Koordinator Latun Bengkulu Ari Anggoro

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Terhitung sejak bulan November 2019 hingga awal Januari 2020 sudah 25 ekor Penyu yang ditemukan warga dalam keadaan sudah menjadi bangkai di sepanjang pantai Bengkulu.

Dosen Kelautan Universitas Bengkulu sekaligus Koordinator Komunitas Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun) Bengkulu Ari Anggoro menyampaikan, penyebab matinya beberapa penyu di Bengkulu tepatnya di kawasan wisata Pantai Panjang dalam waktu dekat ini, bisa jadi dikarenakan limbah.

“Memang bisa dipastikan kematian penyu itu terjadi dikarenakan faktor kondisi laut yang sedang tidak sehat apalagi tercemar oleh limbah,” kata Ari Anggoro, Senin (6/1/2020).

Menurut Ari, kematian penyu juga bisa disebabkan oleh plankton yang beracun, apa saja yang bersifat racun tentu akan mematikan makhluk hidup disekitarnya.

“Seperti busa yang kemarin sempat heboh di perairan Pulau Tikus, busa itu juga tidak menutup kemungkinan adalah akumulasi dari kotoran-kotoran Plankton yang drop atau mati, Plankton itu juga bisa menjadi penyebab kematian biota laut, dikarenakan ada yang bersifat racun ada juga yang tidak,” ungkap Ari.

Diketahui, tepat pada hari Rabu (04/12/2019) 4 ekor penyu yang ditemukan dalam keadaan mati telah dilakukan pembedahan oleh tim dokter Erny Suyanti, kemudian diambil sampel untuk diuji penyebab kematian penyu tersebut.

Menurut Erny, pemeriksaan akan dilakukan kurang lebih selama 2 minggu. Setelah selesai baru akan diumumkan hasilnya apakah ada bahan racun yang menyebabkan kematiannya.

Hingga pergantian tahun berlalu, pihak pemerintah belum juga mengumumkan hasil pemeriksaan sampel tersebut, sedangkan dari pemeriksaan sementara, secara fisik ke 4 ekor Penyu tidak ditemukan bagian-bagian luar seperti luka, begitu juga di bagian organ dalamnya tidak ditemukan sampah plastik yang menggangu pencernaannya. [Mario]