Pedomanbengkulu.com, Bengkulu – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di Bengkulu pada 2019 lalu mengalami perlambatan sebesar 4,96 persen atau lebih rendah 0,03 persen dibandingkan 2018 yang tercatat sebesar 4,99 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu melalui Deputi Bidang Ekonomi dan Moneter, Rifat Pasha, dalam Konferensi Pers dengan awak media, Senin siang (10/02/2020), menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi menurun, akibatnya inflasi di Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan.

“Laju pertumbuhan perekonomian ini turunnya sedikit, dan itu sebenarnya disebabkan dampak ekonomi global sehingga berimbas pada iklim ekonomi Bengkulu khususnya sektor usaha primer diantaranya CPO, batubara dan karet,” jelasnya.

Lanjutnya, besaran Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Bengkulu tercatat pada Desember 2019 sebesar 0,59% (mtm) dan 2,91% (ytd) serta 2,91% (yoy). Lalu Inflasi IHK secara Nasional sebesar 0,34% (mtm) dan 2,72% (ytd) serta 2,72% (yoy). Inflasi Bahan Makanan Bengkulu sebesar 0,03% (mtm) dan 4,74 % (ytd) serta 4,74% (yoy).

Andil Komoditas Penyumbang Inflasi Bengkulu dipengaruhi beberapa hal diantaranya, angkutan udara (0,3634), daging ayam ras (0,0702), bawang merah (0,0574), bayam (0,0508) dan bahan bakar rumah tangga (0,0464). Kemudian sektor komoditas penyumbang deflasi Bengkulu meliputi, cabe merah (-0,0821), ikan tongkol / ambu-ambu (-0,0262), apel (-0,0228), sawi hijau (-0,0199) dan buncis (-0,0149).

“Mudah-mudahan dari release perkembangan ekonomi di Bengkulu ini bisa menjadi referensi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan, agar tahun ke depan bisa meningkatkan laju perekonomian Provinsi Bengkulu,” harapnya. [Mario]