PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Pengadilan Negeri Bengkulu menggelar sidang tuntutan terhadap, Herianto terdakwa dugaan penyiraman air keras terhadap istrinya sendiri di salah satu Hotel Kota Bengkulu beberapa waktu lalu yang menyebabkan korban meninggal dunia, Kamis (19/12/2019).

Dalam sidang tersebut, di hadapan Majelis Hakim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu menuntut terdakwa dengan hukuman 20 tahun penjara.

Sidang dengan agenda tuntutan tersebut diwarnai kericuhan, karena pihak keluarga korban tidak terima dengan tuntutan JPU yang menuntut terdakwa dengan hukuman 20 tahun penjara. Nyaris terdakwa mendapat amukan dari keluarga korban. Beruntung pihak kepolisian dan jaksa yang mengawal sidang tersebut segera mengamankan terdakwa.

Lulita selaku adik korban dengan tegas mengatakan bahwa pihak keluarga tidak terima dengan tuntutan 20 tahun tersebut. Tuntutan itu menurutnya tidak ada keadilan bagi pihak keluarga korban.

“Pembunuhan sekeji itu hanya dituntut 20 tahun belum lagi nanti ada kuasa hukum yang bisa meringankan hukumannya. Kami benar-benar tidak terima,” jelas Lulita.

Pihaknya meminta agar terdakwa minimal dituntut dengan hukuman seumur hidup. Dengan tuntutan JPU tersebut pihaknya menilai di Indonesia tidak ada lagi keadilan bagi masyarakat kecil.

“Memang tidak ada keadilan lagi di Indonesia ini, dimana pejabat-pejabat Bengkulu yang katanya wah nian cari nama semua, pas sekarang apa tidak ada yang mengawal kasus ini. Memang kami ini orang kecil selalu menjadi korban, pembunuhan berencana sesadis itu cuma dituntut 20 tahun,” tegas Lulita.

Sementara itu, Ketua Tim JPU Kejari Bengkulu
Andi Febrianda mengungkapkan tuntutan yang disampaikan JPU merupakan tuntutan maksimal karena memang dari perkara tersebut itu 15 tahun penjara namun dapat ditambah jadi 20 tahun penjara.

“Makanya kami selaku JPU sudah melakukan penuntutan secara maksimal kepada terdakwa sendiri,” ungkap Andi.[Anto]