PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengadakan acara Simposium di Bengkulu, tepatnya di Hotel Raflesia Bengkulu. Dengan mengusung tema Strategi dan Tantangan Implementasi PPRA (Program Pengendalian Resistensi Anti Mikroba) pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Menurut Ketua PDS PATKLIN (Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik) Prof. Dr. Dr. Ida Parwati Sp, PK(K). Ph. D, Tema kali ini sangat menarik karena pada beberapa akhir ini, angka resistensi di Indonesia sangat tinggi. Dengan tingginya hal ini, banyak sekali hal-hal yang merugikan, diantaranya harga antibiotik yg mahal dan pasien yang dirawat lebih lama.

“Tema ini sangat pas untuk diangkat, karena beberapa waktu ini angka resistensi di Indonesia sangat tinggi. Sehingga banyak menimbulkan kerugian, diantaranya harga antibiotik yang mahal dan perawatan pasien yang cenderung lebih lama,” ucap Ida Parwati, Sabtu (7/9/2019).

Sebetulnya hal ini masih bisa dihindari, karena resistensi anti mikroba itu adalah human made/buatan kita. Jika bakteri tidak kita kenalkan dengan antibiotik, dia tidak akan mengembangkan kemampuan hidupnya dengan resistensi tetapi jika kita perkenalkan apalagi jika tidak sesuai penggunanya Maka bakteri bakteri itu akan mengembangkan resistensinya. Imbuh Ida Parwati.

Ketua IDI Wilayah Bengkulu Dr. H. Syafriadi. MM mengatakan, tujuan dari diadakannya acara ini untuk memberikan penyegaran dan mengajak para pelayan kesehatan seperti dokter, bidan dan yang lainnya supaya tidak sembarangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut pantauan PedomanBengkulu.com, acara ini merupakan acara Simposium pertama yang diadakan oleh IDI di wilayah Provinsi Bengkulu. [Mario]