Kata Hijrah tentunya tidak asing lagi bagi kita semua. Makna kata Hijrah secara bahasa, berasal dari kata Hajara yang berarti berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat lain; dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-lughah, II/243, Lisan Al-‘srab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637). Pahra Fugaha lalu mendefinisikan hijrah secara syar’I sebagai: keluar dari Darul Kufur, menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah, II/276).

Berkaitan juga dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW, dari mekkah menuju madinah, dari kegelapan menuju cahaya yang terang menerang, dari sistem Jahiliah, menuju daulah Khilafah. Tentu kita harus memahami hakekat Hijrah itu sendiri, karna Hijrah bukan hanya sekedar berpindah tempat, bukan hanya berubah penampilan, melainkan berubah dari cara hidup dengan menerapkan islam kaffah, dan cara pandang yang memandang sesuatu dari kacamata islam. Terdapat juga dalam Al-quran, bahwa Allah telah memerintahka n kita untuk berislam secara kaffah (Menyeluruh), sebagai mana firmana Allah SWT “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kedalam agama islam secara kaffah (Menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.

Sesungguh nya setan itu musuh yang nyata bagi kalian” (Al-Baqarah:208)
Hijrah tentu bukan hanya setengah-setengah, karana Hijrah haruslah menyeluruh (kaffah), sebagai mana yang dicontohkan Nabi, ketika hijrah dari mekkah ke madinah, momentum sejarah yang paling penting bagi islam dan kaum muslim. yaitu berhijrah meninggalkan sistem Jahiliah, menuju tegak nya islam sebagai sebuah ideologi dan juga sistem dalam institusi Negara, yaitu Daulah Khilafah.

Berbagai upaya sudah dilakukan para penguasa untuk mempertahankan ideologi dan sistem ini, dengan menganti presiden, ganti mentri, ganti guburnur, ganti walikota, dan bupati, tapi hasilnya tetap sama, bahkan mereka ingin memindahkan ibu kota Jakarta ke kalimantan, tapi tidak juga membuahkan hasil, kemiskinan dan penderitaan umat terus terjadi, kriminalitas dan kemaksiatan tetap merajalela, serta kedzaliman dan kemungkaran tidak dapat di hentikan lagi.

Ideologi dan sistem ini tidak dapat di harapkan lagi, kenpa ?? karna sudah jelas bahwa ideologi dan sistem yang diterpakan adalah Jahiliah, banyak sekali problemtika umat yang belum mampu diatasi dan belum juga terselesaikan, bahkan kasus dipapua, seharus nya membuat kita sadar, bahwa ideologi dan sistem ini tidak mampu menyejahterakan umat. Maka tidak perlu dipertahankan lagi, karna untuk apa mempertahankan Ideologi dan sistem yang bukan merupakan warisan Nabi Muhammad SAW dan sudah jelas-jelas menyensarakan rakyat.

Jika dilihat dari kehidupan individu, banyak yang sudah melakukam Hijrah atau perubahan, tapi dari segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tentu kita belum melakukan Hijrah, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, budaya dan yang lain nya, kita masih menggunakan sistem dan aturan-aturan dari barat. Sehingga menimbulkan berbagai persoalan dan permasalahan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah (Thaha:124)

“Dan barang siapa berpaling dari peringatanku (dari syariatku) maka sesungguh nya baginya kehidupan yang sempit, dan kami akan membangkitkan nya dalam keadaan buta”, (QS Thaha [20]:124)

Di bulan muharram ini, harus nya membuat kita sadar bahwa umat Islam membutuhkan perisai untuk melindungi darah dan kehormatan kaum Muslim. Umat Muslim membutuhkan penerapan Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah, karna Khilafah Islamiyyah nerupakan institusi pelaksana, yang mewujudkan, melaksanakan dan menebarkan Rahmat dalam kehidupan.

Ketika kita membuka catatan sejarah tentang Khilafah Islamiyyah, maka kita akan mendapatkan dan menemukan realita, tentang kehidupan penuh Rahmat, bukan hanya dirasakan oleh kaum muslim, tetapi juga orang-orang Non Muslimpun ikut merasakan nya.

Maka kembalilah kepada aturan yang telah menciptakan kita, aturan dari sang Illahi, yakinlah kita akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan keberkahan apa bila kita menerapkan nya, yang sesungguh nya menjadi dambaan bukan hanya umat islam, tapi semua insan dimuka bumi ini. Wallahua’lam.

Oleh: Ratna Sari (Mahasiswi Jurusan Jurnalistik, Universitas Bengkulu)