Virus Corona. ALFRED PASIEKA/SCIENCE PHOTO LIBRARY.

Dunia tengah digemparkan dengan virus corona atau Novel 201 Coronavirus (2019-nCoV). CNN melansir, Selasa (28/01/2020), jumlah korban jiwa akibat virus yang pertama kali menyebar di Wuhan tersebut tercatat baru 106.

Otoritas di Tiongkok mengumumkan 132 orang tewas akibat virus corona, semuanya di daratan Tiongkok. Sebanyak 6.056 kasus terkonfirmasi ditemukan di seluruh negeri, dan lebih dari 70 kasus yang dikonfirmasi di luar Tiongkok, termasuk AS, Australia, Perancis, dan Jerman.

Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui sebuah pernyataan pers tertulis yang disampaikan langsung oleh Gubernur Bengkulu H Rohidin Mersyah telah mengambil kebijakan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap virus yang disebut-sebut berasal dari kelelawar dan ular berjenis krait dan kobra itu.

Diantaranya melakukan pencegahan masuknya virus tersebut melalui pintu masuk Bengkulu baik melalui bandara maupun pelabuhan, berkoordinasi melakukan pencegahan dan penanggulangan, menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di Rumah Sakit M Yunus (RSMY), melakukan penyuluhan kepada masyarakat, serta menyiapkan pengambilan dan pengelolaan spesimen melalui UPT Labkesda.

Kepanikan dunia atas menyebarnya virus mematikan ini sesungguhnya belum seberapa bila dibandingkan dengan syirik, sebuah virus yang menjangkiti mental manusia yang dapat menjerumuskannya dalam kehancuran hidup di dunia yang sementara dan akhirat selama-lamanya.

Syirik merupakan kemaksiatan manusia kepada Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Esa, sebuah dosa yang tak terampunkan, dan sebesar-besarnya kezaliman yang niscaya akan membuat kehidupan manusia dimanapun dan kapanpun akan sengsara dan merana.

Ketika manusia menyekutukan Allah Azza wa Jalla dan menyombongkan diri, maka lahirlah perbuatan-perbuatan hina dimana praktik pertambangan dan perkebunan dengan entengnya merusak alam, praktik perusahaan tanpa sungkannya melakukan praktik upah murah terhadap karyawan, praktik perdagangan dunia terjerumus dalam ketidakadilan global, praktik kebudayaan millenial terjebak dalam hedonisme, cabulisme, penuh kemaksiatan, serta praktik negara penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Akibat kesyirikan manusia terhadap Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang disebut di atas, sejatinya lebih banyak menjatuhkan korban jiwa dan kesusahan hidup di tengah-tengah manusia ketimbang virus corona. Kesyirikan merupakan fondasi turunnya bencana demi bencana, peperangan, virus demi virus, yang berkelanjutan selama manusia tidak kembali kepada Allah, menunaikan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Memakan hewan bertaring itu sendiri, seperti kalelawar dan ular, sebenarnya lebih dari 14 abad silam dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang diriwayatkan Muslim dari Ibn Abbas berkata “Rasulullah melarang setiap hewan buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar.”

Dus, ketika menyaksikan sendiri betapa cepatnya virus corona saat ini menjalar seharusnya menjadi alarm bagi dunia untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyusun kembali tata kelola dunia dengan keridaan-Nya, seadil-adilnya, tanpa penindasan bangsa atas bangsa, manusia atas manusia.

Azan sosial yang digemakan oleh Walikota Bengkulu Helmi Hasan agar seluruh pemimpin di dunia dapat memakmurkan rumah-rumah ibadah menjadi relevan, menjadi solusi paling tepat agar manusia terhindar dari kesyirikan demi kesyirikan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang kian merajelala di muka bumi saat ini.