Pada tahun ini akan diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 sebagai tolak ukur kemajuan suatu daerah. Harapannya, melalui Pilkada ini terpilih pemimpin yang mampu mengemban amanah sehingga dapat menjadi wakil aspirasi daerahnya masing-masing.

Tren demokrasi yang marak menjelang pemilihan selalu menjadi fenomena menarik. Dengan kata manis, janji, dan harapan menjadi kata kunci “pilih saya” sebagai pemimpin dan wakil Anda. Tidak sedikit mereka yang harus mengeluarkan modal besar hanya untuk mencari kekuatan massa, gengsi, dan sensasi bercampur dengan rasa percaya diri.

Melihat kondisi seperti ini, pemimpin yang terpilih pada Pilkada tahun 2020 hendaknya bisa mempelajari dan meneladani kesuksesan kepemimpinan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengedepankan akhlak mulia. Hal ini diakui oleh Husain bin Ali sebagai cucu Rasulullah.

Nabi Muhammad adalah pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Selain itu dilansir dari berbagai sumber, terdapat empat sifat Rasulullah yang menjadi kunci kesuksesan kemimpinan beliau, yaitu:

1. Siddiq (bersikap jujur)

Jujur untuk menghargai orang lain, jujur untuk mengakui kesalahan dan kekurangan, serta jujur dalam menyampaikan fakta dan kebenaran. Rasullah bersabda,“Bersikap jujurlah karena kejujuran akan mengantarkan orang pada kebaikan dan kebaikan menunjukkan jalan ketakwaan.” (waj’alnaa lilmuttaqiina Imaama).

2. Amanah (dapat dipercaya)

Demikian pula keberhasilan dakwah dan penyebaran Islam karena Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam amanah dalam mengemban risalah Ilahiah. Dalam surat an Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

3. Tabliq (mengomunikasikan pesan kebenaran)

Qulil haqqo walau kaana murron.” Sampaikanlah olehmu kebenaran itu meskipun pahit. Tentunya sifat seorang pemimpin wajib memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Tegas dan lugas dalam menerapkan supremasi hukum dan keadilan.

4. Fathonah (intelek dan cerdas)

Kecerdasan Rasulullah membaca hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi saat itu melahirkan ide gemilang menuju perubahan masyarakat. Keputusan jihad dan hijrah merupakan kompilasi dari kecerdasan Rasulullah.

Penyatuan umat yang terpecah karena suku dan kabilah membutuhkan strategi jitu. Fakta kejeliaan dalam menempatkan pemimpin sebagai pelaku perubahan masyarakat saat itu (agent of change) menjadi bukti intelektualitas Nabi sebagi pemimpin visioner.

Di masa sekarang, terkhususnya di Bengkulu sedang hangat pemberitaan tentang Pilkada 2020. Para calon pemimpin yang menyatakan dirinya maju hendaklah meneladani sifat Rasulullah, dan tentu hendaklah takut pada Yang Maha Kuasa agar dalam kepemimpinannya kelak bisa menghindari apa-apa yang dilarang oleh Allah. [Suci]