PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Cabang Bengkulu baru saja melaksanakan Aksi Solidaritas Dalam Bentuk Tabur Bunga dan Menyalakan Lilin di Trotoar Taman Smart City Ratu Samban Kota Bengkulu, Jumat (27/9/2019), sekira pukul 19.40 WIB.

Rendy Wiranata penanggung jawab aksi mengatakan, maksud aksi solidaritas  HMI Komisariat Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu adalah merupakan bentuk tanda duka atas meninggalnya Imawan Muhammad Rendy pada saat melakukan aksi mengenai RKUHP dan UU KPK di Kendari. Pihaknya menyampaikan sikap agar Presiden Joko Widodo dan Kapolri untuk meminta maaf langsung kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan juga meminta maaf kepada seluruh mahasiswa, jurnalis serta pelajar yang menjadi korban kekerasan aparat kepolisian saat mengamankan aksi. Serta meminta Presiden Jokowi untuk memecat Kapolri Tito Karnavian dan Menkopolhukam Wiranto, memecat aparat kepolisian yang terbukti melakukan tindakan kekerasan pada mahasiswa pelajar dan jurnalis kemudian memecat polisi tersebut dari Kepolisian Republik Indonesia.

“Kami juga meminta Presiden Joko Widodo untuk memecat Kapolda Sulawesi Tenggara karena gagal dalam mengamankan aksi mahasiswa,” jelas Rendy Wiranata.

Pada pukul 20.30 WIB Rombongan Gubernur dan Kapolda  Bengkulu beserta Kabinda Bengkulu Ka’staf Korem 041/Gamas, Dandim 0407/Bengkulu beserta Kapolres Bengkulu tiba di Lokasi Aksi solidaritas untuk memberikan himbaun dan arahan kepada peserta aksi.

Dalam arahannya, Kapolda Bengkulu Brigjend Pol Supratman mengatakan pihaknya Ikut merasakan bela sungkawa, termasuk seluruh jajaran atas berpulang Almarhum Imawan Muhammad Rendy di Kendari. Kapolda mengajak untuk mendoakan agar Almarhum khusnul khotimah. Pihaknya juga menyatakan prihatin.

“Bapak Kapolri ikut melakukan investigasi, kita cari pelaku secara transparan dan pelaku akan kita tuntut sesuai aturan yang berlaku. Saya sangat berharap dengan situasi saat ini kita pertahankan, kita dukung bapak Gubernur untuk memajukan Provinsi Bengkulu. Kami sangat berharap kontrol aksi dilakukan, mari kita jaga kondisi keamanan di Provinsi Bengkulu,” tegas Kapolda.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dalam arahannya mengatakan, aksi Kepedulian pada hari ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa atas meninggalnya rekan mahasiswa di Kendari dan saat ini saya berada ditengah-tengah mahasiswa, tidak ada ke khawatiran. Saya berada ditengah-tengah aksi mamahasiswa.

“Untuk itu mari kita kirimkan doa kepada Almarhum sebagai bentuk rasa duka kita,” ucap Rohidin.

Rohidin mengungkapkan pihaknya bisa merasakan bagaimana duka keluarga dan mahasiswa, walaupun ajal merupakan kepastian, namun yang menjadi ikhtiar adalah penyebab dari semua itu. Perjuangan mahasiswa adalalah perjuangan yang tulus dalam meneruskan perjuangan para pejuang negeri ini. Aspirasai mahasiswa merupakan aspirasi untuk masa depan bangsa, oleh karena itu, tidak akan ada pembatasan penyampaian aspirasai tapi sampaikan dengan cara benar, jangan sampai dengan cara-cara anarkis dan memaksakan kehendak. Ia yakin bahwa mahasiswa tidak akan pernah dipropaganda oleh pihak manapun.

“Kita yakin aspirasinya tulus dan saya yakin itu kata hati dan nurani mahasisiswa. Demokrasi terbuka seluas luasnya sampaiakan aspirasinya sesuai dengan koridor dan aturan yang berlaku dan kami tidak akan pernah menutup diri, tapi tetap jaga situasi di Bengkengkulu,” jelas Rohidin.

Pantauan dilapangan, pada pukul 20.55 WIB Gubernur Bengkulu, Kapolda Bengkulu beserta Unsur Kabinda, Kastaf Korem 041/Gamas, Dandim 0407/Bengkulu dan Kapolres Bengkulu meninggalkan lokasi aksi solidaritas mahasiswa dengan aman.

Tampak mahasiswa menggunakan alat peraga diantaranya Satu set alat pengeras suara, Dua buah Spanduk yang bertulisan, Raga memang berpisah tapi doa selalu bertemu, Stop Pembantaian Mahasiswan mahasiswa, Indonesia berduka Indonesia berdarah, Dua buah karangan bunga beserta Photo Almarhum, Seratus tangkai bunga, Seratus buah Lilin yang kemudian dinyalakan. [Anto]