PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Herianto tersangka dugaan penyiraman air keras terhadap istrinya sendiri di salah satu Hotel Kota Bengkulu beberapa waktu lalu yang menyebabkan korban meninggal dunia menjalani pelimpahan tahap dua dari penyidik Kepolisian Resort (Polres) Bengkulu ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu dan statusnya naik satu tingkat menjadi terdakwa, Rabu (16/10/2019).

Kepala Kejari Bengkulu Emilwan Ridwan, SH.MH melalui Kasi Pidana Umum (Pidum) Muhammad Anthoni membenarkan jika pihaknya menerima telah pelimpahan perkara tersebut dari penyidik Polres Bengkulu. Berdasarkan pemeriksaan terdakwa mengakui kalau terdakwa sendiri yang melakukan penyiraman terhadap korban yang sudah meninggal dunia.

“Kalau direncanakan memang terdakwa mempersiapkan terlebih dahulu air keras tersebut,” ujar Muhammad Anthoni.

Muhammad Anthoni menjelaskan, motinya sakit hati dengan korban soal rumah tangga. Untuk dakwaan JPU berdasarkan dakwaan dari penyidik. Yang jelas setelah peristiwa tersebut berselang sekitar dua hari ketika korban dirawat di rumah sakit.

“Itu yang akan membuktikan nanti di persidangan lebih jelas perbuatan dari terdakwa ini. Terdakwa kita tahan untuk mempermudah proses persidangan,” terang Muhammad Anthoni.

Dalam berkar perkara terdakwa di kenakan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP lebih subsider Pasal 335 ayat 2 jucto Pasal 356 KUHP jucto lebih-lebih subsider Pasal 354 KUHP jucto Pasal 356 KUHP lebih-lebih subsider lagi Pasal 353 ayat (3) jucto Pasal 356 KUHP dan Pasal 44 ayat (3) Undang Undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

Dilansir sebelumnya, kejadian penyiraman air keras ini berawal saat korban dari Pasar Panorama hendak pulang kerumah. Tiba-tiba  pada saat di Taman Remaja korban dicegat oleh He yang pada saat itu bersama temannya.

Setelah itu korban diajak suaminya untuk pergi ke Hotel Gumay Tanah Patah sekira pukul 12.00 WIB. Setelah chek in korban diduga dipaksa terduga pelaku untuk melayaninya sebanyak tiga kali dengan alasan korban masih istri sah pelaku.

Kemudian menjelang malam, korban dituduh pelaku berselingkuh. Saat itu diduga pelaku mengeluarkan pisau yang diselipkan di pinggangnya.

Saat ditanya terduga pelaku, korban tidak mengaku berselingkuh, namun terduga pelaku tetap menuduh korban berselingkuh.
Karena diduga korban takut dengan pisau yang dibawa pelaku, kemudian korban mengakui bahwa ia berselingkuh. Pengakuan tersebut diduga bermaksud agar korban tidak diancam lagi.

Kemudian sekira pukul 02.00 WIB pelaku mengambil satu botol air diduga cuka parah dari dalam tasnya. Kemudian botol yang diduga berisi cuka parah tersebut dipecahkan menggunakan pisau milik pelaku diatas kepala korban. Sehingga korban mengalami melepuh disekujur tubuh dan penglihatan korban sudah tidak berfungsi lagi.

Korban dan pelaku tersebut diduga sedang dalam proses perceraian dan diduga pelaku memang kerap melakukan kekerasan. Korban dan pelaku memiliki seorang anak perempuan yang berumur 5 tahun dan anak tersebut dirawat oleh keluarga terduga pelaku. [Anto]