IST/Bung Karno menari

Indonesia memiliki keberagaman yang tidak bisa disanggah baik itu dari suku, agama, ras, dan seni budaya. Hal ini juga yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia dan menjadi tonggak lahirnya semboyan; Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dari kesenian misalnya, setiap daerah memiliki ciri khas sendiri, baik itu musik, tarian, hingga legenda daerah. Jika di Bengkulu ada Tari Andun, maka di Minahasa dan Maluku ada Tari Lenso. Begitu pula dengan daerah lain yang memiliki seni tari berbeda-beda.

Mengulik tentang seni, Presiden Sukarno sangat mencintai kesenian semasa hidupnya. Bapak Proklamator bangsa Indonesia ini memiliki darah seni yang kental.

Sejarah mencatat bahwa kecintaan Bung Karno pada seni tidak diragukan lagi terutama seni tari.

Pada 17 Juli 1959, dikutip dari Buku Kronik Abad Demokrasi Terpimpin yang disusun oleh Koesalah Soebagyo Toer dengan cetakan pertama Februari 2016 disebutkan bahwa pada suatu kesempatan Presiden Sukarno menari lenso dengan istri Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Howard Palfrey Jones dalam sebuah pesta kebun di Istana Cipanas.

Acara ini mencerminkan membaiknya hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat (dengan Presidennya John F. Kennedy), berkat jasa Jones yang berhasil menjalin hubungan baik dengan Presiden Sukarno dan Ny. Hartini.

Hal senada dituliskan pula di historia.id, saat itu sehabis makan siang bersama Duta Besar Amerika, Sukarno memanggil Mangil Martowidjojo yakni komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP).

Kala itu Bung Karno pun bertanya pada Mangil, “Anak-anak ada atau tidak?” yang beliau maksud adalah anggota DKP.

Dan tidak lama setelah itu, anggota DKP segera menyanyi sambil memukul-mukul apa saja yang penting bersuara dan berirama.

Sukarno dan Hartini, Howard Jones dan istrinya, serta anggota staf kedutaan menari Lenso dan berlangsung meriah.

Kecintaan Bung Karno pada seni dibawanya bahkan dalam pertemuan antar Negara. Beliau sangat bangga mengenalkan kesenian Indonesia pada dunia.

Hal ini dibenarkan oleh Puti Guntur Soekarno yang tidak lain adalah cucu Sang Presiden. Dilansir dari kumparan.com, Puti mengaku bahwa seumur hidupnya sudah tak asing dengan dunia kesenian. Sebab, di dalam keluarganya, kesenian adalah hal yang wajib dipelajari.

Jadi tak heran anak-anak hingga cucu Sang Proklamator Bung Karno diwajibkan bisa menguasai sejumlah seni. Untuk perempuan biasanya harus pandai menari.

Diungkapkan Puti, Guntur Soekarno pandai tarian Gatot Kaca. Sementara Megawati luwes ketika menarikan tarian Srimpi. Sedangkan, Sukmawati handal dalam tarian Bali. Puti sendiri mengaku menguasai tarian Jawa dan Tari Gambyong. Jelaslah, darah Seni Sang Presiden mengalir hingga ke cucunya.

Tari Lenso sendiri adalah salah satu kesenian yang sangat disukai Bung Karno, beliau kadang tenggelam dalam gerak Tari Lenso bersama tamu-tamunya.

Untuk diketahui, mengutip wikipedia bahwa Tari Lenso adalah tarian muda-mudi dari daerah Maluku dan Minahasa, Sulawesi Utara. Tarian ini biasa dibawakan secara ramai-ramai bila ada Pesta. Baik pesta pernikahan, panen Cengkih, tahun baru dan kegiatan lainnya. Beberapa sumber menyebutkan, Tari Lenso berasal dari tanah Maluku. Sedangkan sumber lain menyebutkan tari ini berasal dari Minahasa.

Tari Lenso juga sekaligus ajang pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang. Lenso artinya Saputangan. Istilah Lenso, hanya dipakai oleh masyarakat di daerah Sulawesi Utara dan daerah lain di Indonesia Timur.

Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Selendang inilah yang menjadi isyarat: selendang dibuang berarti lamaran ditolak, sedangkan selendang diterima berarti persetujuan.

Kesukaan Bung Karno pada tarian ini melambungkan Tari Lenso ke mata dunia, bahkan Bapak Proklamator juga pernah memamerkan tarian ini saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Roma, Italia.

Seperti dituliskan sebelumnya bahwa grup musik pengiring yang dimiliki Bung Karno terdiri dari anggota DKP, pengawal presiden. Di bawah komando Mangil, anggota DKP memang bisa memainkan musik.

Saat kunjungan ke Italia, dan setelah jamuan makan malam selesai, Bung Karno dan yang lainnya diajak ke ball room. Di sana terdapat kelompok pemusik yang siap mengiringi para tamu untuk berdansa.

Kala itu Bung Karno hanya melihat orang-orang berpasangan yang berdansa. Mereka berdansa dengan anggun, memutar ke kiri mengikuti irama dan mengitari ruangan dengan teratur.

Bung Karno masih dengan posisinya duduk dan sesekali berbincang dengan tuan rumah, hanya duduk sebab dia bukan ahlinya dalam berdansa. Namun darah seni Bung Karno pun mendidih, seolah dia tak bisa hanya duduk saja melihat orang-orang menampilkan seni. Dan bukan Bung Karno namanya kalau tidak hadir dengan gebrakannya.

Seketika Sang Presiden pun memberikan kejutan. Selesai yang lain berdansa, Bung Karno meminta protokol, pengawal pribadi, dan ajudan untuk memainkan musik.

Jelaslah, hal yang terjadi selanjutnya adalah grup musik Bung Karno mengambil alih. Bung Karno menampilkan Tari Lenso bersama dengan yang lainnya.

“Mereka tahu aku memerlukan hiburan, jadi ada satu korps khusus yang bisa menyanyi, menari, dan merangkap pemain musik pada setiap pertemuan,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. Demikian serpih cerita tentang kentalnya darah seni yang mengalir dalam diri Sang Presiden. [Ivana]