Pedomanbengkulu.com, Rejang Lebong – Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korwil Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menggelar diskusi bersama “Membentuk Generasi Milenial Peduli Lingkungan” Jumat (13/12/2019) di Aula BTNKS PTN Wil III Bengkulu-Sumsel.

Diungkapkan Ketua FK3I Korwil Rejang Lebong, Tedi Riski dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan semakin banyak generasi milenial yang punya minat dan ketertarikan terhadap lingkungan, untuk bergabung bersama kader konservasi.

“Kita berharap semakin banyak generasi milenial yang mau peduli dan mau ambil bagian untuk peduli lingkungan, FK3I ini dibentuk untuk wadah bagi kita untuk berbagi pengetahuan soal lingkungan, flora dan fauna yang nantinya melalui media sosial kita sebarkan agar kita dan masyarakat sama-sama belajar peduli lingkungan,” kata Tedi.

Ditambahkan Tedi peran generasi milenial sangat dibutuhkan saat ini untuk keberlangsungan lingkungan, khususnya di kabupaten Rejang Lebong.

Persoalan lingkungan, baik soal sampah, kawasan konservasi yang dirusak dan juga perdagangan satwa tidak cukup hanya peran yang dilakukan instansi terkait.

“Generasi milenial harus terlibat dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan, apalagi didukung dengan kemajuan teknologi. Dengan berbagi pengetahuan melalui media sosial akan memberikan pengetahuan soal lingkungan ke masyarakat,” kata Tedi.

Kegiatan diskusi Peduli Lingkungan yang digelar oleh FK3I korwil Rejang Lebong ini diikuti 30 peserta dari pemerhati lingkungan, mahasiswa, penggiat konservasi dan pecinta alam. Adapun narasumber Muhammad Zainuddin Kepala Bidang BTNKS PTN Wil III Bengkulu-Sumsel, dengan materi Peran BBTNKS dalam penyadartahuan generasi muda melestarikan generasi muda, kemudian Yasih Kurniati bersama Insan Rhamdani peran BTNKS dan Permasalahannya serta Ketua FK3I Korwil Rejang Tedi Riski yang menyampaikan Kader konservasi dan kawasan konservasi.

Ada beberapa pembahasan penting saat diskusi tersebut, diantaranya upaya-upaya mengurangi sampah hidup untuk meminimalisir sampah, melakukan jejaring aksi peduli lingkungan di tiap wilayah, mencari cara menaikkan nilai sampah sehingga pengelolaannya memiliki nilai ekonomi, menekan dan memaksa pemerintah untuk menghentikan pemberian izin pengambilan SDA yg merusak alam dan lingkungan dan tantangan membangun loka baru melalui ekowisata yg didukung oleh stakeholder. [Julkifli Sembiring]