PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menargetkan 25 persen penduduk ikut berpartisipasi dalam sensus penduduk online. Sensus penduduk online ini berlangsung sejak 15 Februari lalu sampai 31 Maret pukul 23.59 WIB.

Penerapan metode baru ini sengaja dipilih BPS untuk melakukan hajatan besar 10 tahunan. Alasannya untuk mempercepat proses pengolahan data oleh server.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu Dyah Anugerah Kuswardani menerangkan bahwa pendataan manual memiliki resiko lebih tinggi. Selain itu, sistem online merupakan cara praktis menghindari kesalahan data.

“Mencatat kertas, belum tentu catatan rapih dan sebagainya. Pengolahan datanya jadi lebih lama,” kata Dyah, Senin (17/2/2020).

Untuk saat ini belum ada kendala dalam pendataan, namun terkait akurasi data, Dyah menyebut kuncinya pada kejujuran masyarakat dalam menjawab setiap pertama. Kejujuran jadi kunci kualitas hasil sensus penduduk.

“Saat ini belum ada kendala sama sekali, namun perlu diingat, tingkat kesalahan ada di sana (masyarakat),” sambung Dyah.

Walaupun digencarkan dengan sensus secara online, BPS tetap menggunakan cara lama dengan wawancara. Adapun resiko human eror tetap bisa terjadi dengan metode apa saja. Kemungkinan terjadinya salah data bisa dari masyarakat yang berbohong, atau petugas sensus yang salah melakukan pengisian.

Lanjutnya, BPS sendiri telah bekerja sama dengan para ahli IT. Sensus online ini akan menjaga kerahasiaan data penduduk. Bisa terlihat dari proses mengisi data diawali dengan mengisi captcha. Kemudian membuat kata sandi dan membatasi tiap NIK hanya bisa mengakses dua kali sistem tersebut.

“Kalau data sudah ada di BPS, kami jamin kerahasiaannya. Kami jamin data individu tidak akan hilang,” pungkas Dyah. [Mario]