Sumber Foto : Rehabilitasi Medik RSUP DR Rivai Abdullah Palembang.

Dalam masyarakat Indonesia penyakit kusta masih tergolong penyakit yang mempunyai stigma yang buruk. Tak jarang orang yang mengidap kusta mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam masyarakat. Tanda dan gejala klinis awal yang mirip dan sulit dibedakan dengan penyakit lain menjadikan penderita kusta terlambat didiagnosa sehingga baru mendapatkan pengobatan setelah terjadi keparahan yang menimbulkan kecacatan. Apa saja sebenarnya tanda awal dari penyakit ini? Masihkah ada kusta di antara kita?

Penyakit kusta telah dikenal hampir 2000 tahun sebelum Masehi, hal tersebut dapat diketahui dari peninggalan sejarah di Mesir, India, Tiongkok, dan Mesopotamia. Pada zaman itu penderita kusta yang umumnya merupakan rakyat biasa tidak mendapatkan perhatian, meraka malu dan mengalami rendah diri. Pada masa itu obat – obatan kusta belum ditemukan, para penderita kusta diasingkan dan dipaksa tinggal di Leprosaria, koloni, atau perkampungan pasien kusta seumur hidup. Sejak dr. Gerhard Armauer Henrik Hansen pada 1873 menemukan kuman Mycobacterium Leprae yang menjadi penyebab penyakit kusta, terbukti bahwa kusta disebabkan oleh kuman bukan karena penyakit turun temurun maupun kutukan.

Berdasarkan data WHO, dalam Weekly Epidemiological Report, September 2016, dari 14 negara yang melaporkan 1000 atau lebih kasus baru selama tahun 2015, Indonesia berada di urutan ke-3 terbesar setelah India dan Brazil. Data dari PUSDATIN Kemenkes RI, Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta, yaitu prevalensi kusta <1 per 10.000 penduduk (<10 per 100.000 penduduk) pada tahun 2000. Sedangkan pada 2016 angka penemuan kasus baru menjadi 6,50 kasus per 100.000 penduduk. Penemuan kasus baru kusta di Provinsi Bengkulu meningkat sejak dari tahun 2015 sampai 2017, yakni 17 orang pada 2016, 20 orang pada 2016, dan meningkat menjadi 26 orang pada tahun 2017. Angka penemuan kusta baru yang paling tinggi terdapat di Papua Barat, yakni 86,09 % (788 orang pada 2017)

Penyakit kusta menyerang berbagai bagian tubuh di antaranya syaraf dan kulit. Tanda dan gejala awal pada kulit yang dapat diamati mirip dengan penyakit kulit lainnya, di antaranya kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh tertentu. Kerusakan pada kulit umumnya terdapatnya bercak seperti panu, dapat berwarna putih atau merah, bercak ini dapat ditemui di seluruh bagian tubuh atau di bagian tubuh tertentu. Gangguan syaraf pada penderita kusta mengakibatkan mati rasa pada kulit sehingga penderita tidak merasakan nyeri apabila terluka, hal ini berbahaya karena luka yang terinfeksi akan susah sembuh dan dapat terjadi mutilasi pada jari – jari. Penyakit kusta menular antar manusia melalui kontak kulit yang berlangsung lama dan melalui pernafasan. Keterlambatan diagnosa dan penatalaksanaan yang buruk akan mengakibatkan kerusakan permanen pada kulit, kecacatan anggota gerak, dan kecacatan pada mata. Masa inkubasi penyakit ini tergolong lama sejak tertular, yakni 2 hingga 5 tahun, bisa kurang atau lebih, bahkan ada yang 30 tahun baru menimbulkan tanda- tanda menderita kusta. Prinsip pengobatan pada pasien kusta yaitu dengan kepatuhan meminum obat  Multi Drugs Therapy (MDT) yang harus diminum pasien selama 6 sampai 18 bulan tergantung tipe kusta ( tipe PB dan MB). Tujuan pengobatan yaitu untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita dan mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan.

Semakin majunya peradaban dan meningkatnya pengetahuan, membuat pasien kusta lebih diperhatikan oleh pemerintah, sehingga pengobatan dan perawatan terhadap penderita mengalami tren yang positif. Bentuk perhatian pemerintah terhadap penderita kusta di Indonesia yaitu salah satunya dengan membangun rumah sakit khusus kusta. Ada beberapa rumah sakit kusta di Indonesia dengan pembagian wilayah binaan. Khusus untuk Regional Barat meliputi Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan bagian Barat merupakan wilayah binaan dari RS Kusta DR. Rivai Abdullah Palembang yang kini resmi berubah nama sebagai RSUP DR Rivai Abdullah sejak 2019. Rumah Sakit ini menjalankan program referal ke wilayah binaan dan menerima rujukan untuk kasus – kasus kusta dengan berbagai komplikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk rehabilitasi medik para penderita kusta yang mengalami kecacatan.  Di samping itu juga menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Kusta dan sosialisasi tentang pencegahan dan penanggulangan cacat kusta.

Mari hapuskan stigma negatif terhadap penderita kusta, mereka juga berhak untuk menjalani kehidupan seperti masyarakat pada umumnya. Masyarakat juga harus peka terhadap gejala – gejala penyakit yang mungkin timbul, mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Jangan malu untuk berobat, karena diagnosa dini dapat menurunkan resiko komplikasi dan kecacatan. Ingat, kusta dapat sembuh 100% dengan syarat menjalankan pengobatan dengan tuntas, gaya hidup bersih dan sehat, serta kepatuhan meminum obat.

Pasien kusta dengan ulcus plantar pedis.
Pasien kusta dengan kontraktur jari tangan.
Kelainan kulit pada penderita kusta tipe MB.
Kelainan kulit pada penderita kusta tipe PB.

 

Ira Septia Sari, AM.Kep Perawat Pelaksana RSUP DR Rivai Abdullah Palembang