IST/Buya Hamka

Sejarah tidak henti-hentinya membuat kita mempelajari banyak hal dan membuka wawasan kita agar tergambar serpihan demi serpihan kehidupan sebelum kita. Tentang bagaimana dan seperti apa kehidupan para pendahulu dapat ditengok dalam sejarah.

Informasi, dalam kepingan sejarah sudah disebarkan sejak dahulu kala baik itu lewat cerita dari mulut ke mulut, lewat radio, lewat surat atau tulisan, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, penyebaran informasi yang tercatat dalam sejarah juga dilakukan lewat majalah. Panjimas adalah salah satu majalah yang pernah mengudara di Indonesia.

Untuk diketahui, pada 15 Juni 1959 Buya Hamka bersama tiga ulama besar dan cendekiawan Muslim lain, yakni KH Faqih Usman, Joesoef Abdullah Poear, dan HM Joesoef Ahmad, mendirikan Panji Masyarakat, atau biasa disingkat Panjimas.

Napas-napas Islam mewarnai Panjimas, sebab seperti yang kita tahu bahwa Buya Hamka merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia yang banyak melahirkan karya ilmiah yang berlandaskan Islam.

Dalam penelitian yang dilakukan Erna Laelawati dengan judul Perkembangan Pers Islam di Bandung (Telaah Terhadap Majalah Islamiyah Basa Sunda Bina Da’wah 1979-2004) pada tahun 2005, dituliskan bahwa Panjimas menyuarakan aspirasi dan aktivitas umat Islam, dalam hal ini majalah Panji Masyarakat menyampaikan ajaran-ajaran Islam ataupun informasi-informasi mengenai aktivitas umat Islam yang terjadi pada saat itu dengan berupa tulisan-tulisan yang dimuat dalam majalah tersebut.

Panjimas juga berdiri dengan tujuan untuk mempertahankan misi dan eksistensi Islam. Dan majalah ini berdiri dengan memperhatikan etika informasi dalam Islam selain kode etik jurnalistik.

Karena berada dalam lingkungan Islam, maka wartawan muslim diharapkan mampu mengemban misi yaitu sebagai mujahid (pejuang), mujaddid (pembaharu), mujtahid (intelektual), murabbi (pendidik), dan musaddid (pelurus-kolektor).

Begitulah sekilas tentang Majalah Panjimas yang bermaksud mempublikasikan ide, gagasan serta pemikiran para penulis dari berbagai kalangan yang dibangun dengan semangat membumikan ajaran Islam dan merangkul semua kalangan.

Dikutip dari hidayatullah.com, selain artikel-artikel yang menyuarakan perjuangan nilai-nilai keislaman, Panji Masyarakat juga mengangkat isu-isu kontemporer terkait bidang politik, sosial, ekonomi serta budaya.

Sepak terjang Panjimas di Indonesia penuh pasang surut, disebutkan dalam Buku Kronik Abad Demokrasi Terpimpin yang disusun oleh Koesalah Soebagyo Toer dengan cetakan pertama pada Februari 2016 tertulis bahwa Majalah ‘Panjimas’ memuat tulisan mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta berjudul ‘Demokrasi Kita’.

Karena ketatnya penyebaran informasi pada masa itu, maka tepat di bulan Mei 1960, pemerintah melarang terbit Majalah Panjimas karena memuat tulisan Mohammad Hatta tersebut.

Pelarangan terbit itu pun diberlakukan dikarenakan tulisan ‘Demokrasi Kita’ memuat kritik tajam terhadap pemerintahan Sukarno. Dan barulah pada 5 Oktober 1966 di bawah pimpinan Rusydi Hamka Panji Masyarakat terbit kembali.

“Sebagai korban dari orde lama yang tidak mengizinkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan menyatakan fikiran, setelah majalah ini terbit menjelang tahunnya yang kedua (1960), diapun diberangus, tidak boleh terbit lagi.”

Begitulah tulis Hamka, dalam edisi pertama Panji Masyarakat setelah breidel, tertanggal 5 Oktober 1966 dikutip dari nuun.id, dalam tulisan pengantarnya, Buya Hamka mengucapkan rasa syukur karena majalah yang menyuarakan suara rakyat ini dapat terbit kembali.

Lantas, kritik tajam seperti apa yang dilayangkan Bung Hatta pada pemerintah masa itu?

Dalam tulisannya tersebut, Mohammad Hatta menyoroti kinerja politik Presiden Sukarno yang tidak lain adalah sahabat karibnya sendiri. Bung Hatta menyampaikan kritik terhadap konsep Bung Karno mengenai demokrasi terpimpin.

Hatta menilai konsep tersebut telah mencederai demokrasi dan cita-cita bangsa Indonesia. Memang, dua proklamator ini telah lama menempuh persimpangan jalan yang berbeda, ditandai dengan mundurnya Bung Hatta dari jabatan Wakil Presiden pada tahun 1956.

Melansir berandadesa.com, kala itu Buya Hamka dan KH. Fakih Usman menemui Bung Hatta. Keduanya memohon kesedian Bung Hatta agar menyumbangkan karangan untuk diterbitkan di Panjimas, beliau pun mengabulkan permintaan keduanya. Sebelum artikel Demokrasi Kita, sebetulnya Bung Hatta juga telah menyumbangkan karya yang berjudul ‘Islam dan Sosialisme’.

Pada kesempatan lain, barulah Bung Hatta memberi kabar pada Buya Hamka bahwa dia memiliki sebuah karangan penting. Namun sebelum menyerahkan karangan tersebut, beliau mengajukan pertanyaan pada Buya Hamka.

“Berani tidak memuatnya?” tanya Bung Hatta.
Dijawablah oleh Buya Hamka “berani.”

Tiga setengah bulan kemudian Presiden Sukarno mengecamnya tepat di hari peringatan Kemerdekaan RI ke 15.

Berikut ini petikan dari artikel Demokrasi Kita tulisan Bung Hatta, yang dimuat Majalah Panji Masyarakat.

“Apa yang terjadi sekarang ialah KRISIS dari pada demokrasi. Atau demokrasi di dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki lambat laun akan digantikan oleh diktatur. Ini adalah hukum besi dari pada sejarah dunia! Tindakan Sukarno yang begitu jauh menyimpang dari dasar-dasar konstitusi adalah akibat dari pada krisis demokrasi itu. Demokrasi dapat berjalan baik, apabila ada rasa tanggungjawab dan toleransi dari pemimpin-pemimpin politik. Inilah yang kurang pada pemimpin-pemimpin partai seperti telah berkali-kali saya peringatkan,”

Begitulah pemikiran Bung Hatta yang tertuang dalam tulisannya. Hal ini menjadi bukti bahwa pers di masa itu sangat terbatas sekali pergerakannya.

Dan dengan adanya sejarah kita menjadi tahu. Bung Hatta juga pernah berpesan bahwa sebagai bangsa kita harus mempelajari peristiwa sejarah. Kesalahan-kesalahan kita pelajari dan kembali kepada ideologi negara disertai dengan kemurnian jiwa.

Meskipun Bung Hatta dan Bung Karno sedikit berbeda pandangan, tapi dalam hal ini mereka sama. Bukankah kita tahu bahwa Bung Karno pernah mengatakan “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!” dan lewat Majalah Panjimas serta tulisan Bung Hatta, sejarah kembali mengajarkan banyak hal; salah satunya kita harus bersyukur bahwa hari ini, saat ini, kita diberi kebebasan untuk memberikan kritik pada pemerintah dengan tidak menggoreskan ujaran kebencian. Sebab sejatinya kritik adalah hal yang membangun. [Ivana]