PedomanBengkulu.com, Rejang Lebong – DPRD Rejang Lebong, Senin (30/9/2019) memangil direktur PDAM Tirta Darma Rejang Lebong terkait keluhan warga di kecamatan Padang Ulak Tanding yang mengalami kesulitan air bersih beberapa bulan terakhir. Diungkapkan Ketua Sementara DPRD Rejang Lebong Wahono, kesulitan air yang dialami warga dinilai tidak wajar karena sumber air di wilayah tetsebut cukup besar malah dipergunakan untuk kebutuhan air warga Kota Lubuk Linggau.

“Warga Kecamatan Padang Ulak Tanding dan sekitarnya saat ini kesulitan air. Padahal kita tau untuk Kota Lubuk Linggau sumber air berasal dari Desa Apur Kecaman Padang Ulak Tanding. Logikanya bahwa sumber daya air di Kabapaten Rejang Lebong maka yang pertama kali memanfaatkan adalah warga Kabupaten Rejang Lebong,” kata Wahono.

Terkait kejadian ini, Dirut PDAM Tirta Dharma Kabupaten Rejang Lebong, Orin Retno Setyawati mengatakan pengolahan air dan jalur perpipaan yang terpasang dari sumber air di Desa Apur  merupakan milik PDAM Tirta Sulap Kota Lubuklinggau. Adanya pengolahan air PDAM Tirta Sulap di Wilayah Kabapen Rejang Lebong karena sekitar tahun 1980 ada perjanjian kerjasama/MoU antara Pemprov Bengkulu dengan Pemprov Sumatera Selatan.

“Kita sudah tiga kali mencoba jalur kedinasan dan kekeluargaan agar dapat bertemu dengan pihak Dirut PDAM Tirta Sulap Kota Lubuklinggau, guna mencari solusi tetapi hingga sekarang belum bertemu. Sentimen pihak PDAM Tirta Sulap sangat tinggi, bahkan mereka mencabut alat pengatur distribusi air sehingga pasokan air untuk Wilayah Rejang Lebong kecil,” kata Orin.

Kabag Ekonomi Pemkab Rejang Lebong, Aprizal Apriansyah yang hadir dalam hearing tersebut  mengungkapkan  persoalan ini mencuat karena memang saat ini pasokan air dari Desa Apur debetnya berkurang, akibat faktor alam dan cuaca serta pertambahan jumlah penduduk.

Terkait pengelolaan sumber air di desa Apur oleh PDAM Tirta Sulap Lubuk linggau berdasarkan MoU antara Pemprov Bengkulu dengan Sumsel terjadi sekitar tahun 1980.

Memang ada MoU antar dua provinsi ini dimana waktu itu Lubuk Linggau mendapatkan bantuan dari Bank Dunia dalam bentuk pembangunan pengolahan air bersih, Rejang Lebong sendiri memang mendapatkan kontribusi yang diterima dari Pemprov Bengkulu melalui dana bagi hasil. Kita Akan mencari naskah MoU tersebut, baik ke Pemprov Bengkulu ataupun Prov Sumsel, selanjutnya mencari solusi agar Pemkab Rejang Lebong dan Kota Lubuklinggau sama-sama mendapatkan besaran manfaat yang diterima,” kata Aprizal.

Terkait isi perjanjian kerjasama/MoU antara Pemprov Bengkulu dengan Pemprov Sumatera Selatan, hingga saat ini baik DPRD ataupun Pemkab Rejang Lebong tidak mengetahui isi kerjasama itu dan sistem bagi hasilnya.

“Kita dari  DPRD merencanakan akan bertemu dengan pihak Kota Lubuklinggau dan Pemprov Bengkulu guna mencari solusi, tetapi harus mengetahui terlebih dahulu isi MoU Pemprov  Bengkulu dengan Sumsel,” katanya.

Sebagai solusi awal agar warga mendapatkan air bersih  yakni pergantian distribusi air, siang hari untuk Kota Lubuklinggau dan malam hari untuk Kabupaten Rejang Lebong atau sebaliknya,” kata Wahono.

Orin dalam kesempatan tersebut menawarkan solusi jangka pendek sembari mencari solusi jangka panjang. “Solusi yang bisa dilakukan yakni menggunakan sumber mata air dari Desa Pelalo Kecamatan Binduriang dimana debitnya sangat tinggi,” kata Orin.

Hearing DPRD Rejang Lebong dengan PDAM Tirta Dharma Rejang Lebong terkait Permasalahan Pasokan Air PDAM Tirta Dharma Rejang Lebong. Rapat dipimpin oleh Ketua DPRD Kabulaten Rejang Lebong sementara Wahono, dihadiri Wakil Ketua Surya anggota DPRD Rejang Lebong Destiansyah Ngadiono, Metalia Tri Ningsih, Henni Popiani, Lukman Efendi, M Yusuf, Juwita, Beni Irawan, Farozi, Asli Matap Nurul Khoiriyah dan Sanusi Pane. Dirut PDAM Tirta Dharma Rejang Lebong Orin Retno Setyawati, Kepala Unit Pelayanan Helmi dan para pegawai, Kabag Ekonomi Pemkab. Rejang Lebong Aprizal Apriansyah. [Julkifli Sembiring]