Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Yuliswani saat memberikan keterangan kepada pers, Jumat (31/1/2020).

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu melalui konferensi pers yang diadakan di Ruangan Media Center Provinsi Bengkulu menjelaskan adanya kematian 28 penyu secara beruntun sejak April 2019 lalu bukan dikarenakan oleh limbah PLTU.

Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Yuliswani mengatakan, tidak ada indikasi yang mengarahkan bahwa kematian penyu di Pantai Panjang disebabkan oleh limbah.

“Hasil lab menunjukkan bahwa kematian penyu disebabkan oleh infeksi bakterial suspect Salmonellosis dan Clonstridisosis. Artinya kematian itu bukan karena limbah yang diduga-duga selama ini,” jelas Yulsiwani, Jumat (31/1/2020) pagi.

Hal itu diungkapkannya berdasarkan surat Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor Nomor : B/16/PK.310/H.5.1/01/19/538, di dalam surat tersebut menjelaskan bahwa kematian 28 penyu diakibatkan oleh bakteri yang menyerang sebagian besar penyu yang mati di perairan Pantai Panjang.

Kematian penyu itu juga ditegaskan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah melakukan penelitian dengan mengambil sampel air di sepuluh titik pada sepanjang Pantai Kota Bengkulu. Hasil pemeriksaan limbah air bahang yang masih dibaku normal.

Selain itu, hasil dari penelitian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menunjukkan keadaan suhu muka laut dengan penyimpangan (anomali) dingin di sebelah barat Bengkulu yang terjadi antara bulan September hingga awal Desember (kurang dari normalnya sebesar 0.5° – 3° C).

Dalam konferensi pers tersebut dihadiri Kepala BKSDA Bengkulu, Asisten II Pemrov, Kadis DLHK Provinsi Bengkulu dan Kepala Stasiun BMKG Pulai Baai untuk menegaskan penyebab kematian penyu. [Mario]