Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu merilis pertumbuhan ekonomi di Bengkulu pada 2019 lalu mengalami perlambatan sebesar 4,96 persen atau lebih rendah 0,03 persen dibandingkan 2018 yang tercatat sebesar 4,99 persen.

Laju pertumbuhan ekonomi ini menurun karena disebabkan adanya inflasi di Provinsi Bengkulu yang mengalami kenaikan. Sehingga berimbas pada ekonomi Bengkulu khususnya sektor usaha primer diantaranya CPO, batubara dan karet.

Anggota Komite II DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief meminta pemerintah Provinsi Bengkulu untuk dapat mengambil kebijakan yang tepat, agar tahun 2020 dapat meningkat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Pemerintah Provinsi harus ada upaya dalam pengambilan kebijakan yang tepat sasaran, sehingga kita dapat mengendalikan inflasi dan meningkatkan daya saing daerah, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Bengkulu,” ungkap Riri Damayanti kepada media, Selasa (11/1/2020).

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana BKKBN Provinsi Bengkulu ini mengingatkan pentingnya kestabilan harga dalam masyarakat, maka langkah-langkah atau cara mengatasi inflasi sangat diperlukan.

Seperti kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran anggaran pemerintah, meningkatkan hasil produksi, mempermudah masuknya barang impor, menstabilkan pendapatan masyarakat, menetapkan harga maksimum, serta melakukan pengawasan dan distribusi barang.

“Jika itu dilakukan, saya optimis ekonomi Bengkulu akan membaik. Dan ini menjadi motivasi kita bersama untuk meningkatkan dan memaksimalkan serta menjamin keterjangkauan harga pangan, ketersedaan stok pangan, dan kelancaran distribusi pangan kepada masyarakat dengan lebih baik,” kata Riri Damayanti.

Diketahui, berdasarkan besaran Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Bengkulu tercatat pada Desember 2019 sebesar 0,59 persen (mtm) dan 2,91 persen (ytd) serta 2,91 persen (yoy).

Lalu Inflasi IHK secara Nasional sebesar 0,34 persen (mtm) dan 2,72 persen (ytd) serta 2,72 persen (yoy). Inflasi Bahan Makanan Bengkulu sebesar 0,03 persen (mtm) dan 4,74 persen (ytd) serta 4,74 persen (yoy).

Andil Komoditas Penyumbang Inflasi Bengkulu dipengaruhi beberapa hal diantaranya, angkutan udara (0,3634), daging ayam ras (0,0702), bawang merah (0,0574), bayam (0,0508) dan bahan bakar rumah tangga (0,0464). Kemudian sektor komoditas penyumbang deflasi Bengkulu meliputi, cabe merah (-0,0821), ikan tongkol / ambu-ambu (-0,0262), apel (-0,0228), sawi hijau (-0,0199) dan buncis (-0,0149). [Muhammad Qolbi]