Diawali dengan benih, kemudian tumbuh menjadi kecambah, terus berkembang menjadi tanaman kecil, sampai ia tumbuh menjadi pohon yang siap dipanen buah-buahnya. Barang kali ini analogi yang tepat untuk menggambarkan perkembangan bangsa kita Indonesia.

Benih-benih untuk menjadi sebuah negara bangsa pada mulanya telah ada dan terkandung dalam masyarakat itu sendiri. Benih negara bangsa itu ada dan menyatu bersama perjuangan rakyat melawan kolonialisme Belanda, Portugis dan Jepang. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana benih itu bisa hidup dan tumbuh? Pupuk semacam apakah yang dapat menyuburkan benih-benih itu? Bagaimana proses perkembangan benih bangsa Indonesia?

Sekilas kita kembali ke pelajaran sejarah. Sebagai negara penjajah, Belanda menguasai segala sektor. Hal ini yang membuat Tirto Adisuryo terus berpikir keras agar dapat mengeluarkan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonial Belanda. Tirto Adisuryo kemudian membangun sebuah organisasi pers yang dinamakan Medan Priyai. Selanjutnya organisasi tersebut digunakan sebagai media propaganda membangun kesadaran nasionalisme rakyat Indonesia. Selain itu Tirto dalam karya jurnalistiknya melakukan analisis kritis terhadap pemerintah Hindia Belanda. Hampir semua karya tulis Tirto yang dimuat oleh Medan Priyayi berbahasa melayu. Bahasa tersebut sering digunakan oleh seluruh bangsa pribumi atau bahasa melayu pasar. Di kemudian hari bahasa melayu digunakan oleh aktivis pergerakan kemerdekaan.

Selain itu, Tirto juga mendirikan organisasi Syarekat Priyayi yang merupakan organisasi pertama di Indonesia. Kondisi ekonomi yang dimonopoli oleh kolonial membuat pedagang Islam merasa tidak bebas menjalankan kegiatan ekonomi. Alhasil para pedagang Islam membangun sebuah organisasi pada tahun 1905 yaitu Syarekat Islam (SI). Organisasi perdagangan inilah yang mengayomi seluruh pedagang besar maupun pedagang kecil dari kelompok Islam. Pendirian organisasi ini pula dimaksudkan untuk menentang kolonial Belanda.

Berselang tiga tahun (1908) berdiri sebuah organisasi Budi Utomo, organisasi yang anggotanya diisi oleh golongan berpendidikan asal Jawa. Akan tetapi akhirnya berubah menjadi sebuah organisasi pergerakan yang mengarah pada emansipasi. Tahun 1912 berdiri sebuah organisasi yang dinamakan Indische Partij di bawah kepemimpinan tiga serangkai yaitu Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hadjar Dewantara. Organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan penyadaran akan rasa cinta tanah air, rasa kebangsaan serta menghilangkan pengaruh diskrimasi khususnya keturunan Belanda dan Indonesia.

Praktek kolonisasi Belanda bagaikan lahan subur yang siap ditanami benih perlawanan oleh bangsa pribumi. Seluruh kekuatan pergerakan, mengarahkan moncong perlawanan kepada pemerintahan kolonial Beland. Namum perlawanan terhadap kolonialisme Belanda masih berlandaskan kepentingan identitas. Berbekal dari sejarah panjang perlawanan rakyat Indonesia yang dimulai dari Tirto Adisuryo, Syerakat Dagang islam, Budi Utomo, Indische Partij serta kondisi bangsa yang masih terpecah belah, para pemuda mengkonsolidasikan kekuatan bangsa. Puncaknya pada 28 0ktober 1928 yang kita kenal dengan sumpah pemuda. Para pemuda dari berbagai organisasi yang berbasis kedaerahan dan organisasi mahasiswa berhasil dipersatukan untuk mempersiapakan diri membangun sebuah bangsa tanpa pejajahan.

UU no 40 tahun 2009 pasal 1 ayat 1 mengatakan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Lebih lanjut dikemukakan Koentjaraningrat (1997) pemuda adalah suatu fase yang berada dalam siklus kehidupan manusia. Dimana fase tersebut bisa ke arah perkembangan atau perubahan. Ini dibuktikan dengan sejarah panjang bangsa, gerakan perubahan dipelopori oleh kalangan muda, seperti Sukarno, Hatta, Syarir, Tan Malaka, dan lain-lain. Pernah diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda tidak membuat semangat perjuangan mereka kendor, mereka tetap memperjuangkan keadilan bagi rakyat Indonesia.

28 0ktober 1928, pemuda Indonesia berani dan muncul untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda, peristiwa penculikan Sukarno dan Hatta yang dilakukan oleh para pemuda yang kemudian kita kenal dengan peristiwa Rengasdengklok di mana kondisi saat itu sedang direpresi oleh kolonial Belanda dan Jepang. Kondisi yang represif semacam ini juga dihadapi oleh gerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Sejarah mencatat bahwa selama 32 tahun memimpin, Soeharto melakukan tindakan represi, intimidasi, pembungkaman melalui militer. Peristiwa sejarah di atas sebenarnya menunjukan kepada kita bagaimana kaum muda Indonesia hadir untuk mewarnai dinamika perjalanan bangsa Indonesia.

Kondisi yang represif semacam ini masih ada sampai sekarang. Akhir-akhir ini sering kita jumpai berita tentang pemukulan dan penangkapan aktivis. Selain itu kegiatan diskusi-diskusi ilmiah sering kali direpresi dan dibubarkan secara paksa oleh ormas-ormas yang tidak bertanggungjawab. Fenomena represifitas di buktikan dengan aksi tolak pabrik semen di kampus Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (06-05-2017) dihiasi tindakan represi oleh satpam kampus, aksi HMI tolak kedatangan Presiden Jokowi di Sulsel (13 juli 2017) direpresi oleh Polisi dan TNI, aksi LMND Makasar menutut nasionalisasi Freeport (10-10-2017), aksi di Banyumas oleh aliansi gerakan reforma gararia (AGRA), aksi penolakan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) Gunung Slamet (09-10-2017) diwarnai oleh tindakan represi Polisi dan Pol PP terhadap wartawan, aksi aliansi mahasiswa Papua dihadang kepolisian (1-12-2018). 24-25-30 September 2019 publik disajikan dengan tontonan aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa, Pelajar STM, Jurnalis serta Buruh lewat demo yang bertajuk revormasi dikorupsi, data dari Polda Metro Jaya mengungkapkan sebanyak 1489 orang ditangkap, sebanyak 380 orang memenuhi unsur tersangka. Aksi serentak dilakukan di Indonesia merespon kebijkan pengesahan undang-undang KPK, RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, dan RUU Ketenagakerjaan, dari aksi tersebut menyimpan duka lara mahasiswa dan pelajar dipukuli oleh aparat, bahkan enam orang harus kehilangan nyawa.

Beberapa data yang dirangkum merupakan tindakan represi aparat keamanan yang terjadi selama tahun 2017-2019. Represi merupakan tindakan yang bersifat menekan, mengekang atau menindas yang sering dilakukan oleh penguasa untuk mempertahakan kekuasaan. Fakta di atas, sekiranya dapat membuka alam pikiran kritis, bahwa di tengah gempuran arus neoliberal yang berdampak pada individualisme serta sikap apatis. Masih terdapat juga kaum muda tidak tinggal diam melihat kondisi bangsanya yang sedang mengarah pada ketidakadilan. Namun kita juga perlu melihat kenyataan lain, dimana kondisi kaum mudah yang tergabung dalam organsisasi gerakan cenderung pada sikap eklusif, seringkali juga tidak sejalan dengan gerakan rakyat, sebagai contoh kaum mudah terlibat dalam permainan politik idesntitas SARA, diperpara dengan sikap patronase pada senior segingga seringkali ditunggangi kepentingan elit-elit yang sedang bertarung merebut kekuasaan.

Sebelum Indonesia merdeka, kolonialisme Belanda, Portugis dan Jepang merupakan instrumen penjajah yang melakukan tindakan represif terhadap segala usaha para pemuda untuk memperoleh kemerdekaan. Suratan takdir berkata lain, setelah kemerdekaan 17 agustus 1945, bangsa Indonesia kembali dijajah. Akan tetapi kali ini penjajahan bukan berasal bangsa asing melainkan oleh negaranya sendiri. Negara hadir sebagai alat kekuasan oleh kelas berkuasa seperti yang dikatakan oleh Louis Althusser “aparatus represif negara” sehingga bangsa Indonesia jauh dari yang namanya keadilan dan kesejahteraan.

Sejarah mencatatat bahwa para pemuda terdahulu pernah melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dengan cara menggalang persatuan kekuatan dikalangan pemuda. Taktik tersebut berhasil membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Pertanyaanya apakah taktik yang serupa akan digunakan dengan bertumpu pada kaum pemuda? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu menelaah kondisi obyektif bangsa hari ini. Bangsa Indonesia disusun oleh empat kelas sosial antara lain kelas borjuis, marhaen, buruh, dan lumpen proletar yang semuanya saling berdialetika dalam formasi sosial kapitalisme. Ini artinya jika ingin negara kita hadir untuk mensejahterakan rakyatnya seperti dicita-citakan oleh Sukarno yang kemudian dituangkan dalam pancasila (sosio demokrasi, demokrasi dalam bidang politik dan ekonomi) maka kekuatan pemuda perlu dan harus melibatkan persatuan kekuatan seluruh elemen kelas dengan kepemimpinan kelas buruh. Perjuangan ini diarahkan untuk menuntut negara agar kembali ke filosofi pancasila, sehingga terciptalah masyarakat adil dan makmur.

Redemtus D Tore Komunitas Keluarga Lio Jogja (KLJ)