PedomanBengkulu.com, Jakarta – Berkaryalah dengan empati, begitu pesan Arief dalam sesi ngobrol audiovisual, Reboan Jaker di Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2019) malam. Ia menjelaskan, dalam proses berkarya seni, kami berusaha menempatkan sepatu kami pada sepatu lainnya, kami hanya ingin menjadi megaphone untuk suara-suara yang terpinggirkan.

Dhika dan Arief pembicara dalam diskusi tersebut adalah dua anak muda yang eksis menghasilkan karya-karya audiovisual, membentuk komunitas independen dengan nama Sinema Nomaden. Lewat metode nonton bareng film pendek, dokumenter Sinema Nomaden menawarkan diri kepada para film maker yang ingin membawa karyanya ke daerah-daerah yang masih minim referensi dan pengetahuan akan film.

Malam itu Arief banyak menyampaikan bagaimana menyiapkan konten dan konsep matang untuk sebuah karya audiovisual. Sementara Dhika mengambil porsi bagaimana hal-hal teknis yang mendukung produksi. Dhika menyempitkan obrolan tentang audiovisual menjadi mobile video making.

“Kenapa membahas audiovisual? Karena kita lebih tertarik dengan gambar-gambar yang bergerak, dengan suara yang membuat indera pendengaran kita nyaman, dan audiovisual sendiri adalah media yang sangat efektif untuk mengantar pesan, dan pesan tersebut lebih mudah tersampaikan lewat film, animasi, dan lainnya,” ungkap Dhika, Rabu (20/11/2019) malam.

Lanjut Dhika, audiovisual di perkembangan teknologi saat ini sudah kita anggap lumrah sebagai media yang paling cocok, mudah dan cepat dalam menyebarkan informasi. Dan dari perkembangan teknologi itu sendiri kita sudah bisa mengakses informasi dimanapun, kapanpun lewat smartphone.

“Kalau dulu sebagian besar kita punya kendala dalam membuat karya audiovisual karena ketiadaan camera, ketiadaan audio recorder, tak punya software editing, tapi berkat perkembangan jaman dan dengan ditemukannya smartphone maka semua begitu dimudahkan karena dari gadget kita sudah tertanam camera, audio recorder dan perangkat/software editingnya,” jelas Dhika.

Selanjutnya, Dhika mendetilkan tehnik dasar dalam mobile audio making, hal pertama yang harus diperhatikan dalam membuat karya audiovisual melalui handphone kita adalah storage (media penyimpanan data), sudah cukupkah ruang penyimpanan kita harus disiapkan seluas mungkin karena menjadi tidak efektif ketika saat kita merekam satu peristiwa tiba-tiba kehabisan memori penyimpanan.

Kedua, resolusi gambar atau aspek ratio, Dhika menyarankan kita menggunakan resolusi gambar paling besar 1080, dengan aspek ratio 16:9 (widescreen).

Karena kita membuat video menggunakan handphone dan target distribusinya adalah sosial media yang punya aspek ratio berbeda-beda. Untuk youtube 16:9 (meski bisa juga dengan aspek ratio yang lain seperti 4:5 atau 4:3 sesuai kebutuhan).

Instagram aspek rationya 1:1 tapi juga bisa diisi 16:9, begitu juga di Facebook 4:5, vertikalnya 2:3 dan horisontalnya 16:9. Yang harus diperhatikan saat kita merekam usahakan posisi layar horisontal agar saat proses editing menjadi mudah karena kita tinggal menyesuaikan output ratio-nya.

Ketiga terkait alat bantu, untuk pengambilan gambar yang stabil kita membutuhkan tripot, gimbal/stabilizer yang itu sangat membantu kita dalam mengambil gambar dengan pergerakan camera yang beragam.

Lalu ada microphone eksternal bisa dipakai saat kita akan membuat karya audiovisual yang membutuhkan wawancara agar kwalitas audionya baik. Harus diperhatikan juga saat kita merekam untuk mengetahui letak microphone di handphone kita, jangan sampai saat merekam tangan kita menghalangi microphone karena nanti output audio tidak maksimal dan jernih.

Keempat, Dhika menjelaskan soal komposisi obyek atau gambar yang akan direkam, dimana ada jenis-jenisnya; long shot, medium shot dan close up. Masing-masing komposisi ini digunakan untuk mendukung dan menyesuaikan dengan narasi/cerita, karena tiap komposisi gambar menghasilkan kesan berbeda.

Kelima, tentang sudut pengambilan gambar oleh camera, ada high angle (posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil), normal angle (posisi kamera sejajar dengan mata obyek yang diambil), low angle (posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil).

Keenam, tentang pergerakan kamera, ada panning, pan right-left, tilting, tilt up-down (gerak kamera dari kiri ke kanan atau sebaliknya). Tracking dimana kamera bergerak mendekat atau menjauhi obyek.

Terakhir Arief dan Dhika mengajarkan materi-materi hasil pengambilan gambar tadi diolah dengan software editing. Mereka mencontohkan bagaimana menempatkan teks judul, komposisi ukuran, memberi efek transisi hingga pengaturan output video hasil editan tadi.  [Tejo Priyono]