IST/Alm. Qassem Soleimani dan Trump

Beberapa akhir ini dunia internasional dihebohkan dengan kabar perang Iran melawan Amerika Serikat (AS). Perang ini dipicu akibat Jenderal Qassem Soleimani, komandan pasukan elite Quds Iran, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Jumat 3 Januari 2020.

Terbunuhnya Qassem Soleimani langsung direspon oleh Iran dengan mengibarkan bendera merah di atas Masjid Jamkaran, di Kota Suci Syiah Qom, Iran yang disiarkan secara langsung dibeberapa stasiun televisi.

Arti Pengibaran Bendera Merah

Bendera merah dalam tradisi Syiah melambangkan darah yang tumpah secara tidak adil dan sebagai panggilan untuk membalas seseorang yang terbunuh.

Bendera merah pernah dikibarkan ketika Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang dibunuh pada pertempuran berdarah di Karbala (680 M). Hussein dikenal sebagai tokoh sentral dalam Islam Syiah.

Sejalan dengan tradisi Syiah, bendera itu hanya akan diturunkan begitu kematian Imam Hussain dibalas. Sementara saat ini, pengibaran bendera merah menggarisbawahi keseriusan seruan Iran untuk membalas kematian Kepala Pasukan Elit Quds, Qasem Soleimani.

Siapakah Qassem Soleimani?

Jenderal Qasem Soleimani merupakan komandan Pasukan Quds Iran, sayap eksternal Garda Revolusi Iran. Pria yang berumur 62 tahun ini dianggap sebagai salah satu jenderal terkemuka di Timur Tengah oleh AS dan sekutu.

Jenderal Qasem Soleimani dikenal secara diplomatis di dalam dan luar negeri karena memimpin pasukan Pengawal Revolusi Iran dan berperan penting dalam perang di Suriah dan Irak.

Karier kemiliteran Soleimani dimulai tak lama setelah Revolusi Iran pada tahun 1979. Ia bahkan turut serta dalam pembentukan Republik Islam Iran.

Selama perang dengan Irak dalam kurun waktu 1980 hingga 1988, Garda Revolusi Iran sukses meraih kekuatan politik dan ekonomi. Perang sengit itu juga membentuk karakter seorang Soleimani, pemuda yang berasal dari tenggara pegunungan Iran.

Pada akhir 1990-an, Soleimani diberi kendali atas Pasukan Quds, sayap Garda Revolusi Iran yang dikhususkan untuk urusan eksternal. Pasukan Quds memiliki sejarah panjang, termasuk membantu pendirian Hezbollah di Lebanon pada awal 1980-an. Di bawah kepemimpinan Soleimani, mereka memperluas pengaruh di wilayah tersebut.

Pengaruh Soleimani selaku pemimpin Pasukan Quds ini sangatlah besar, bahkan para analis menilai, ia adalah sosok tidak tergantikan di Iran.

Qasem Soleimani dan Timur Tengah

Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani dibenarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia menganggap Soleimani adalah terorisme dan seharusnya dilakukan sejak lama oleh AS.

Langkah Donald Trump yang mengarahkan untuk membunuh Kepala Pasukan Elit Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani tidak terlepas dengan kepentingan politik AS yang akan menggelar Pemilu pada 3 November 2020.

Langkah ini digunakan untuk menjegal pesaingnya, Joe Biden, di Pilpres 2020 dan merupakan jalan keluar untuk menyatukan rakyat Amerika di bawah propaganda nasionalisme chauvinisnya untuk memerangi Iran.

Propaganda nasionalisme chauvinis ini berkaitan dengan wilayah Timur Tengah, yang kaya dengan minyak dan benar-benar menggiurkan bagi imperialisme barat.

Timur Tengah merupakan penyumbang hampir setengah dari produksi minyak mentah dunia. Sedangkan Irak merupakan produsen terbesar kedua di antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Selanjutnya, AS mulai tergiur dengan minyak Timur Tengah usai perang dunia kedua. Mereka berusaha mencari jalan untuk turut mengangkangi kekayaan minyak kawasan itu.

Oleh sebab itu Jenderal Qasem Soleimani dianggap sebagai salah satu jenderal terkemuka di Timur Tengah oleh AS dan sekutu harus dibunuh. Dan ia juga adalah mata-rantai yang menghubungkan kepentingan Iran dengan berbagai kekuatan politik dan militer pro-Iran di Timur Tengah, terutama di Irak, Lebanon dan Suriah yang membahayakan bagi AS.

Jadi, pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani yang dianggap teroris hanyalah dalih dan tujuan sejati AS memerangi Irak adalah minyak.

Medi Muamar, HRD Pedoman Bengkulu