boleh melupakan bahasa daerah yang sudah menjadi salah satu budaya yang harus dilestarikan.

Bukankah Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menjunjung tinggi budayanya? fenomena yang terjadi saat ini punahnya bahasa daerah akibat kurangnya penutur bahasa daerah, banyaknya generasi muda yangt tidak dapat berbahasa daerah. artinya terjadi kemunduran penutur, dikatakan terancam punah jika usia penutrnya 70 tahun keatas, sangat kritis jika usia penuturnya 40 tahun keatas. bukti hampir punahnya suatu bahasa daerah adalah tidak adanya inventarisasi kosakata bahasa daerah misalnya dalam bentuk kamus bahasa daerah, hal ini dikarenakan kesulitan mengumpulkan kosakata akibat penuturnya yang hampir tidak ada lagi. padahal bahasa daerah merupakan kekayaan yang dimliki Indonesia yang patut dilestarikan.

Bayak hal yang mempengaruhi hal tersbut, yaitu:
1. Mayoritas bahasa yang digunakan disuatu daerah.
Ketika seseorang menjadi minortas maka secara tidak langsung akan menyesuaikan diri dan mengikuti kebiasaan yang ada di kalangan mayoritas, termasuk dalam penggunaan bahasa, agar tidak dianggap berbeda dan dapat diterima di kalangan masyarakat mayoritas tentulah komunikasi bahasa yang digunakan harus menyesuaikan diri dengan kalangan mayoritas tersebut agar dapat diterima dan dihargai, hal ini akan berdampak pada berkurangnya bahasa daerah yang dianut kaum minoritas tersebut. Contohnya saat saya yang berbahasa rejang kemudian tinggal di kalangan mayoritas melayu tentulah saya harus belajar dan beradaptasi dengan menggunakan bahasa melayu.

2. Bilingualisme atau multliingualisme
Individu atau masyarakat yang dapat menggunakan dua bahasa atau lebih pasti berdampak pada bahasa asli suatu bahasa tesebut. Karena kosakata bahasa yang satu dapat mempengaruhi bahsa yang lain saat penutur menggunakan kalimat yang kosakatanya di campur dengan bahasa yang lain. Sehingga akan berdampak pada keaslian bahasa daerah. misalnya penutur bahasa yang membentuk kalimat yang tersusun atas kosakata bahasa rejang dan melayu.

3. Globalisasi
Di era yang modern saat ini, banyak hal yang dipengaruhi, termasuk penggunaan bahasa. pengunaan bahasa di media sosial mislalnya, penggunaan bahasa asing sudah menjadi tuntutan setiap umat agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Misalnya lebih sering mempelajari belajar bahasa inggirs, jepang, dan bahasa asing lainnya.

4. Perkawinan Antaretnik
Perbedaan bahasa dalam sebuah bubungan pernikahan tentu menjadi suatu hal yang harus di temukan solusinya, kesulitan dalam mempertahankan bahasa daerah masing-masing menyebabkan hilangnya penutur bahasa daerah secara perlahan.

5. Kurangnya penghargaan tehadap bahasa derah.
Seiring dengan perkembangan zaman, pemuda saat ini lebih sering menggunakan, mempelajari bahasa asing daripada bahasa daerah, dibuktikan dengan semakin banyaknya lemaga yang membuka jasa kursus bahasa asing dan semakin banyak pula peminatnya. bahasa asing dinggap lebih keren dan bergengsi sedangkan bahasa daerah masih dianggap kampungan bagi sebagian orang, padahal bahasa daerah merupakan kekayaan dan seni bahasa yang tinggi.

6. Intensitas penggunaan bahasa daerah di rumah tangga
Di rumah tangga, ibu dan ayah yang seharusnya menjadi guru utama mengajarkan bahasa daerah yang dianut kepada ank-anaknya, biasanya sangat jarang orangtua yang mempraktikkan komunikasi sehari hari di keluarga menggunakan bahasa daerah, terlebih saat keluarga tersebut hidup di lingkungan mayoritas bahasa yang berbeda dari bahasa daerah yang dianut keluarga tersebut.

Dalam komunikasi yang sering digunakan di keluarga, orangtua sangat berpengaruh dalam memperkenalkan dan mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya, biasanya didalam keluarga menggunakan bahasa yang sering digunakan sesuai dengan bahasa mayoritas. Tidak adanya transfer bahasa daerah yang dianut orangtua kepada anak juga menyebabkan anak tidak bisa berbahasa daerah orangtuanya. contohnya saya, ibu dan ayah saya dirumah berkomunikasi dikeluarga dengan menggunakan bahasa melayu Bengkulu, sebab ibu dan ayah saya berasal dari suku yang berbeda, ibu dari suku rejang dan ayah dari suku serawai, namun saya cukup beruntung dapat mempelajari bahasa rejang dari lingkungan desa saya yang mayoritas banyak penutur bahasa rejang sehingga saya dapet berbahasa rejang dan mengerti bahasa rejang, namun disisi lain saya tidak terlalu lihai dalam berbahasa serawai sebab ayah saya sangat jarang berkomunikasi dengan bahasa serawai di rumah, saya sering mendengar bahasa serawai dan belajar bahasa serawai apabila saya sedang pulang ke kampung ayah saya yang mayoritas penduduk di sana suku serawai. Bagaimana jika saya tidak tinggal di lingkungan rejang? Atau jika saya tidak ke kampung halaman ayah saya? Tentulah saya tidak bisa menggunakan bahasa rejang dan mengerti bahasa serawai.

“Ala bisa karena biasa”, Penanaman cinta bahasa daerah terlebih dahulu harus diterapkan , rasa bangga terhadap bahasa daerah yang menjadi salah satu identitas haruslah menjadi prioritas, sehingga dari situ muncul keingintahuan anak untuk belajar bahasa daerah ibu dan ayahnya. keluarga merupakan unit terkecil dalam pendididkan masyarakat yang menjadi lingkungan pembelajaran pertama yang paling utama. praktik berbahasa daerah dalam kehidupan sehari hari di keluarga harus diterapkan, walaupun tidak menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa utama dalam keluarga setidaknya intensitas penggunaan bahasa dearah mengisi beberapa jam dalam sehari. mengingat saat ini pendidikan formal tidak mengajarkan bahasa daerah. dimana lagi anak akan mendapat pelajaran bahasa daerah selain dari orangtunya. sehingga ketika anak akan berpisah dari keluarganya, bahasa yang sering dipelajari di rumah akan menjadi memori dan menjadi identistas kebanggan yang akan dikenalkan kepada orang lain. Contoh nyata adalah ketika saya dapat berbahasa rejang, kemampuan berbahasa rejang inilah yang saya banggakan ketika saya jauh dari rumah, ketika merantau untuk kuliah misalnya, saat di kampus dan di organisasi saya dengan bangga memperkenalkan bahasa rejang yang saya kuasai kepada teman-teman yang berlatarbelakang suku lain, termasuk saat bertemu dengan sesama rejang yang berbeda dialeg pun kami saling bertukar pendapat. Suatu hal yang patut disyukuri apabila orangtua anda di rumah memperkenalkan dan mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya, apalagi tinggal di kalangan mayoritas yang masih banyak penutur bahasa daerah.

Tepat 8 september merupakan hari aksara internasional, dimana telah disahkan oleh UNESCO pada 17 Nopember 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas dan masyarakat. Ini diperingati oleh seluruh negara, termasuk Indonesia. Tidak hanya memperhatikan aksara nasional UNESCO juga memperhatikan bahasa daerah, penghargaan UNESCO King Sejong Literacy Prize adalah penghargaan yang diberikan untuk dua pemenang dengan program berfokus pada pengembangan dan penggunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. Artinya bahasa daerah sudah menjadi salah satu fokus yang dilindungi oleh UNESCO dan sudah patutnya kita mencegah punahnya bahasa daerah agar indonesia dapat mempertahankan prestasi sebagai negara yang memiliki bahasa daerah terbanyak ke dua di dunia.

Menurut data kemendikbud berdasarkan kajian vitalitas bahasa pada tahun 2011—2017, terdapat 11 bahasa yang dikategorikan punah, empat bahasa kritis, 22 bahasa terancam punah, dua bahasa mengalami kemunduran, 16 bahasa dalam kondisi rentan (stabil, tetapi terancam punah), dan 19 bahasa berstatus aman. Data tersebut membuktikan kepunahan bahasa daerah yang menjadi duka bagi kita semua. Bukti nyatanya adalah punahnya bahasa enggano yang merupakan salah satu suku asli di Bengkulu, Wurn (2000) dalam laman etnhologue mengatakan bahwa bahasa Enggano merupakan bahasa yang terancam punah dengan jumlah penutur yang kian menurun yaitu kurang dari 1.500 penutur. Pada tahun 2012 peneliti Ngudining Rahayu menyatakan semain punahnya bahasa melayu akibat pergeseran bahasa, masyarakat Enggano saat ini memiliki kecenderungan berbahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi. Artinya untuk mendukung pemerintah dalam mencegah punahnya bahasa derah, keluarga juga harus menanamkan budaya literasi. Yaitu orangtua dapat mengajarkan komunikasi kepada anak-anaknya dengan menggunaan bahasa daerah dan penyediaan buku yang berbasis memuat nilai bahasa daerah. Punahnya bahasa dinilai dari jumlah penuturnya, jika generasi muda tidak mendapat pendidikan bahasa daerah dan tidak dikenalkan oleh ayah dan bunda, bagaimana generasi muda bisa tahu?.

Velly Aprilia Dianti