Oleh : Fenti Fitriani
SMK Negeri 1 Kota Bengkulu

Dengan wajah kusut khas orang bangun tidur, Marcella Azahra atau yang akrab disapa Zahra menyapa sang bunda.

“Masak apa bun?” tanya Zahra sembari menatap wajan yang berisi iga sapi, “Bunda masak sop iga? Yeeeeee, ” tanya Zahra lalu berjingkrak senang.

Bunda berbalik menatap Zahra, putri satu satunya itu, “belum siap siap? ” tanya bunda yang membuat Zahra nyengir kuda. Seketika Zahra sudah tak berada di depan sang bunda.

Bunda kembali berbalik, melanjutkan aktivitas memasaknya, “Akhirnya selesai,” gumam bunda.

Wanita bernama asli Marva Gravelly ini merupakan seorang wanita yang telah membesarkan Zahra, setelah ayah Zahra yang bernama Marshel Chrisvano meninggalkan Zahra, pergi? Ya, tapi entah kemana. Bahkan setelah 10 tahun berlalu pun, Zahra dan bunda tak pernah mendapat kabar darinya meski hanya selembar surat.

Tap… Tap… Tap

Zahra menuruni tiap tangga dengan earphone di telinganya, tak lupa dengan seragam sekolah, sepatu putih, tas abu-abu dan dengan rambut ikal yang dibiarkan terurai.

Bunda melipat tangan melihat putri berjalan santai, “Zahra, bentar lagi bel nak, Sarapan dulu ya? ” tawar bunda sembari mengoleskan selai coklat di dua lembar roti tawar.

Zahra tersenyum menatap sang bunda, sembari mengambil kunci mobil di atas lemari.

“Bun, Zahra kayaknya nanti pulang telat,” ujar Zahra sembari mengambil roti yang telah dioles oleh sang bunda.

Bunda menaikan alis kanannya, meminta penjelasan lebih.

“Zahra mau ke kantor, kemaren Zahra ditelepon sama Melly, kalau di kantor sedang ada masalah,” jelas Zahra.

Zahra memang masih kelas XI di SMA Nusa Bangsa, salah satu sekolah favorit di Kota Bandung. Meski umur Zahra masih menginjak 16 tahun, tapi Zahra telah mampu membantu mengurus perusahaan ayahnya. Bundanya juga memiliki perusahaan sendiri, tepatnya berada di Indramayu. Tak ada waktu untuk meng-handle dua perusahaan sekaligus. Karena itu, perusahaan sang ayah dialih namakan atas nama Zahra.

Bunda mengangguk, “Ya udah, hati-hati,” pesan bunda.

Zahra tersenyum, sejenak kemudian Zahra sudah berada di dalam mobilnya. Zahra melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.45WIB.

Yaelah, pagi banget gue pergi,” gumam Zahra lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari garasi dan menyusuri jalan raya. Ekor matanya melirik sebuah mobil hitam tak jauh di belakang mobilnya melalui kaca spion.

Zahra menghela nafas, “Sorry, gue harus ke sekolah,” gumam Zahra, lalu memacu kecepatan mobilnya hingga 100km/jam.

Tak lama, Zahra sudah berada di depan sekolahnya. Gerbangnya pun hampir saja tertutup jika Zahra tidak mengklakson berkali-kali.

Zahra memarkirkan mobilnya dengan santai.

“Zahra?!” panggil seorang guru cantik bernama Natasya dan bersama Pak Adji.

Zahra melangkah mendekatinya, “Kenapa bu? ” tanya Zahra santai.

“Kamu ini! Kamu tidak lihat sekarang jam berapa? ” tanya pak Adji.

Zahra memanyunkan bibirnya kesal.

“Bu Nata, pak Adji. Sekarang Itu baru jam 7 lewat 16 menit, berarti Zahra gak telat kan? ” tanya Zahra santai.

Pak Adji menatap kesal, “Selalu saja ada jawabannya! ” omel pak Adji.

“Yaelah pak, kalau ada pertanyaan harus kudu dijawab atuh,” balas Zahra sembari nyengir kuda.

Tinnnnnnn… Tinnnnn

Sebuah mobil silver melaju kencang dan berhenti tepat di samping mobil Zahra.

“Charel Aljacob?!!” panggil pak Adji.

“Yaelah pak, manggil orang ya manggil. Tapi jangan di telinga saja juga keles!” gerutu Zahra.

Seorang lelaki keluar dari mobil silver itu, berjalan santai mendekati pak Adji, bu nata dan Zahra, “eh, ada pak Adji. Udah balik dari haji ya pak?” tanya lelaki itu yang bernama Charel Aljacob dan akrab di sapa Jek.

Pak Adji melotot tajam, “Kamu ini!! ” bentak pak Adji.

“Kalian berdua bersihkan toilet masing-masing!” perintah Bu Nata.

Zahra nampak berfikir, “Toilet Zahra mah ada di rumah atuh bu,” balas Zahra

Jek ikut membenarkan ucapan Zahra, “Bener tuh bu,” sahut Jek.

“Kalian berdua!!! Saya tambah hukumannya, membersihkan taman belakang!” perintah Bu Nata.

“Ditambah bersihkan kaca mobil saya!” sahut Pak Adji.

Zahra menggerutu kesal,”salah Zahra apa pak? ” tanya Zahra dramatis.

Bu Nata menatap Zahra tajam, membuat Zahra bergidik ngeri.

“Kapan pak ngerjainnya?” tanya Zahra.

Pak Adji dan Bu Nata kompak menatap Zahra kesal, “Sekarang Zahra!! ” bentak Bu Nata dan Pak Adji.

Jek berjingkrak senang, “Zahra aja kan pak? ” tanya jek hendak berjalan melewati Zahra. Tapi dicegah oleh Zahra, “Lo mau kemana?!” tanya Zahra.

“Ke kelas lah,” jawab Jek santai.

“Charel! Zahra!, Kerjakan hukumannya sekarang! atau hukumannya mau saya tambah lagi?!” bentak Bu Nata.

“Nyesel gue gak langsung kabur,” gerutu Jek.
Tuu kan! Elo sih! “balas Zahra kesal.
“Ehh, btw pak, kan kita berdua cuma telat satu menit, masa iya hukumannya ada tiga. Harusnya kan cuma satu,” protes Zahra.

“Zahra!”

Zahra hanya menampakan cengiran tak bersalah kemudian ngacir.

Umpatan kesal mengiringi pergerakan Zahra membersihkan kaca mobil pak Adji. Sedangkan Charel, entah sejak kapan dia pergi membuat Zahra semakin murka.

Awas aja lo Jek! Lo liat apa yang bakal gue lakuin nanti!” ancam Zahra.

Dilihatnya pak Adji sedang tertidur pulas di meja satpam. Zahra tersenyum kecil, kemudian melepaskan semua lap, ember dan lainnya. Tapi, sebelum melangkah, otak jahil Zahra muncul. Zahra mengambil lap putih yang sudah berwarna hitam. Tak lupa, ember yang berisi air bekas ngepel toilet pun ikut serta di tangannya. Zahra meletakkan lap di samping Pak Adji. Dengan pergerakan cepat, Zahra menyiramkan air bekas ngepelnya tadi sembari berteriak histeris, “Banjirrrr!!!!! ” teriak Zahra kemudian berlari terbirit-birit.

Pak Adji yang langsung terbangun karna suara Zahra itu pun langsung ikut berteriak, “Banjir-banjir!” teriak Pak Adji sembari mengambil lap di dekatnya dan mengelap wajahnya. Tatapan Pak Adji jatuh pada mobilnya yang belum sama sekali bersih,

“Zahraaa, Charel!” teriak Pak Adji kemudian menghampiri mobilnya. Beberapa siswa-siswi yang melewati Pak Adji langsung terkikik membuat Pak Adji kebingungan.

“Lohh, bapak habis bersihkan selokan?” tanya Bu Fria yang kebetulan lewat.

Pak Adji mengernyit, “Nggak kok bu,” jawab Pak Adji.

Lahh terus kenapa wajah bapak seperti…”Bu Fria tidak melanjutkan kata-katanya karna Pak Adji keburu melihat kaca spion.

Umpatan kesal dari Pak Adji terdengar oleh Zahra yang berada tak jauh dari kejadian itu. Zahra tertawa keras kemudian berlari menuju kantin sebelum Pak Adji menyadari keberadaannya. Bertepatan dengan Zahra sampai di kantin, suara pak Adji yang menggelegar menyebutkan nama Zahra.

“Hukumannya udah selesai?” tanya Charel yang entah sejak kapan sudah berada di depan Zahra.

Zahra berdecak kesal, lalu menonjok wajah Charel yang membuat sang pemilik wajah meringis karna bibirnya pecah, “Gila lo! Sakitt bego! ” ketus Charel.

Zahra hanya mencibir acuh, “Salah siapa biarin gue sendirian! ” balas Zahra acuh.

Charel menggeram kesal, “Obatin atau lo harus jadi pacar gua!” ancam Charel.

Ga dua-duanya!” ketus Zahra kemudian memesan semangkuk bakso dan segelas jus jeruk.

Baru saja Zahra meletakkan menu makanannya, Charel telah menyerobot bakso dan jus jeruk tanpa permisi.

Woyy! Enak aja lu main serobot ae! Gua laperr tau!” protes Zahra tanpa menghiraukan siswa-siswi lain yang menatapnya.

“Salah lo ga mau ngobatin gua!” balas Charel kelewat santai.

Zahra merutuki nasibnya yang harus bertemu cowo sejenis Charel. Rasanya saat ini tanduk setan sudah muncul di kepalanya. “Mang Ijoo! ” teriak Zahra kepada tukang bakso.

Lelaki paruh baya yang merasa namanya disebut pun langsung mendekat, “Iyaa neng Zahra mau pesan apa?” tanya Mang Ijo.

Zahra tersenyum jahil ,”Bakso dua mangkok, soto satu, pangsit satu, es sumsum dua dan tiga jus apel!” bisik Zahra.

“Dan semuanya, Jek yang bayarin,” imbuhnya.
Mang ijo baru saja akan melangkah pergi, “Baksonya yang level 7 ya mang sama es sumsumnya jangan pakai susu sama gula, tapi pakai kecap dan jeruk nipis, jus apelnya agak telat aja ya mang” bisik Zahra.

Tak lama pesanan pun datang dan benar saja, Charel langsung menyerobot bakso milik Zahra. Baru satu pentol yang masuk ke dalam mulutnya, Charel langsung berteriak kepedasan kembali menyerobot es sumsum milik Zahra.

“Zahraa bangsatt luu!! ” teriak Charel langsung berlari karna lidah dan perutnya menjadi tak karuan.

Zahra memegangi perutnya dan tertawa keras, “Mampus lo!” teriak Zahra langsung menyeruput jus apel, soto dan pangsitnya. Setelah selesai, Zahra menghembuskan nafas lega, “Kenyang! ” teriak Zahra.

Mang, tagih sama Jek ae ya!,” lanjut Zahra masih dengan teriakannya.

Zahra berlari dan masuk ke dalam kelasnya, “Woyy Ra! Dari mana aja lu?” tanya Devon, teman sebangkunya dengan tatapan mengintimidasi.

Zahra melangkah acuh, “Ngantin lah, kemana lagi!” jawab Zahra kelewat santai.

“Ra!!!” teriak gadis kecil dengan wajah imutnya yang selalu pengen Zahra cubit, Namanya Viara.

Zahra mendaratkan bokongnya di atas meja, “Apaan?” tanya Zahra.

Viara mengambil nafas dengan ngos-ngosan. “Ta.. di… ”

“Nafas dulu gih, baru ngomong!” potong Zahra cepat.

Viara menarik nafas dalam, setelah teratur Viara langsung berbicara, “Lo…

“Udah teratur belom nafas lu? ” potong Zahra lagi.

Viara mengerucutkan bibirnya kesal, “Ga usah dipotong dulu, gue mau jelasin!” ujar Viara pelan.

Zahra menaikkan bahunya, sembari mencibir.

Lo dipanggil pak Jun di BK!” jelas Viara.

“Kapan? ” tanya Zahra menatap Viara.

“Sekarang,” jawab Viara.

Zahra berdecak kesal, “Dasar Pak Adji, kenapa kudu lapor ke BK sih! Dasar guru BK tukang adu! Gue aduin juga lu ama ikan cupang!” umpat Zahra kesal namun langsung turun dari meja dan melangkah menuju ruang BK.

Zahra memasuki ruang BK setelah dipanggil oleh Viara tadi. Dengan langkah santai, Zahra duduk tanpa dipersilahkan, “Apa hukumannya bro?” tanya Zahra pada Pak Jun.

Pak Jun menggeleng, kemudian pintu terbuka menampakkan wajah Charel yang pucat, “Kamu kenapa pucat seperti itu? Apa karna kamu deg-degan ketemu dengan wajah ganteng saya?” tanya Pak Jun PD sembari merapikan poninya.

Zahra berdecak kesal dengan Charel yang duduk di samping Zahra,” buruan elah pak, kasih tau apa hukumannya!” desak Zahra kesal.

Pak Jun mengeluarkan dua buah amplop putih lengkap dengan cap sekolah, “Baca sendiri!” ujar Pak Jun dengan nada kesal.

Tangan Zahra meraih amplop itu dan membaca selembar kertas yang berada di dalamnya,” whatdefak sirr!! Skors?” protes Zahra.

Pak Jun mengangguk, “Iya, biarkan sekolah aman sejenak tanpa siswa dan siswi seperti kalian!” balas Pak Jun.

“Yes, bisa nge-game berhari-hari!” sorak Charel.

“Saya akan bilang sama ayah kamu untuk segera menyita semua aset untuk sementara waktu!” ancam Pak Jun.

Zahra terkikik melihat ekspresi wajah Charel yang seketika kembali pucat pasi.

Thanks pak! Jangan rindu kalo besok saya ga masuk okee!” teriak Zahra sembari keluar dari BK.

Charel turut keluar tanpa permisi, terlintas di benak Charel untuk mengempesi semua ban mobil milik Zahra, dengan segera Charel menuju parkiran. Dan benar saja, mobil Zahra masih terparkir rapi. Mobil putih dengan dengan stiker serigala di body-nya.

Lu cewek apa cowok sih, doyannya kok sama serigala. Mending sama gue,” gumam Charel lalu terkikik geli karna ucapannya.

Ngarep aja lu!” Cetus Zahra yang entah sejak kapan berdiri di samping Charel.

Buset dahh, lu kek jelangkung aja. Datang ga diundang, pulang ga dianter!” celetuk Charel yang langsung mendapat respon berupa jitakan keras.

Nih mobil gw! kenapa bannya…” ucapan Zahra terpotong saat melihat Charel berlari kemudian berbalik dan menunjukkan senyumnya.

Umpatan kesal mengalir begitu saja di bibir Zahra, tak lupa dengan tangannya yang masih setia mendorong mobilnya.

Tak lama Zahra menemukan sebuah bengkel besar, bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman senang, “Pak, tolong cek ban mobil saya dong!” ujar Zahra tanpa menatap orang yang sedang ia ajak bicara.

Namun entah kenapa Zahra merasa tempat ini sangat sunyi, Zahra mendongak. Dan benar saja, di depannya adalah preman-preman sewaan, “Shit! ” umpat Zahra.

“Kedatangan tamu nih!” celetuk salah satu preman itu.

Zahra menatap lekat wajah preman itu, wajah itu begitu familiar, “Jian! ” gumam Zahra. Tangannya mengepal mengenali wajah itu, wajah yang sangat dibencinya, “Mau apa lo?” cetus Zahra.

“Hajar!” sebuah titah terdengar.

Preman itu mulai mendekat dan menghajar Zahra, “Keroyokan hm! ” gumam Zahra kemudian menghajar semua preman itu hingga babak belur, tangan Zahra mengarah pada kerah baju Jian, “Siapa yang Bayar lo?” tanya Zahra dingin.

Jian tersenyum sinis, kemudian pandangan Zahra mengabur seiringan dengan punggung dan kepalanya sakit dan segerombolan geng motor menghampirinya.

Bersambung,
Nantikan kisah kenakalan Zahra di episode berikutnya.