Pedomanbengkulu.com, Bengkulu Utara – Gempuran izin-izin perkebunan, terbukanya akses sehingga terjadi peningkatan aktivitas di kawasan yang menjadi habitat gajah Sumatera ini menyebabkan terjadinya konflik antara gajah dan masyarakat. Selain itu kematian gajah Sumatera akibat perburuan ataupun dibunuh juga sering terjadi.

Catatan Genesis Bengkulu periode tahun 2011 terdapat 7 (tujuh) ekor gajah mati diduga karena keracunan. Pada tahun 2018 ditemukan gajah mati membusuk akibat keracunan, yang ditemukan di HP Air Teramang. Konflik dan perburuan tinggi terjadi pada periode tahun 2007-2018 dengan total kematian 20 gajah; 14 Gajah liar dan 6 gajah jinak. Kasus terbaru kematian gajah ditangani BKSDA Bengkulu, kematian gajah bentina berusia sekitar 20-30 tahun di HP Air.

“Periode tahun 2011 terdapat tujuh ekor gajah mati diduga karena keracunan. Pada tahun 2018 ditemukan gajah mati membusuk akibat keracunan, yang ditemukan di HP Air teramang,” ucap Ulli selaku direktur Genesis Bengkulu kepada Pedomanbengkulu.com, Sabtu (19/10/2019).

Kasus terbaru kematian gajah ditangani BKSDA Bengkulu ditemukan di Desa Retak Mudik, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

“Kasus terbaru kematian gajah ditangani BKSDA Bengkulu, kematian gajah betina berusia sekitar 20-30 tahun di HP Air,” katanya.

Selain kematian, tercatat juga konflik antara gajah Sumatera dan masyarakat. 2016 dan Februari 2017, diperkirakan 17-20 ekor gajah masuk ke kebun warga dan kebun Kas Desa mulik Desa Gajah Makmur (SP.8), Kecamatan Malen Deman kabupaten Mukomuko.

“Menurut warga dalam satu malam lebih dari 100 batang kelapa sawit yang rusak akibat di makan dan roboh oleh kawanan gajah,” ungkapnya.

Perubahan peruntukan kawasan hutan yang begitu politis dan sarat akan kepentingan perizinan ekstraktif seperti perkebunan skala besar dan pertambangan berkorelasi besar dengan tingginya konflik dan kematian gajah Sumatera.

“Maka, sekiranya usulan pelepasan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat dilepaskan dan diturunkan statusnya, Hutan Produksi Terbatas Air Ipuh II dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis juga dilepaskan, habitat satwa kunci ini akan kian menyempit dan konflik dan kematian gajah akan semakin meningkat” pungkasnya. [Sugeng]