Ilustrasi Mural Politik

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bengkulu telah meluncurkan dimulainya tahapan Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2020 mendatang. KPU pun mengumumkan Pilgub akan digelar pada hari Rabu tanggal 23 September 2020.

Selain itu, KPU Provinsi Bengkulu juga telah menyiarkan bahwasanya penyerahan dokumen Bakal Pasangan Calon Perseorangan Gubernur dan Wakil Gubernur dimulai pada tanggal 16 hingga 20 Februari 2020 dengan syarat dukungan minimal 139.911 yang tersebar di enam kabupaten/kota se Provinsi Bengkulu.

Sederet nama telah muncul memenuhi bursa Pilgub Bengkulu 2020, baik dari kalangan politisi, petahana, TNI/Polri, birokrat, para bupati, termasuk para tokoh-tokoh yang berasal dari dalam, maupun dari luar provinsi Bengkulu.

Apa yang dapat dilihat secara kasat mata dari bursa Pilgub 2020 ini adalah masih kuatnya kesan usaha untuk saling berebut kekuasaan. Para kandidat segera mengejar formulir pendaftaran ketika partai politik membuka proses penjaringan. Wajah-wajah kandidat memenuhi ruang-ruang publik dalam bentuk baliho, iklan dan spanduk-spanduk.

Semua itu menunjukkan betapa jabatan gubernur masih menjadi sesuatu yang diidam-idamkan. Hidup enak dengan fasilitas mewah dan dihormati serta dipuja oleh khalayak masih menjadi motif utama dalam merebut kursi gubernur.

Padahal sejatinya, menjadi seorang pemimpin apalagi setingkat gubernur adalah sebuah beban berat yang seharusnya dihindari bagi seseorang yang berjiwa bersih dan berhati luhur.

Orang yang memiliki kesucian rohani pasti menyadari bahwa kekuasaan adalah sama halnya seperti dunia, hanyalah bangkai, dan yang mengejarnya adalah anjing.

Kekuasaan bisa menjadi sumber fitnah dan kehancuran bagi seseorang yang memang sejak awal memiliki niat menjadikannya sebagai alat untuk memperkaya diri dan memuaskan kepentingan pribadi.

Namun sikap skeptis tersebut tidak berlaku bagi seseorang yang hatinya penuh keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi seseorang yang memiliki kerisauan tinggi akan banyaknya umat manusia yang jauh dari amalan agama, hidup sia-sia dan berjalan sehari-hari di dunia hanya untuk masuk ke dalam neraka, maka menempati kursi kekuasaan menjadi penting dan mendesak.

Hal ini sesuai dengan pesan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwa barangsiapa yang melihat kemungkaran seperti maraknya kemaksiatan, pemiskinan rakyat, korupsi, penggusuran, pengrusakan alam melalui eksploitasi perkebunan dan pertambangan, maka harus ia ubah dengan tangan atau yang ditafsirkan ulama dengan kekuasaan.

Dus, bila di Bengkulu ada kandidat yang memandang kekuasaan adalah sarana untuk meneruskan kerja kenabian, mengajak seluruh umat yang berada di bawah kekuasaannya untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka dia merupakan sosok yang paling tepat untuk diberikan dukungan.

Sosok seperti itulah yang hatinya tidak mungkin ada kepalsuan, ia pasti mencintai rakyatnya sebagaimana nabi-nabi mencintai umatnya. Sosok seperti itu akan menerima kekuasaan sebagai takdir, tidak takut atau bersedih hati, bahkan bergembira ketika Allah subhanahu wa ta’ala belum memberinya amanah berupa kekuasaan.