Ilustrasi

Belum lama pasca kejadian jembatan maut di Kecamatan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur pada Minggu (19/1/2020), yang menelan korban sepuluh orang, kemarin terjadi kembali di Kelurahan Masat Kecamatan Pino Kabupaten Bengkulu Selatan, seorang kakek (70) dikabarkan terseret arus pada Senin (20/1/2020) sore.

Kabar duka memang tak berkesudahan bagi warga Bengkulu. Rentetan peristiwa terjadi pada sejak Januari 2020, dari mulai bunuh diri, banjir menjelang tahun baru di Seluma hingga terseret arus yang terjadi beberapa hari lalu.

Umur tak ada yang menyangka, kapan harus pergi, dimana terjadi, dan karena apa bisa terjadi. Berhati-hati adalah penting, namun terjadinya peristiwa hingga kabar duka tersebar dimana-mana tidak ada yang bisa meramalnya.

Sandaran agama menjadi hal utama untuk menguatkan hati agar siap menerima yang bakal terjadi, hari ini, besok, bulan depan, ataupun tahun depan.

Kerakusan, ketamakan, mengejar dunia menjadi hal yang tak menjadi penting. Kubur tak menerima harta kita, kecuali amal perbuatan kita. Dalam istilah “gajah meninggalkan gadingnya, manusia meninggalkan namanya”. Baik buruknya nama kita tergantung dari amalan-amalan yang kita lakukan semasa kita hidup.

Bertobat sebelum malaikat maut menjemput, berbuat baik setelah mengakui akan kesalahan. Bukan karena apa, berbuat buruk hanya membuat kita sengsara kemudian hari.

Umat semakin rusak semenjak manusia jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala dan hadirnya penindasan manusia atas manusia, bangsa atas bangsa, di atas kepentingan pribadi yang tak ada gunanya.

Dimulai dari zaman perbudakan, foedal, hingga kapitalisme yang merongrong setiap jiwa manusia, mengikuti hawa nafsu yang tak dibawa manusia di alam kuburnya.

Untuk anak cucu katanya, hingga melanggengkan kekuasaan untuk kesenangan dunia yang tak ada artinya, dunia yang sementara.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Sosialisme Islam, H.O.S. Tjokroaminoto sang guru bangsa, sumbu api di dalam gelap gulita harus diwujudkan. Teologi Pembebasan harus bergerap di setiap jiwa manusia.

Bergerak tanpa henti, menciptakan cinta damai di seluruh penjuru dunia.

Keadilan sosial di seluruh penjuru dunia harus diciptakan sekarang juga, itu yang disebut komunal modern.

Sulit, jika tak mampu bergerak bersama. Kesatuan hati adalah kuncinya, yang itu hanya bisa didapat ketika semua umat manusia berbondong-bondong amalkan agama, memakmurkan rumah-rumah ibadah masing-masing.

Memasuki zaman kapitalisme, dari barat timur harus ditumbangkan. Banyak contoh yang bisa dikatakan berhasil, Kuba misalnya. Mereka hidup dengan saling memuliakan terhadap sesama dan dengan itu, meski hanya bermodalkan cerutu, warga negara jadi sejahtera.

Negara kita kaya raya, minyak bumi, batu bara, emas terkandung di dalamnya. Tak ada yang sejahtera, hutang luar negeri justru menumpuk di mana-mana.

Gerakan sosial dan agama harus menyatu di dalamnya, untuk mewujudkan keadilan bersama, menuju rakyat yang merdeka, menghilangkan ketamakan dan ketakusan di dunia yang tak ada artinya di umur yang sementara.