PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), dan peggiat HAM Bengkulu serta Puluhan aktivis lainnya menggelar nonton bersama (Nobar) dan diskusi tentang film dokumenter “The Bajau” karya Watchdoc. Film Dokumenter The Bajau ini berlangsung di Bombaru Bar dan Resto pada Minggu (12/1/2020) sore.

Bidang Advokasi Aji Bengkulu, Firmansyah mengatakan, di Bengkulu khusus dunia jurnalistik, sangat jarang sekali media yang mengekspos peradaban suku anak dalam yang termarjinalkan, seperti film “The Bajau” ini.

“Mereka ini masyarakat atau kelompok yang termarjinalkan, terpinggirkan, yang tidak memiliki akses kepemerintahan sehingga mereka ini selalu tertindas dan jarang sekali muncul di media-media pemberitaan,” ungkap Firmansyah.

Jurnalis, ungkap Firmansyah, mempunyai dua sisi, sisi ingin mempertahankan idealisnya dan sisi yang mempunyai kepentingan lainnya.

“Pada umumnya, suku Anak dalam atau masyarakat adat seringkali dibenturkan dengan administrasi negara,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur AMAN Bengkulu, Defftri. Menurutnya, kejahatan ini seperti mereka dianggap sebagai perambah hutan. Padahal, menurutnya, perambah hutan terbesar di Indonesia adalah perusahaan-perusahan yang didukung oleh pemerintah atau perorangan.

“Coba, mana jahatnya masyarakat yang merambah hutan atau perusahaan-perusahan yang perambah hutan,” jelas Defftri.

Ia menjelaskan, ini semua terjadi akibat instansi pemerintah yang terkait tidak saling berkoordinasi sehingga merugikan masyarakat adat.

Berdasarkan rilis yang tersebar pada November 2014, lebih kurang 500 masyarakat Bajau (Bajo) ditangkap aparat Indonesia di Kalimantan Timur. Alasan mereka ditangkap, Defftri mengungkapkan, karena mereka tak memiliki identitas kewarganegaraan dan dianggap nelayan asing yang mencuri ikan di Indonesia.

“Padahal selama berabad-abad, mereka adalah suku pengelana laut yang telah mendiami perairan antara Malaysia, Indonesia, dan Filipina, jauh sebelum ketiga negara ini ada dan membuat batas-batas administrasi dan politik,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri selama beberapa dekade, lanjutnya, membuat program memukimkan orang-orang Bajau ke daratan, agar memiliki identitas dan alasan-alasan lain. Namun, benarkah permukiman permanen lebih mereka butuhkan daripada laut dan terumbu karang yang sehat?

“Dan ini, sebuah keluarga Bajau yang pernah difilmkan 13 tahun lalu direkam kembali oleh film yang berdurasi satu jam lebih untuk melihat perubahan kehidupan mereka setelah dimukimkan oleh negara dan menjalani peradaban darat,” jelasnya.

Diketahui, ngobrol santai serta nonton bareng ini dilanjutkan dengan tanya jawab dan membuka donasi yang akan disumbangkan bagi warga Bajo yang membutuhkan. [Soprian]