Ilustrasi banjir. IST/Sindonews.

Sebagian besar mata publik memang tengah tertuju ke Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta yang mengalami banjir besar persis saat pergantian tahun 2019 ke 2020. Namun di Bengkulu, duka yang sama juga dirasakan oleh sebagian masyarakat.

Di Seluma, hujan yang melanda di penghujung hingga pergantian tahun membuat banjir merendam banyak rumah warga, listrik padam dan sawah sawah gagal panen. Sementara di Kabupaten Lebong, banjir merendam puluhan hektar lahan persawahan warga.

Ada kemiripan antara banjir di Lebong maupun Seluma. Keduanya disebabkan oleh meluapnya air di sungai atau bendungan.

Kondisi yang sama dialami Kota Bengkulu pada April 2019, dimana hujan deras yang turun membuat Sungai Bengkulu meluap dan nyaris merendam seluruh kawasan yang melintasi sungai tersebut.

Saat itu, sebanyak 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, 12.000 warga mengungsi dan 13.000 terdampak akibat banjir yang disinyalir sebagai yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana, namun langkah antisipasi terhadap banjir ini seakan-akan tidak pernah dilakukan dengan serius.

Kita seakan gagap setiap kali bencana terjadi. Sibuk saling mencari kambing hitam mengenai siapa yang bersalah, dan pura-pura lupa bahwa begitu banyak oknum yang mengejar pertumbuhan ekonomi dan investasi, namun cuek dengan lingkungan yang menopang kehidupan manusia ini.

Maka sudah seharusnya pihak-pihak terkait dalam penanganan banjir ini mulai memikirkan secara seksama langkah apa yang harus diambil untuk menanggulangi dan menuntaskannya agar tidak terulang kembali.

Pembenahan lingkungan di hulu sungai atau bendungan serta wacana pembangunan waduk di hilir sungai khususnya di kawasan langganan banjir sebagaimana pernah diwacanakan hendaknya dikerjakan dengan segera.

Pemberantasan terhadap perambah hutan, penambangan liar, illegal logging, dan semua yang memicu terjadinya banjir, longsor, kebakaran hutan serta bencana lainnya jangan hanya gertak sambal, penindakan mesti seiring sejalan dengan pembangunan waduk yang dapat menampung debit air yang besar saat curah hujan tinggi turun di Bumi Rafflesia.

Kerugian harta dan nyawa akibat banjir tidak akan lebih besar dengan usaha-usaha yang serius dalam melakukan langkah-langkah antisipasi. Sebab, kesejahteraan yang sesungguhnya adalah menghilangkan rasa was-was dalam sanubari rakyat akan bencana demi bencana yang menimpa mereka.

Namun bila usaha ini masih juga tak pernah diperhatikan, maka rakyat hendaknya memeriksa dengan sungguh-sungguh visi misi serta jejak rekam para calon kepala daerah dalam pemilihan serentak yang akan berlangsung pada tahun 2020 ini.

Bila mereka tak memiliki visi misi lingkungan yang nyata dalam menanggulangi persoalan banjir ini, lebih baik nama-nama mereka ditenggelamkan bersama sogokan-sogokan janji manis yang mereka umbar.