Oleh : Inas Zhafirah

(Mahasiswi Pendidikan Fisika, Universitas Bengkulu)

Era Revolusi Industri 4.0 telah mewarnai pola pendidikan di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri teknologi yang terus berkembang mampu melejitkan akses kemudahan dan waktu yang singkat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Itu merupakan efek keuntungan dari peranan teknologi sekarang ini. Begitupun kemudahan dalam mengakses ilmu sudah beragam sumbernya. Tentu kemajuan RI 4.0 ini juga tidak boleh terlepas dari pantauan pendidik dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia.

Banyak beragam pertanyaan yang mencuat kala kita membahas akan kemana arah visi pendidikan ini. Karena sebuah negara bisa kokoh, salah satu faktornya dari sumber daya manusianya yang mesti bahkan harus tercipta keahlian minimal dalam satu bidang keahlian. Sayangnya banyak pula kepincangan atau bahkan kegagalan pendidikan di era kapitalisasi ini dalam melahirkan manusia yang berakhlak juga memiliki daya intelektualitas yang baik.
Baru-baru ini terdengar kasus pembunuhan guru di Manado dimana pelakunya adalah siswa dari korban itu sendiri.

Dipaparkan bahwa sebelum korban ditikam, ia juga dikeroyoki oleh siswanya. “Dari hasil pemeriksaan 6 saksi yang saat kejadian ada di TKP (tempat kejadian perkara) kepolisian akhirnya menetapkan satu tersangka baru, yakni OU (17), yang ikut mengeroyok korban ketika pelaku FL melakukan aksi penikaman,” ujar Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel saat dimintai konfirmasi (detik.com).

Alasan mendasar terjadinya pembunuhan dimana korban ditikam dengan sebilah pisau karena sang suru menegur siswanya yang merokok di lingkungan sekolah. Lalu, tersulutlah emosi pelaku yang akhirnya membuat ia merenggut nyawa manusia yang telah mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak didiknya.

Kasus lain yang turut menyumbang pemberitaan dengan tagline ‘kasus penganiayaan guru’ ialah pada tahun 2017 silam, seorang guru bernama Osi Wulandari pengajar di SMP N 3 Kerkap kabupaten Bengkulu Utara dianiaya oleh siswanya sendiri dikarenakan sang guru menegur siswa yang duduk di atas meja saat sedang berlangsung jam belajar. Bukannya mengikuti nasihat guru tersebut, siswa justru melawan bahkan memukul bagian muka sang guru hingga tulang hidungnya patah (kompasiana.com).

Sederet kasus di atas hanyalah bagian dari fenomena gunung es. Itu baru sebagian kecil yang terlihat, belum lagi kasus yang tidak muncul dipermukaan pemberitaan media. Bahkan kasus serupa merupakan kasus yang berulang dalam era pendidikan yang menjalankan fungsional kapitalisasi saat ini.

Latar belakang penganiyaan guru oleh siswa hampir semuanya dikarenakan teguran sang guru saat melihat perilaku tidak sopan dari anak didik. Karena siswa tidak mau mendengarkan dan justru melawan, akhirnya bermuara kepada penganiyaan yang bahkan tak sedikit berujung kepada kematian.

Sungguh miris melihat kondisi pendidikan dewasa ini, dimana peranan ruang pendidikan seolah-olah hanya menciptakan ‘robot siap kerja’ tanpa tersentuh hati nuraninya untuk memiliki nilai kemanusiaan. Secanggih-canggihnya teknologi dari zaman ke zaman, tetaplah posisi guru tidak bisa tergantikan oleh robot. Dalam ranah memperdalam sisi kognitif bisa saja peranan guru berkurang karena banyaknya sumber belajar terlebih dengan ragam kemudahan dalam mengakses informasi seluas-luasnya. Tetapi, dalam proses mendidik kepribadian yang baik atau berakhlak mulia dari segi afektif tentulah peranan guru sangat penting dalam ranah tersebut yang juga mesti disokong oleh peranan negara dalam sistem pendidikan yang bermutu.

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang terus dikembangkan oleh para peneliti berhasil membuat tiruan manusia seperti berbahasa, memproses hasil suatu perhitungan matematika, dan bisa mengalami perpindahan posisi. Kecerdasan buatan ini memang lebih juara dalam kapasitas berlogika tetapi tetapi tidak bisa mengalahkan peranan kecerdasaan alami yang lahir dari manusia itu sendiri. Seperti pembahasan sebelumnya, dalam membentuk sikap siswa yang berakhlak mulia. Sayangnya, sejauh ini pun pencapaian integritas aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sulit dijangkau.

Jika kita telusuri lebih jauh, ternyata adanya kebuntuan dalam membentuk kepribadian yang kokoh-kepribadian Islami. Asas akidah Islam sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pelajar yang bergelar takwa, berakhlak mulia, dan cerdas. Sehingga tak heran, dikala masa kejayaan Islam-syariat Islam diterapkan oleh negara-menghasilkan para ilmuan yang memahami beragam bidang yang membuktikan bahwa ilmu sains tidaklah bertentangan dengan ilmu agama.

Kegagalan Melahirkan Generasi Gemilang; ideologi kapitalisme.

Dengan diterapkannya ideologi kapitalisme paska kemenangan negara adidaya Amerika setelah perang dunia kedua dan terlebih kala itu sudah tidak ada lagi peranan politik umat Islam yaitu runtuhnya peradaban imperium kekhilafahan turki usmani. Maka berjalanlah asas sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Untuk urusan ibadah antara manusia dengan Tuhannya dipersilahkan, tetapi untuk urusan manusia dengan manusia yang lainnya maka kewajiban untuk taat pada aturan Ilahi adalah kemustahilan. Termasuk dalam bidang pendidikan. Semua kalangan pelajar sekarang hanya disibukkan oleh kepadatan isi kurikulum yang terimplementasikan dalam proses kegiatan belajar mengajar yang menyebabkan ruang untuk mempelajari ilmu agama sangat minim. Konteks pelajaran agama pun diberi ruang yang sempit. Kemudian, terbentuknya dikotomi dalam dunia pendidikan.

Lahirnya sekolah maupun kampus berlabel negeri dan berlabel Islam yang rumpun ilmunya pun dipisahkan. Maka tak heran, lahirlah generasi yang sekedar tahu suatu ilmu tapi tak pandai dalam memahaminya dan gagal menghubungkannya dengan eksistensi nilai Ketuhanan dalam kehidupan.

Peradaban Islam Mencetak Generasi Gemilang.

Mari kita bercermin pada perdaban Islam yang berhasil mencetak generasi emas. Seperti Imam Syafi’i seorang ahli ushul fikih dan ilmuwan astronomi. Kemudian, Ibnu Khaldun bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau juga ahli dalam ilmu politik. Lalu, Ibnu Sina bapak kedokteran dan ahli filsafat. Ada juga Al-khawarizmi ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Tak lupa penanan ilmuwan muslimah yaitu Maryam “Al-Astrolabiya” al-Ijliya yang sangat berjasa dalam mencetuskan alat pemburu bintang atau GPS pertama di dunia. Dilansir dari ganaislamika.com, menurut Prof. Saleem Al-Husaini, “Maryam adalah Muslimah pertama pembuat cikal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern. Pekerjaan yang dilakukannya rumit dan berkaitan dengan persamaan matematis tapi ia mampu membuktikan kemampuannya dalam bidang ini”.

Selain itu, seorang muslimah lainnya Zaynab Shahda mengungguli dalam bidang seni kaligrafi memiliki kedisiplinan dan kesungguhan yang tinggi dalam menuntut ilmu karena tujuan akhir dari seorang khattat ialah kemampuan menulis ayat suci Al-Quran yang benar juga memiliki nilai estetika yang tinggi.

Tentu masih banyak nama ilmuwan muslim dan muslimah Islam lainnya yang belum tersampaikan. Mereka semua bisa menjadi seorang polimatik-memahami beragam ilmu-karena integrasi beragam bidang keilmuan dengan penyokongnya yaitu akidah Islam yang terpancarkan melalui hukum syara yang diterapkan oleh negara kala itu.

Solusi Tuntas : Kembali Menerapkan Syariat Islam.

Maka jelaslah bahwa terpuruknya generasi sekarang karena diterapkannya hukum buatan manusia yang berlandaskan oleh asas sekulerisme dalam lini kehidupan. Mencetak generasi yang miskin adab dan banyaknya kemaksiatan yang terjadi memudarkan girah dalam menuntut ilmu untuk mencapai tujuan tertinggi yaitu ridho Ilahi serta memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat. Hal itupun diakui oleh seorang professor Amerika selaku mantan CIA, Graham E Fuller juga pernah mengatakan dalam buku A World Without Islam yang dalam versi arabnya Al-alam Bilaa Islam, “Kalau bukan karena Islam, dunia ini miskin peradaban, kebudayaan, dan intelektua”.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam sukses melahirkan para tokoh ilmuwan yang peranannya diakui oleh dunia dan juga memiliki kepribadian Islami yang mendahulukan adab sebelum berilmu.

Sehingga perlulah kesadaran umat sekarang ini bahwa kunci dari mengembalikan generasi emas nan gemilang adalah dengan kembali menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan -termasuk bidang pendidikan -yang akan mengulang peradaban Islam yang tercatat tinta emas sejarah meliputi 2/3 dunia selama hampir 14 abad.