Ilustrasi

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Indonesia baru saja kehilangan tokoh bangsa yang berjasa dalam memperjuangkan nilai pluralisme dan demokrasi. Dia adalah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Anggota Komite II DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief meyakini mantan Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) tahun 2001-2003 ini menghadap ilahi dalam keadaan husnul khotimah.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ikut berduka atas meninggalnya Gus Sholah. Saya menaruh hormat atas kepergian beliau sebagai salah satu tokoh bangsa yang penting dalam perjuangan mewujudkan Indonesia yang toleran,” kata Riri Damayanti.

Semasa hidup, Gus Sholah pernah mendedikasikan dirinya sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Dengan sikapnya yang penuh welas asih, Gus Sholah ikut berperan aktif menyelesaikan konflik demi konflik yang terjadi di NKRI seperti di Ambon dan Poso.

“Perdamaian yang dirasakan bangsa Indonesia saat ini salah satunya terjaga berkat sumbangsih beliau (Almarhum Gus Sholah, red). Semoga amal, ibadah, dan pengabdian Gus Sholah mendapat ganjarah berlimpah dari Allah subhanahu wa ta’ala,” ujar Riri Damayanti.

Sebagai tokoh muda Bengkulu, Wakil Bendahara Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini menyampaikan bela sungkawa dan berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.

“Almarhum adalah panutan. Bukan hanya komunitas Nahdliyin di Bengkulu, tapi keluarga besar DPD RI ikut merasa kehilangan. Semoga setelah beliau lahir kembali tokoh-tokoh teladan yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi generasi muda dalam mewujudkan Indonesia yang plural dan mengayomi,” demikian Riri Damayanti.

Untuk diketahui, Gus Sholah meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Minggu (2/2) pukul 20.55 WIB.

Data terhimpun, jenazah Gus Sholah akan dimakamkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Lahir di Jombang pada 11 September 1942, Gus Sholah merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari.

Selain dikenal sebagai ulama besar, adik kandung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu juga dikenal sebagai politisi, tokoh HAM, hingga arsitek.

Ia pernah memimpin Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat ITB (1964-1966), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), dan Ketua Departemen Konsultansi Manajemen Kadin (1994-1998).

Sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat (PKU) pada 1998-1999 ia pernah menjabat sebagai Ketua PBNU pada tahun 1999-2004. [Muhammad Qolbi]