PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Beberapa waktu yang lalu terjadi konsolidasi mahasiswa yang dimotori oleh Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Sumbangsel.

Lalu Konsolidasi itu tergabung dalam Cipayung Plus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di WIC HMI Cabang Bengkulu, terkait petaka kemanusiaan dan ekologis berdirinya PLTU Batubara di Kelurahan Teluk Sepang, Kamis malam (19/12/2019) yang lalu.

Adapun hasil konsolidasi tersebut mengajak mahasiswa untuk kosongkan kampus, kita kuliah di jalan #TelukSepangMemanggil #MahasiswaBersatu #PLTUBahayaLaten.

Pada Senin (23/12/2019) yang lalu. Aksi mahasiswa se-provinsi Bengkulu yang terhimpun dari Cipayung Plus, tersebut mengadakan aksi di depan Gerbang PLTU Batubara Kelurahan Teluk Sepang, dan dilanjutkan dengan penyegelan PLTU.

Tidak terlalu lama setelah aksi, tagar atau hastag PLTU Bahaya Laten kian mewabah mewarnai Bumi Raflesia, tidak hanya di media sosial tetapi sampai di halaman Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Bengkulu, belum diketahui siapa yang membuat coretan tersebut.

Setelah dilakukan penelusuran, dari mana, siapa yang melakukan coretan tersebut, kami tim dari PedomanBengkulu.com menghubungi langsung Dewan Dede Irawan, selaku Ketua BADKO HMI Sumbangsel, selaku penyelenggaraan Konsolidasi beberapa waktu yang lalu, Kamis (26/12/2019).

Dewan mengatakan, hastag yang terdapat di dindingĀ  Kantor gubernur serta pagar DPRD Provinsi Bengkulu tersebut kami tidak tahu sumbernya dari mana.

“Selesai dari aksi beberapa hari yang lalu kami langsung membubarkan diri dan dilanjutkan dengan evaluasi aksi,” kata Dewan.

Sampai saat ini, sambung Dewan, kami belum ada membahas tindak lanjut dari aksi, apakah ada aksi lanjutan.

“Menyikapi coretan yang mewabah tersebut kami belum tahu, siapa pelakunya, tapi kami yakin itu adalah orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan di Bumi Raflesia ini,” tutupnya.[Soprian]