IST/Walikota H Helmi Hasan dan Gubernur H Rohidin Mersyah mengapit Presiden H Joko Widodo saat mengunjungi Bengkulu, tahun lalu.

Langsung dipimpin Gubernur Bengkulu H Rohidin Mersyah, Rabu (29/1/2020), Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar rapat untuk mematangkan konsep penyambutan Presiden Republik Indonesia H Joko Widodo ke Bumi Rafflesia.

Pada periode pertama menjabat sebagai presiden, Jokowi juga telah tiga kali menginjakkan kakinya di Bengkulu untuk melihat kondisi Pasar Panorama, Pelabuhan Pulau Baai dan menghadiri Sidang ke-51 Tanwir Muhammadiyah.

Dalam setiap kunjungannya ke Bengkulu, meski belum semua terealisasi dengan baik, Presiden Jokowi selalu menjanjikan kebijakan yang berpihak kepada rakyat Bengkulu seperti revitalisasi Pasar Panorama dan sertifikasi lahan hunian nelayan di Pulau Baai yang berdampingan dengan lahan PT Pelindo II Cabang Bengkulu.

Tak hanya itu, Presiden Jokowi juga meninjau dan menjanjikan rencana pembangunan sejumlah proyek strategis bidang infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang kemajuan Bengkulu seperti jalan tol dan pelabuhan, dan kereta api.

Namun dalam rencana kunjungan kali ini, mantan Gubernur DKI yang akrab disapa Jokowi itu direncanakan akan hadir dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-97 Ibu Agung Fatmawati yang jatuh pada 5 Februari 2020.

Peringatan itu menjadi penting, bukan hanya karena akan diresmikannya patung fenomenal Sang Ibu Agung, namun lebih-lebih karena akhir-akhir ini banyaknya fenomena maraknya kaum perempuan di Bengkulu yang menjadi korban kekerasan atau ditemukan tewas bunuh diri.

Fenomena kekerasan dan bunuh diri yang terjadi beruntun itu menjadi potret betapa ada masalah terhadap mental masyarakat yang akhir-akhir ini semakin terhimpit oleh berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan budaya yang ditimbulkan akibat kebijakan neoliberalisme.

Maraknya kekerasan dan bunuh diri di Bengkulu ini juga ibarat fenomena gunung es dari seluruh kasus yang ada di Indonesia yang secara pasti bertolakbelakang dengan cita-cita mulia yang pernah diperjuangkan oleh Ibu Agung Fatmawati untuk perempuan Indonesia.

Ini juga menjadi pertanda usaha revolusi mental yang dahulu pernah populer dan dipopulerkan oleh Presiden Jokowi ketika menjadi calon presiden periode pertama sangat diperlukan untuk mengembalikan roh optimisme dalam sanubari rakyat.

Dan untuk melakukan revolusi mental itu sebenarnya presiden tak perlu lagi mencari-carinya dalam sesuatu yang lain di luar agama, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan dalam Undang-Undang kehidupan bahwa optimisme, kebahagiaan dan kesejatian hidup manusia sejak pertama kali tercipta di dunia hingga kelak bumi ini binasa hanya dalam amalan agama.

Ibu Agung Fatmawati sendiri, seperti penuturan Bung Karno kepada Cindy Adams (1966:185-198), merupakan sosok perempuan yang meski usianya baru mengijak umur 15 tahun telah menjadi teman diskusi Bung Karno dalam soal-soal agama, terutama mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, bahkan masalah gender dalam pandangan Islam.

Revolusi mental melalui amalan agama secara sempurna ini dapat Presiden Jokowi mulai dari rumah-rumah ibadah, menjadikannya sebagai sentral perbaikan moral rakyat sekaligus ruang bagi rakyat untuk menyelesaikan masalah-masalah hidupnya di berbagai bidang yang hari ini tidak hanya disusahkan hidupnya melalui soal-soal ekonomi, sosial dan budaya, namun juga tertekan melalui berbagai bencana yang terus terjadi.

Untuk tujuan revolusi mental melalui usaha memakmurkan rumah-rumah ibadah itu Presiden Jokowi dapat merangkul berbagai elemen masyarakat yang hari ini muncul di Bengkulu melalui fenomena hijrah, menyeret kepala daerah, kepolisian, tentara, akademisi, tokoh masyarakat, jurnalis, bahkan para preman yang tubuhnya penuh dengan tato menjadi orang-orang yang memakmurkan rumah-rumah ibadah dengan ikhlas dan rasa cinta yang besar kepada semua insan ciptaan Tuhan agar menjadi orang-orang taat.

Memang, revolusi mental melalui usaha memakmurkan rumah-rumah ibadah ini bukan hal baru. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, mantan Presiden Soeharto pernah memberikan pesan khusus mengenai hal ini ketika meresmikan Masjid Agung At-Taqwa Anggut Atas agar pembangunan masjid harus ditujukan sebagai jalan untuk secara sungguh-sungguh berusaha membangun kehidupan agama sebagai jalan membangun bangsa secara keseluruhan.

Masjid itu sendiri diharapkan dimakmurkan bukan hanya dengan ibadah, namun juga dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pembangunan.