PedomanBengkulu.com, Bengkulu Utara- Saat ini setidaknya ada 103 lubang-lubang tambang yang tidak direklamasi di Provinsi Bengkulu. Lubang-lubang tambang ini tersebar di wilayah-wilayah kabupaten yang masif perizinan tambang : kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, dan Seluma.

Ulli direktur Genesis mengatakan lubang-lubang tambang ini merupakan situs kejahatan terhadap lingkungan. Pasalnya ada kewajiban yang tidak ditaati, baik oleh perusahaan maupun oleh negara, yaitu mengembalikan kembali kawasan yang telah ditambang seperti kawasan semula, baik secara fungsi maupun fisik wilayah. Kewajiban reklamasi dan pasca tambang.

“Lubang-lubang tambang ini merupakan situs kejahatan terhadap lingkungan” ungkap Ulli, Sabtu (5/10/2019).

Hasil Analisis Genesis Bengkulu, dari akumulatif jumlah lubang tambang tersebut, sebanyak 32 lubang tambang tak bertuan. Lubang tambang tak bertuan yang dimaksud adalah lubang-lubang tambang yang tidak direklamasi oleh perusahaan, kemudian perusahaan tersebut dicabut izinnya karena tidak Clean and Clear (CnC) atau habis masa berlaku izinnya.

“Dari akumulatif jumlah lubang tambang tersebut, sebanyak 32 lubang tambang tak bertuan” ungkapnya.

Beberapa lubang tambang tak bertuan tersebut berada di eks konsesi PT. Cipta Buana Seraya, PT. Danau Mas Hitam, dan PT. Ferto Rejang. Tiga perusahaan ini hanya sebagian kecil dari total 22 perusahaan yang juga terdapat lubang tambang di konsesinya.

PT. Cipta Buana Seraya, perusahaan yang mengektraksi batu bara di Desa Lubuk Unen dan Pagar Jati, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Utara, ini memiliki luas konsesi 2649,59 hektar. Nomor SK IUP 138 TAHUN 2009 berlaku sejak 31 Juli 2009 hingga 01 Maret 2019. Perusahaan ini meninggalkan sebanyak 4 lubang tambang dengan total luasan 48 hektar.

PT. Danau Mas Hitam, komoditi perusahaan ini adalah batu bara. Beraktivitas di wilayah Desa Bajak, Kecamatan Taba Penanjung, Bengkulu Tengah. Perusahaan ini mengantongi izin Nomor SK IUP 143 Tahun 2011, berlaku sejak 10 April 2012 dan berakhir 13 Desember 2018. Perusahaan ini meninggalkan 3 lubang tambang dengan total luasan kerusakan 350 hektar. Salah satu lubang tambang perusahaan ini berada di kawasan hutan produksi Rindu Hati I.

PT. Ferto Rejang, perusahaan yang mengantongi izin IUP dengan Nomor SK 366 TAHUN 2010 ini mengektraksi batu bara di desa Bajak, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Utara. Terdapat 1 lubang seluas 64 hektar. [Sugeng]