Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan

Sebuah informasi menggelitik mewarnai pemberitaan media lokal dan nasional terkait pesan Wali Kota Bengkulu H Helmi Hasan terkait adanya ancaman tsunami lokal pada malam tahun baru di kawasan Pantai Panjang.

Bermula dari sebuah video tentang pidato Wali Kota Helmi Hasan di akun Youtube RBTV Camkoha bahwa ia menyebut telah menerima informasi akan adanya tsunami lokal di Bengkulu khususnya di kawasan Pantai Panjang pada malam tahun baru menjadi viral.

Sepekan sejak diposting pada tanggal 20 Desember 2019 di Youtube atau pada tanggal 28 Desember 2019 pukul 13.05 WIB, video ini telah 116.422 kali ditonton.

Jumlahnya terus bertambah dengan cukup pesat seiring maraknya media nasional yang memviralkan video tersebut.

Dalam pidatonya, Wali Kota Helmi Hasan memang menggunakan bahasa yang unik, yakni tsunami lokal, sebatas Pantai Panjang. Sehingga dengan bahasa ini, Helmi menekankan jangan mendekati Pantai Panjang di tahun baru.

“Pantai, laut, terutama Pantai Panjang itu akan naik,” kata dia yang disambut tertawaan sejumlah peserta yang hadir yang memahami bahwa sang Wali Kota saat itu tengah bercanda.

Tampaknya Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono memahami maksud candaan sang Wali Kota.

Makanya tak aneh saat dihubungi Kompas.com, Rabu (25/12/2019), ia hanya menjawab perkara ini secara singkat.

“Sepertinya wali kota belum paham antara gelombang tinggi dan tsunami,” ungkapnya.

Padahal jika video Youtube RBTV Camkoha yang memuat pernyataan Wali Kota Helmi Hasan itu diperhatikan lagi secara seksama, pada awal tayangan telah ditegaskan bahwa maksud candaan Helmi dengan tsunami lokal itu adalah naiknya air laut.

Meski pesan Wali Kota bernada candaan, namun adanya pihak-pihak yang kemudian mengangkat masalah ini ke permukaan dengan serius, bahkan menyatakan bahwa sang Wali Kota telah mendahului Tuhan, menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Patut dicermati dengan seksama bahwa pesan utama Wali Kota Helmi Hasan dibalik pernyataannya yang viral itu adalah keinginannya agar warga tidak melakukan aktifitas hura-hura, sia-sia, atau mengandung kemaksiatan yang kerap dilakukan generasi muda di tepian pantai saat malam tahun baru.

Sebaliknya, ia menginginkan agar warganya mengisi malam pergantian tahun itu dengan memenuhi rumah ibadah dan melakukan kegiatan positif, bukan memenuhi Pantai Panjang atau tempat-tempat wisata lainnya dengan kegiatan negatif agar Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, tidak menurunkan murkanya kepada Kota Bengkulu.

Adanya kaitan yang kuat antara murka ilahi dalam bentuk bencana-bencana dahsyat dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia sebenarnya telah tertulis hampir di seluruh kitab suci agama-agama besar di dunia.

Coba cek dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir. Penjualan kondom dan minuman keras selalu meningkat drastis saat malam tahun baru. Tempat-tempat wisata penuh dengan pasangan muda-mudi yang membakar kembang api, memutar lagu-lagu cengeng yang mendorong mereka kebelet kawin, bahkan mendirikan tenda-tenda darurat agar bisa tidur bersama pasangannya masing-masing.

Kalaupun kemaksiatan yang marak dilakukan pada malam tahun baru itu tidak sampai mengundang murka ilahi, tapi bagi seorang kepala daerah, membiarkan generasi mudanya menghabiskan malamnya dengan kegiatan-kegiatan negatif adalah tindakan zalim.

Bisa dikatakan zalim, sebab, ketika seorang kepala daerah membiarkan generasi mudanya merayakan pesta tahun baru penuh dengan kemaksiatan, itu berarti sang kepala daerah membiarkan masa depan generasi mudanya di dunia berpotensi hancur, bahkan, bila mereka tidak sempat bertobat, dibakar dan disiksa di neraka untuk waktu yang lama.

Pesan sang Wali Kota harusnya dipandang dari sudut pandang ini.

Tsunami, gelombang tinggi, atau bahkan gempa besar, mungkin hanya akan menimbulkan kesusahan di dunia sementara saja. Namun menghabiskan waktu untuk perkara yang mengandung kemaksiatan, dalam kitab-kita suci telah dijelaskan, kesusahannya bukan hanya di dunia yang sebentar, tapi juga di akhirat yang selama-lamanya.

Semoga generasi muda Bengkulu terhindar dari berbagai malapetaka tersebut.

Soprian Ardianto Jurnalis Pedoman Bengkulu