Warga Tanjung Agung saat mengecek kondisi jembatan mereka yang putus akibat longsor, Jumat (31/1/2020).

PedomanBengkulu.com, Kaur – Sudah dua Minggu jembatan gantung penghubung antara Desa Tanjung Agung dengan Batu Cagak putus akibat longsor.

Putusnya jembatan gantung itu membuat puluhan anak dari wilayah Batu Cagak tidak dapat sekolah dan selain dari pada itu menurut Sukat Maja warga Tanjung Agung hasil bumi dari batu cagak tidak dapat dibawa keluar.

“Kami agak kebingungan sekarang anak-anak dari Batu Cagak tidak bisa sekolah dan saya selaku petani juga tidak bisa membawa hasil kebun apalagi sebentar lagi akan musim panen kopi,” demikian Sukat kepada PedomanBengkulu pada Jumat (31/1/2020) menerangkan.

Dari keterangan Sukat selama ini jembatan gantung yang ada merupakan hasil bangunan swadaya masyarakat dan ke depannya dia berharap supaya dibangun pemerintah daerah dengan kualitas yang lebih baik karena sudah empat kali jembatan itu rusak selain longsor juga hanyut dibawa arus sungai.

“Saat ini warga kami juga bingung tidak memiliki kepala desa karena sejak jabatan Kepala Desa lama sudah habis masa jabatannya hingga kini belum ada pejabat sementara, pernah ada yang ditunjuk pemerintah tapi ditolak masyarakat,” Sukat menambahkan.

Sementara Dinas terkait dengan hal tersebut yaitu Dinas PUPR Kaur saat dihubungi via telpon melalui Kepala Bidang Bina Marga Harianto Akbar belum dapat di hubungi. [Sirat]