Edi Hartawan selaku Kepala Biro Kesejahteraan Masyarakat (Karo Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Bengkulu

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Tim Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu kembali memeriksa pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu yaitu Edi Hartawan selaku Kepala Biro Kesejahteraan Masyarakat (Karo Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Bengkulu, Senin (3/2/2020).

Sebelumnya dua orang pejabat juga telah diperiksa penyidik yaitu Mujianto selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Biro Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Provinsi Bengkulu dan Gazali S.Sos selaku Kepala Bagian Kerukunan Umat Beragama, Sosial, Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi.

Berdasarkan data terhimpun, para pejabat tersebut diperiksa untuk dimintai klarifikasi terkait adanya indikasi dugaan korupsi pada kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Bengkulu Ke-XXIV Tahun 2019 di Kabupaten Mukomuko. Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada 7 Oktober hingga 12 Oktober 2019 itu menggunakan dana sekitar 11 miliar lebih dengan rincian 10 miliar rupiah dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mukomuko dan 1,1 miliar dari dana APBD Provinsi Bengkulu tahun 2019.

Usai menjalani pemeriksaan Karo Kesra Setda Provinsi Bengkulu, Edi Hartawan saat diwawancarai oleh awak media enggan memberikan keterangan terkait hal tersebut dan menyerahkan sepenuhnya dengan penyidik.

“Tanya saja sama penyidik,” singkat Edi Hartawan sembari menuju mobilnya.

Sebelumnya, Gazali, S.Sos selaku Kepala Bagian Kerukunan Umat Beragama, Sosial, Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi mengatakan kedatangannya ke Kejati Bengkulu dimintai klarifikasi mengenai kegiatan MTQ Tingkat Provinsi Bengkulu Ke-XXIV Tahun 2019 di Kabupaten Mukomuko tersebut.

“Iya klarifikasi (terkait MTQ, red),” kata Gazali.

Ketika ditanya terkait penggunaan dana pelaksanaan itu sendiri bagaimana dan apakah murni dana APBD Provinsi Bengkulu, kemudian apakah ada dana dari Kabupaten atau pusat, Gazali mengaku tidak tau dirinya hanya sekedar dimintai keterangan saja.

“Tidak tahu juga, kita kan cuma sekedar dimintai keterangan, dipanggil saja. Baru kali ini (dimintai keterangan, red),” Gazali. [Anto]