Pedomanbengkulu.com, Seluma – Kabupaten Seluma merupakan wilayah yang juga terdapat pasangan dibawah umur, mengajukan pernikahan meski sudah ada revisi UU Perkawinan. Meski ditolak KUA, pasangan tetap bisa mengajukan disepensasi ke pengadilan agama. Kenaikan usia minimal pernikahan yang diatur dalam revisi undang undang pernikahan, disambut baik oleh aktivis perempuan dari Yayasan Pusat Pendidikan Untuk Peremuan dan Anak (PUPA) Bengkulu, Grasia Renata Lingga. Ia mengatakan, pernikahan diusia dini merupakan tekanan bagi para perempuan dan anak.

“Naiknya usia minimal pernikahan menjadi batasan juga bagi masyarakat, untuk gak ngebet banget menikahkan anak. Mengurangi tekanan bagi anak perempuan. Mendobrak stigma soal, pernikahan, dan tentu saja anak perempuan mendapat kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan,” kata Grasia, Minggu (08/12/2019).

Grasia menilai peningkatan batasan usia minimal pernikahan akan berdampak baik tidak hanya untuk perempuan dan anak, tetapi juga untuk seluruh lapisan masyarakat.

“Kenaikan usia minimal pernikahan akan berdampak baik, jika negara mampu mengimplementasikannya lewat sosialisasi, instruksi maupun surat edaran ke seluruh lapisan masyarakat. Artinya, masyarakat harus tau dulu dan paham apa tujuan besar menaikkan angka minimal pernikahan terutama bagi perempuan,” jelasnya.

Kedepan penerapan revisi UU Perkawinan harus diikuti dengan langkah langkah lainnya, seperti sosialisasi dan membuka ruang diskusi dengan masyarakat.

“Selanjutnya ya, (Pemerintah) menguatkan KUA, dukcapil, dinas terkait untuk serius juga menangani persoalan administrasi sebagai syarat pernikahan. Dan tentu saja pemerintah juga harus memberikan ruang dialog dan diskusi kritis bagi masyarakat, untuk membahas resiko-resiko dan kerentanan yang dihadapi anak-anak perempuan yang menghadapi pernikahan di usia anak,” jelas Grasia. (IT2006)