PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Puluhan mahasiswa Universitas Bengkulu melaksanakan salat ghaib untuk dua mahasiswa Universitas Halu Oleo yang wafat dalam aksi demonstrasi di kota Kendari. Dua mahasiswa ini bernama La Ode Yusuf dan Muhammad Randi.

Solat ghaib tersebut dilaksanakan di lantai dasar gedung Rektorat Universitas Bengkulu. Peserta solat ghaib tampak khidmat bahkan beberapa diantaranya sampai meneteskan air mata.

“Tujuan kami melakukan ini (solat ghaib) adalah untuk mendoakan dua orang mahasiswa Kendari yakni La Ode Yusuf dan Muhammad Randi yang kami anggap mati syahid karena gugur dalam memperjuangkan demokrasi. Ini bentuk solidaritas kemanusiaan dari kami mahasiswa di Bengkulu untuk kawan-kawan di Kendari maupun di tempat lain”, ungkap Axcelino Fernando, salah seorang perwakilan peserta solat ghaib, Jumat siang (27/9).

Axcelino juga mengatakan prihatin dan juga geram terhadap penanganan aksi yang represif.

“Kami mengutuk tindakan kekerasan dalam penanganan aksi demonstrasi. Ini bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan jauh dari kata beradab. Kamk juga ikut bersedih atas kekerasan yang juga dialami oleh sejumlah kawan-kawan jurnalis saat meliput aksi demonstrasi”, ujarnya.

Seorang perwakilan mahasiswa yang lain, Dodi Saputra mengatakan setelah solat ghaib tersebut, pada malam harinya akan dilanjutkan dengan aksi simpatik menyalakan lilin dan doa bersama di Simpang Lima Kota Bengkulu.

“Setelah ini kami akan melanjutkan dengan aksi simpatik di Simpang Lima Kota Bengkulu. Undangan yang dibuat bersifat terbuka untuk seluruh masyarakat, khususnya mahasiswa. Kami harap semuanya bisa ikut hadir dan bergabung dalam kegiatan tersebut. Akan ada renungan bersama, doa bersama, mimbar bebas untuk orasi, pembacaan puisi dan aksi teaterikal. Semuanya dilakukan sebagai wujud solidaritas dari Bengkulu untuk Kendari”, kata Dodi.

Untuk diketahui, dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari wafat diduga akibat tindakan represif aparat kepolisian saat berupaya mengamankan aksi demo mahasiswa di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Adalah Randi yang wafat akibat terjangan peluru di dada kanan, hingga saat ini belum diketahui pasti peluru tajam atau peluru karet yang menembus dada Randi. Sedangkan La Ode Yusuf meninggal dunia di rumah sakit setelah sebelumnya sempat mengalami kritis. La Ode Yusuf diduga meninggal akibat pukulan benda keras di bagian kepala dan sejumlah titik di tubuhnya.

Berbagai pihak turut mengecam tindakan aparat kepolisian yang dianggap berlebihan dalam menangani aksi demo mahasiswa. Salah satunya datang dari Erma Ranik seperti yang dilansir detik.com pagi tadi. Erma meminta Presiden Joko Widodk untuk mencopot Menkopolhukam Wiranto dan Kapolda Sulawesi Tenggara dari jabatannya karena dianggap gagal dalam menangani aksi demonstrasi dengan baik. [**]