Kebudayaan silat masyarakat Lebong tempo dulu.
Kebudayaan silat masyarakat Lebong tempo dulu.

 

SUDAH 74 tahun republik ini merayakan hari pahlawan, dan perayaan ini terasa hanya sebagai peringatan hari-hari besar pada kalender nasional. 10 November terasa seperti seremoni kepahlawanan saja karena patriot yang terkenang begitu sedikit.

Banyak yang gugur tapi sedikit yang tercatat. Bahkan mereka yang gugur setelah mewakafkan hidupnya buat kelahiran bangsa ini terkenang pun tidak dalam literasi sejarah. Betapa pilu yang dirasa, karena bangsa ini terasa pelit memberi penghargaan sejarah. Setidaknya bangsa ini mesti menunjukkan itikad besarnya melakukan penggalian sejarah.

Di kota ini, Bengkulu, kebanyakan literasi sejarah masih ditulis dengan versi penjajah: “the early colonial power”, kata Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, Ahmadin Dalip, Bahkan buruknya ada yang memberi stempel perlawanan rakyat melawan penjajah sebagai “pemberontak” atau rakyat yang bertempramen kasar dan bukan pahlawan.

Di hari pahlawan ini kami tulis sekilah cuplikan sejarah kedatangan Inggeris pertama kali ke Bengkulu (1685). Sejak semula rakyat menyimpan api sekam karena menolak pengakuan transfer kekuasan ke kompeni Inggeris. Bengkulu adalah wilayah independent. Kondisi masa itu terekam dalam surat Resident Prince kepada Geroge Swinton di Calcutta, ia menulis laporannya:

“Guna melindungi dan memajukan penyelenggaraan hukum mereka, para Kepala Rakyat (the Chiefs) itu terbuka hatinya untuk menerima pihak Kompeni, akan tetapi , tidaklah sekali-kali mereka sudi mengakui bertakluk kepada Inggeris, dan sesungguhnya demikian bahwa mereka senantiasa diakui sebagai bangsa yang merdeka serta berdaulat (independent people), dimana segala privilage mereka, hukum-hukum mereka serta lembaga mereka tidaklah mengalami pemerkosaan apa-apa.”

Selama 140 tahun Inggeris berkuasa tidak kecil perlawanan rakyat yang berkobar. Salah satu pertempuran hebat yang pecah antara rakyat pribumi dan kolonial Inggeris terjadi pada tanggal 27 Desember 1807.

Adakah yang masih mengingatnya? Pertempuran itu terjadi di Mount Folix, yang terletak antara Fort Marlbrough dan daerah Selebar atau di Pulau Baai. Malam itu, Resident Inggeris Thomas Parr yang terkenal bertangan besi itu tewas di tangan rakyat.

Meski tanpa persenjataan yang seimbang, sebanyak 300 pemuda berani menyerbu kediaman Inggeris. Mereka yang tak “berdosa” dibebaskan, termasuk istri Thomas Parr. Perlawanan rakyat tersebut dipicu kebijakan sistem tanam paksa kopi yang disebutnya “free garden”. Dispotisme Resident Inggeris ini terkenal seantero, rakyat yang menolak tanam kopi akan dipanggang di bawah matahari dan diberi minum air urine.

Sebagai balasan, pihak Inggeris membakar rumah-rumah penduduk dan meratakan dusun-dusun yang disebutnya sarang pemberontak. Di Dusun Besar saja, dalam semalam 650 rakyat tewas. Inggeris membunuh dengan cara membabi-buta. Adipati Lagan, Pagar Dewa dan Sukarami, dibunuh dengan cara teragis, diikat di bibir meriam.

Untuk mengenang dan memulihkan nama baik Inggeris, maka didirikan monument Thomas Parr yang berada di Jalan Ahmad Yani. Dalam monument itu nama Thomas Parr ditulis dengan harum bersama bait-bait puisi: Hero are deposited the Remains of Tomas Parr—terbaring pahlawan terakhir.

Sungguh luar biasa penghargaan Inggeris terhadap warganya, sebuah penguasa bertangan besi digelari pahlawan. Sementara, pribumi yang telah berjasa mengakhiri riwayat seorang penjajah seperi Thomas Parr, tak pernah ada plakat puisi, bunga apalagi monumentnya. Pahlawan-pahlawan kita seakan mati sia-sia tanpa jejak.

Siapakah pahlawan yang mengakhiri riwayat Thomas Parr? Dalam buku Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, Arsip Nasional 1982, menyebutkan pahlawan itu bernama Si Anyut dan Raja Lelo alias Si Banjar, bersama Adipati Sukarami, mereka adalah pelopor perjuangan di Mount Folix.

Seperti juga Thomas Parr, mengapa nama Sir Thomas Raffles terasa lebih harum. Mengapa nama pahlawan kita tak sepopuler mereka. Apakah kita sungguh–sungguh menghargai jasa para pahlawan? Atau jangan-jangan kita masyarakat yang ahistori, lupa akan sejarah dan tanah lahir kita. Sebab menuturi Seokarno, bangsa “jas merah” yang tak kenal sejarah akan punah ditelan masa!

Selamat Hari Pahlawan.